Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

70 Tahun Diduga Tulang Mammoth, Fosil Kemungkinan dari Hewan Laut

ilustrasi mammoth (pixabay.com/Kyraxys)
ilustrasi mammoth (pixabay.com/Kyraxys)
Intinya sih...
  • Fosil tulang mammoth yang ditemukan di Alaska selama 70 tahun ternyata berasal dari hewan laut, bukan gajah berbulu.
  • Tulang tersebut terlalu muda untuk milik gajah berbulu, menunjukkan kemungkinan berasal dari lingkungan laut dengan tingkat nitrogen dan karbon yang tinggi.
  • Para peneliti berhasil mengekstrak DNA mitokondria untuk memastikan identitas sebenarnya dari spesimen tersebut, yang ternyata adalah paus, bukan gajah purba.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Tulang belakang fosil yang tampaknya berasal dari gajah berbulu telah terbukti berasal dari hewan yang benar-benar berbeda dan tidak terduga.

Arkeolog Otto Geist menemukan tulang-tulang tersebut–dua lempeng epifisis dari tulang belakang mamalia–selama ekspedisi pada tahun 1951 di wilayah pedalaman Alaska, tepat di utara Fairbanks, di wilayah geografis prasejarah yang dikenal sebagai Beringia.

Kejanggalan usia

Berdasarkan penampilan dan lokasi tulang-tulang tersebut, penentuan awal Geist bahwa tulang-tulang tersebut milik gajah berbulu (Mammuthus primigenius) sangat masuk akal: tulang-tulang megafauna Pleistosen Akhir umum ditemukan di wilayah tersebut, dan ukuran tulang punggung yang sangat besar jelas menunjukkan bahwa tulang-tulang tersebut milik gajah.

Ia membawa tulang-tulang tersebut ke Museum of the North Universitas Alaska, di mana tulang-tulang tersebut disimpan selama lebih dari 70 tahun.

Berkat program 'Adopt-a-Mammoth' mereka, museum akhirnya dapat melakukan penanggalan radiokarbon pada fosil-fosil tersebut, sebuah upaya yang justru menimbulkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban yang diberikan.

Melansir dari laman Science Alert, tulang-tulang ini, ternyata, terlalu muda untuk milik gajah berbulu. Isotop karbon yang terkunci di dalamnya menunjukkan usia sekitar 2.000 hingga 3.000 tahun.

Gajah berbulu, di sisi lain, diyakini telah punah sekitar 13.000 tahun yang lalu, kecuali beberapa populasi terisolasi yang bertahan hingga sekitar 4.000 tahun yang lalu.

Jika akurat, hasil ini beberapa ribu tahun lebih muda daripada bukti terbaru keberadaan mammoth di Beringia timur.

Sebelum sepenuhnya merevisi garis waktu kepunahan mammoth, para peneliti memutuskan untuk memastikan terlebih dahulu bahwa spesies tersebut telah diidentifikasi dengan benar.

Kemungkinan hewan laut

ilustrasi kerangka mammoth (commons.wikimedia.org/Jonathan Chen)
ilustrasi kerangka mammoth (commons.wikimedia.org/Jonathan Chen)

Tulang-tulang tersebut mengandung tingkat nitrogen-15 dan karbon-13 yang jauh lebih tinggi daripada yang diharapkan untuk seekor gajah berbulu yang memakan rumput di daratan. Meskipun isotop-isotop ini dapat ditemukan pada hewan darat, mereka jauh lebih umum di laut dan cenderung menumpuk dalam tubuh makhluk laut.

Tidak pernah ditemukan gajah berbulu dari wilayah timur Beringia dengan sinyal kimia semacam itu, karena bagian dalam Alaska yang dalam tidak dikenal sebagai daerah yang kaya akan seafood.

Ini adalah indikasi pertama bahwa spesimen tersebut kemungkinan berasal dari lingkungan laut.

Para ahli gajah purba dan paus sepakat bahwa tidak mungkin mengidentifikasi spesimen tersebut hanya berdasarkan penampilan fisik di mana DNA kuno akan menjadi kunci untuk memastikan identitas sebenarnya dari spesimen tersebut.

Meskipun spesimen tersebut terlalu rusak untuk mengandung jenis DNA yang disimpan dalam inti sel kita, mereka berhasil mengekstrak DNA mitokondria untuk dibandingkan dengan DNA paus bungkuk Pasifik Utara (Eubalaena japonica) dan paus minke biasa (Balaenoptera acutorostrata).

Meskipun tanggal radiokarbon misterius dari dua spesimen ini telah terpecahkan dengan penemuan bahwa fosil gajah purba yang diduga ternyata adalah paus, misteri yang sama membingungkannya kemudian muncul, bagaimana sisa-sisa dua paus yang berusia lebih dari 1.000 tahun bisa ditemukan di Alaska bagian dalam, lebih dari 400 km (250 mil) dari garis pantai terdekat?

Kemungkinan yang ditemukan peneliti

Mereka mengusulkan beberapa kemungkinan. Pertama adalah penyusupan paus ke daratan melalui teluk dan sungai kuno, yang tampaknya sangat tidak mungkin mengingat ukuran besar spesies paus tersebut dan ukuran kecil badan air di daratan Alaska. Meskipun para penulis mencatat bahwa paus yang tersesat bukanlah hal yang sepenuhnya tidak pernah terjadi.

Mungkin tulang-tulang tersebut dibawa dari pantai oleh manusia purba. Hal ini telah didokumentasikan di wilayah lain, tetapi belum pernah di Alaska bagian dalam.

Terakhir, mereka tidak dapat mengesampingkan kemungkinan kesalahan ilmiah. Ini adalah pengingat yang mengagumkan tentang kesamaan fisik yang masih dimiliki oleh kerabat mamalia laut.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Achmad Fatkhur Rozi
EditorAchmad Fatkhur Rozi
Follow Us

Latest in Science

See More

Studi: Spesies Lumut Ini Mungkin Bisa Bertahan di Mars

26 Jan 2026, 07:15 WIBScience