Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

7 Fakta Artemis II, Misi Berawak Pertama ke Bulan Sejak 1972

7 Fakta Artemis II, Misi Berawak Pertama ke Bulan Sejak 1972
Peluncuran bersejarah dari Misi Artemis II NASA, yang berhasil lepas landas pada hari Rabu, 1 April 2026, dari Kompleks Peluncuran 39B di Pusat Luar Angkasa Kennedy di Florida. (commons.wikimedia.org/Andrew Parlette)
Intinya Sih
  • Misi Artemis II diluncurkan 1 April 2026 membawa empat astronaut melintasi orbit Bulan, menjadi penerbangan berawak pertama sejauh itu sejak 1972 untuk menguji kesiapan kru dan teknologi Orion.
  • Roket Space Launch System digunakan sebagai peluncur utama dengan daya dorong 8,8 juta pon, memungkinkan pesawat Orion menempuh lintasan free-return yang efisien dan aman kembali ke Bumi.
  • Misi sepuluh hari ini memecahkan rekor jarak terjauh manusia dari Bumi serta menjadi langkah penting menuju eksplorasi Mars melalui pengujian sistem pendukung kehidupan dan kerja sama kru internasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Artemis II merupakan misi luar angkasa bersejarah yang resmi diluncurkan pada 1 April 2026 untuk membawa empat astronaut terbang melintasi orbit Bulan. Misi ini menjadi momen pertama kalinya manusia melakukan perjalanan sejauh itu sejak tahun 1972. Fokus utamanya adalah menguji keamanan teknologi pesawat Orion dan kesiapan kru di luar angkasa sebelum nantinya NASA benar-benar mendaratkan manusia kembali di permukaan Bulan dalam waktu dekat.

Lantas, bagaimana sebenarnya persiapan para kru dan teknologi yang mendukung perjalanan luar angkasa ini? Yuk, simak fakta-fakta menarik tentang Artemis II dalam artikel berikut ini!

1. Diawaki oleh empat astronaut

Potret resmi keempat astronaut untuk misi Artemis II NASA ke Bulan, yang menampilkan anggota kru Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch, dan Jeremy Hansen.
Potret resmi keempat astronaut untuk misi Artemis II NASA ke Bulan, yang menampilkan anggota kru Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch, dan Jeremy Hansen. (commons.wikimedia.org/NASA Headquarters/NASA/Bill Ingalls)

Misi Artemis II diawaki oleh empat astronaut utama, yaitu Reid Wiseman sebagai komandan, Victor Glover sebagai pilot, serta Christina Koch dan Jeremy Hansen sebagai spesialis misi. Komposisi kru ini mencetak sejarah baru karena melibatkan wanita pertama, orang kulit berwarna pertama, serta astronaut non-Amerika pertama yang melakukan perjalanan ke orbit Bulan. Sebagai langkah antisipasi, NASA dan Badan Antariksa Kanada juga telah menyiapkan Andre Douglas dan Jenni Gibbons sebagai kru cadangan.

Sebelum peluncuran pada 1 April 2026, para kru telah menjalani serangkaian persiapan intensif, mulai dari latihan di dalam maket pesawat Orion hingga simulasi prosedur teknis. Kehadiran empat orang dalam satu pesawat ini juga akan memecahkan rekor jumlah kru terbanyak yang pernah melakukan perjalanan ke luar angkasa jauh secara bersamaan.

2. Diluncurkan menggunakan roket paling kuat yang pernah dibangun NASA

Roket Space Launch System (SLS) NASA dan pesawat ruang angkasa Orion di Landasan Peluncuran 39B di Pusat Luar Angkasa Kennedy di Florida.
Roket Space Launch System (SLS) NASA dan pesawat ruang angkasa Orion di Landasan Peluncuran 39B di Pusat Luar Angkasa Kennedy di Florida. (commons.wikimedia.org/Olga Ernst)

Space Launch System (SLS) merupakan roket operasional paling kuat di dunia yang digunakan NASA untuk meluncurkan misi Artemis II. Dengan tinggi mencapai 98 meter, roket raksasa ini menghasilkan daya dorong maksimum 8,8 juta pon, 15% lebih besar daripada roket Saturn V era Apollo. Kehebatannya memungkinkan pesawat Orion melaju hingga kecepatan 39.400 km/jam agar bisa lepas dari gravitasi Bumi menuju Bulan.

Teknologi canggih pada SLS menggunakan kombinasi mesin utama dan pendorong roket padat terbesar yang pernah dibuat untuk menjamin keamanan astronaut. Selain memiliki tenaga yang stabil, desain roket ini sengaja dibuat agar dapat terus dikembangkan untuk misi jangka panjang di masa depan.

3. Menggunakan lintasan free-return

Infografis penerbangan untuk misi Artemis II NASA, penerbangan uji berawak pertama ke Bulan sejak program Apollo.
Infografis penerbangan untuk misi Artemis II NASA, penerbangan uji berawak pertama ke Bulan sejak program Apollo. (commons.wikimedia.org/NASA)

Lintasan "Angka 8" atau Free-Return Trajectory adalah metode navigasi cerdas yang memanfaatkan gravitasi Bulan untuk memandu pesawat kembali ke Bumi. Dalam jalur ini, pesawat meluncur dari Bumi, melingkar di belakang Bulan, dan secara otomatis terdorong pulang tanpa harus terus-menerus mengandalkan mesin, sehingga membentuk pola yang menyerupai angka delapan jika dilihat dari atas.

Metode ini menjadi fitur keselamatan utama karena bersifat pasif; jika mesin mengalami kerusakan, gravitasi akan menarik pesawat pulang dengan sendirinya. Selain lebih aman, cara ini juga sangat efisien dalam menghemat bahan bakar, meskipun memerlukan perhitungan kecepatan dan sudut peluncuran yang sangat presisi agar pesawat tetap berada pada jalur yang benar.

4. Memecahkan rekor jarak terjauh

Bulan seperti yang diabadikan oleh awak Artemis II selama misi bersejarah mereka mengelilingi sisi jauh Bulan.
Bulan seperti yang diabadikan oleh awak Artemis II selama misi bersejarah mereka mengelilingi sisi jauh Bulan. (commons.wikimedia.org/NASA)

Misi Artemis II berhasil memecahkan rekor jarak terjauh yang pernah dicapai manusia di ruang angkasa dengan melampaui catatan misi Apollo 13 tahun 1970. Empat astronaut di dalam pesawat Orion menjelajah lebih jauh dari Bumi dibandingkan siapa pun dalam sejarah eksplorasi antariksa sebelumnya.

Rekor jarak ini menjadi ujian penting bagi ketahanan sistem perlindungan radiasi dan pendukung kehidupan pada pesawat Orion. Setelah mencapai titik terjauh di sisi belakang Bulan, kapsul kemudian memulai fase perjalanan pulang menuju atmosfer Bumi. Keberhasilan menembus batas jarak ini membuktikan kesiapan teknologi manusia untuk menjalankan misi eksplorasi yang lebih jauh di masa depan.

5. Dijadwalkan berlangsung selama kurang lebih sepuluh hari

Pemandangan Bumi dari pesawat ruang angkasa Orion selama misi Artemis II.
Pemandangan Bumi dari pesawat ruang angkasa Orion selama misi Artemis II. (commons.wikimedia.org/Gregory Reid Wiseman/NASA)

Misi Artemis II dijadwalkan berlangsung selama sekitar sepuluh hari dengan serangkaian fase teknis yang sangat padat. Pada hari pertama, pesawat Orion tetap berada di orbit tinggi Bumi untuk menguji sistem pendukung kehidupan dan melakukan latihan manuver manual oleh para awak. Setelah semua sistem dipastikan aman, pesawat melakukan pembakaran mesin utama untuk memulai perjalanan menuju Bulan. Selama fase ini, para astronaut juga menjalankan berbagai eksperimen kesehatan untuk mempelajari efek radiasi dan isolasi di ruang angkasa jauh.

Setelah menempuh perjalanan empat hari, pesawat akan melintasi sisi jauh Bulan dan memecahkan rekor jarak terjauh manusia dari Bumi. Gravitasi Bulan kemudian akan membantu mengarahkan pesawat kembali pulang tanpa perlu banyak penggunaan bahan bakar tambahan. Fase terakhir adalah masuknya kembali pesawat ke atmosfer Bumi dengan kecepatan tinggi sebelum mendarat di Samudra Pasifik. 

6. Melakukan uji coba manuver manual pada kapsul Orion

Peluncuran Artemis II.
Peluncuran Artemis II. (commons.wikimedia.org/NASA Kennedy Space Center/NASA/Brandon Hancock)

Misi Artemis II memberikan kesempatan bagi para astronaut untuk menguji kendali manual pesawat Orion secara langsung sebagai alternatif sistem otomatis. Selama perjalanan, kru seperti Victor Glover, Christina Koch, dan Jeremy Hansen secara bergantian melakukan latihan manuver dengan menggunakan bagian atas roket peluncur sebagai target. Hal ini bertujuan untuk merasakan respons pesawat saat bergerak di ruang angkasa jauh serta memastikan astronaut mampu mengarahkan pesawat dengan presisi.

Uji coba kendali tangan ini sangat penting sebagai prosedur keselamatan darurat jika sistem navigasi otomatis mengalami kegagalan di masa depan. Selain itu, data yang dikumpulkan akan menjadi standar untuk misi-misi berikutnya, terutama saat proses penyandaran dengan stasiun luar angkasa di orbit Bulan. Dengan menguasai kendali manual, para astronaut menjadi lebih siap menghadapi berbagai situasi teknis yang kompleks selama penjelajahan ruang angkasa.

7. Batu loncatan ke mars

Administrator NASA Bill Nelson dan pejabat lainnya membahas misi Artemis II dan eksplorasi bulan di masa depan selama konferensi pers pada April 2026.
Administrator NASA Bill Nelson dan pejabat lainnya membahas misi Artemis II dan eksplorasi bulan di masa depan selama konferensi pers pada April 2026. (commons.wikimedia.org/NASA Headquarters/NASA/Bill Ingalls)

Misi Artemis II merupakan fondasi utama bagi ambisi besar manusia untuk melakukan perjalanan ke planet Mars di masa depan. Melalui misi ini, NASA menguji sistem pendukung kehidupan dan ketahanan astronaut terhadap radiasi di ruang angkasa jauh yang sangat ekstrem. Keberhasilan misi ini membuktikan bahwa teknologi manusia saat ini sudah siap untuk menempuh perjalanan jangka panjang yang jauh dari perlindungan Bumi.

Data yang dikumpulkan dari kecepatan masuk kembali ke atmosfer dan performa roket SLS menjadi kunci penting dalam merancang misi ke Mars. Selain aspek teknis, kerja sama kru internasional dalam ruang terbatas juga menjadi simulasi psikologis yang sangat berharga untuk perjalanan antarplanet. Seluruh pencapaian dalam misi Artemis II ini akan menjadi standar prosedur bagi eksplorasi manusia di masa depan yang lebih luas.

Misi Artemis II yang saat ini sedang berlangsung merupakan tonggak sejarah penting dalam upaya manusia menjelajahi antariksa lebih jauh. Keberhasilan peluncuran pada 1 April 2026 ini bukan sekadar perjalanan mengelilingi Bulan, melainkan pembuktian kesiapan teknologi dan keselamatan awak sebelum kita benar-benar kembali mendarat di sana. Melalui data dan pengalaman yang dikumpulkan selama misi sepuluh hari ini, jalan menuju eksplorasi ruang angkasa yang lebih luas, termasuk perjalanan ke Mars, kini menjadi semakin terbuka lebar bagi masa depan umat manusia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna
Follow Us

Latest in Science

See More