Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

4 Fakta Misi Juno, Penelitan Bersejarah NASA ke Planet Jupiter

4 Fakta Misi Juno, Penelitan Bersejarah NASA ke Planet Jupiter
ilustrasi pesawat antariksa Juno dan planet Jupiter (commons.wikimedia.org/NASA)
Intinya Sih
  • Juno, wahana antariksa tanpa awak milik NASA, diluncurkan pada 2011 dan mencapai orbit Jupiter pada 2016 dengan tenaga surya serta membawa instrumen canggih untuk meneliti planet gas raksasa tersebut.
  • Misi Juno berhasil mengungkap misteri aurora Jupiter yang memancarkan sinar X akibat fluktuasi medan magnetnya, memberikan pemahaman baru tentang fenomena aurora di planet terbesar tata surya.
  • Selain memotret jarak dekat bulan Ganymede pada 2021, misi Juno diperpanjang hingga 2025 dan masih aktif mengirimkan data penting termasuk temuan partikel berenergi tinggi di sekitar Jupiter.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Ruang angkasa dan sistem tata surya merupakan subyek yang terus memancing rasa ingin tahu manusia untuk melakukan eksplorasi dan penelitian dalam menguak tabir misteri alam semesta yang masih belum terpecahkan. Salah satu pencapaian terbesar manusia dalam misi deep space adalah pendaratan pertama manusia di bulan pada tahun 1969 dalam misi Apollo 11 dan peristiwa tersebut menjadi salah satu tonggak bersejarah untuk melakukan penelitian lanjutan terhadap planet-planet lainnya di sistem tata surya kita.

Tahun 2026 ini adalah tahun ke-10 bagi pesawat antariksa tanpa awak Juno berada di orbit planet terbesar dalam sistem tata surya kita: Jupiter. Ia diluncurkan pada tanggal 5 Agustus 2011 dan mencapai orbit Jupiter setelah 5 tahun perjalanan di bulan Juli 2016. Meskipun Juno bukanlah wahana antariksa pertama yang pernah berada di dekat Jupiter, namun  misi Juno merupakan penelitian bersejarah NASA ke planet tersebut yang berhasil menyingkap sejumlah fakta yang sebelumnya menjadi misteri dari planet gas "raksasa" tersebut.

Ingin tahu lebih lanjut mengenai misi Juno yang berhasil menyingkap sejumlah tabir planet terbesar di sistem tata surya kita ini, simak empat fakta menariknya berikut ini, yuk!

1. Wahana antariksa canggih: Juno

potret roket Atlas V yang membawa wahana antariksa Juno ke ruang angkasa, ketika siap diluncurkan di tahun 2011 silam
potret roket Atlas V yang membawa wahana antariksa Juno ke ruang angkasa, ketika siap diluncurkan di tahun 2011 silam (commons.wikimedia.org/NASA)

Menurut laman NASA, Juno adalah sebuah pesawat antariksa tanpa awak milik NASA yang diluncurkan pada tanggal  5 Agustus 2011 yang lalu untuk meneliti planet Jupiter. Dalam mitologi Romawi kuno, Juno adalah nama istri Dewa Jupiter. Ketika Jupiter membuat kekacauan, dia akan bersembunyi di balik awan sehingga tak ada yang dapat melihatnya, namun Juno bisa melihatnya dari balik awan. Setelah perjalanan selama 5 tahun wahana antariksa Juno berhasil mencapai orbit Jupiter pada bulan Juli 2016. Pada tahun 2016 silam, Juno adalah salah satu wahana antariksa tercepat yang dimiliki NASA.

Berbeda dengan pesawat antariksa sebelumnya yang menggunakan tenaga nuklir, Juno menggunakan cahaya matahari sebagai sumber tenaga penggeraknya karena saat itu terjadi kelangkaan pada Plutonium-238 yang digunakan sebagai baterai generator wahana antariksa. Saat itu, 3 panel surya yang digunakan Juno adalah panel terbesar  yang pernah diletakkan dalam sebuah pesawat antariksa antar planet. Instrumen canggih diusung oleh Juno untuk meneliti planet raksasa ini, salah satunya instrumen perekam gambar yang telah berhasil mengirimkan citra spektakuler mengenai planet ini.

2. Berhasil memecahkan misteri cahaya aurora Jupiter

potret aurora Jupiter yang difoto oleh teleskop Hubble di tahun 2016
potret aurora Jupiter yang difoto oleh teleskop Hubble di tahun 2016 (commons.wikimedia.org/NASA Hubble)

Di planet Bumi, aurora adalah cahaya indah alami yang dapat dilihat di garis lintang tinggi baik di dekat Kutub Utara (Aurora Borealis) maupun Kutub Selatan (Aurora Australis). Dilansir Earthsky, aurora di bumi terbentuk dari interaksi antara partikel matahari dengan atom dan molekul-molekul yang terdapat di atmosfer Bumi serta dipengaruhi oleh medan magnet Bumi. Mengutip informasi dari NASA, terdapat 7 planet dalam sistem tata surya yang  terdeteksi memiliki aurora, dengan tambahan 1 bulan Jupiter yang bernama Ganymede juga memilikinya.

Salah satu yang menarik perhatian para ilmuwan dari planet Jupiter adalah misteri cahaya auroranya yang berbeda dengan 4 planet gas raksasa lainnya, hanya aurora Jupiter yang terdeteksi memancarakan sinar X. Dengan menggabungkan data-data observasi yang pernah dilakukan dan data-data yang dikumpulkan Juno secara langsung, akhirnya selubung aurora Jupiter yang menjadi misteri selama puluhan tahun berhasil terkuak. Para peneliti menemukan bahwa pancaran sinar X pada aurora Jupiter disebabkan oleh adanya fluktuasi medan magnet Jupiter. Kehadiran Juno di orbit Jupiter juga memastikan untuk pertama kalinya para ilmuwan berhasil melihat keseluruhan mekanisme terbentuknya aurora di Jupiter.

3. Berhasil mendapatkan gambar jarak dekat bulan terbesar Jupiter

potret Ganymede, bulan terbesar di sistem tata surya kita yang diambil oleh wahana antariksa Juno
potret Ganymede, bulan terbesar di sistem tata surya kita yang diambil oleh wahana antariksa Juno (commons.wikimedia.org/NASA)

Ganymede adalah salah satu dari 101 bulan (yang diakui secara resmi oleh The International Astronomical Union, per Maret 2026) yang dimiliki oleh Jupiter dan merupakan satelit alamiah terbesar di dalam sistem tata surya kita. Pada tahun 1996  dengan menggunakan teleskop Hubble, para ilmuwan dan astronom menemukan bukti adanya atmosfer oksigen tipis di Ganymede, namun atmosfer tersebut terlalu tipis untuk mendukung sebuah kehidupan.

Wahana antariksa Juno berhasil untuk pertama kalinya mendapatkan gambar close up bulan terbesar Jupiter ini pada bulan Juni 2021 silam.  Sebagaimana diberitakan CNN, Ganymede memiliki inti besi yang ditutupi oleh lapisan batu dan es yang tebal serta merupakan satu-satunya bulan yang memiliki medan magnetik sehingga terdapat pancaran sinar aurora di kutub utara dan selatannya.

4. Misinya telah diperpanjang hingga tahun 2025

Misi Juno NASA mengabadikan pemandangan belahan planet Jupiter bagian selatan pada tahun 2020 silam
Misi Juno NASA mengabadikan pemandangan belahan planet Jupiter bagian selatan pada tahun 2020 silam (commons.wikimedia.org/NASA)

Setelah berhasil mencapai misi utamanya di tahun 2021 seperti menyingkap keberadaan inti padat planet namun terlarut karena tekanan yang memiliki komposisi : bebatuan, es dan logam berat , memetakan medan magnetik Jupiter, mengukur jumlah kadar air dan amonia di atmosfernya dan juga mengamati cahaya aurora Jupiter, misi Juno telah diperpanjang hingga tahun 2025, namun sejumlah informasi menuliskan belum jelas status Juno untuk tahun 2026 dan setelahnya apakah akan diperpanjang atau dihentikan.

Meski demikian, wahana antariksa Juno tersebut masih operasional dan masih mengirimkan temuannya, yang terakhir sebagaimana diinformasilan dalam laman resmi NASA dalam artikelnya yang berjudul "NASA’s Juno Reveals New Insights into Cosmic Ray Origins", pada tahun 2026 ini Juno berhasil mengidentifikasi partikel yang bergerak mendekati kecepatan cahaya di dekat Jupiter yang memberikan bukti baru tentang bagaimana dan di mana partikel berenergi tinggi, termasuk sinar kosmik tersebut terbentuk.

Luar angkasa yang luas dengan segala misterinya selalu menarik perhatian manusia untuk menelitinya, sekaligus mengingatkan kita untuk selalu menjaga dan merawat planet bumi kita yang indah ini.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna

Related Articles

See More