ilustrasi langit (unsplash.com/Malena Zapata)
WiFi bukan satu-satunya gelombang radio di udara. Ada sinyal seluler, siaran televisi, radio FM, hingga komunikasi satelit yang menempati frekuensi berbeda. Jika seluruh spektrum itu terlihat, langit kota akan dipenuhi lapisan cahaya dengan warna atau intensitas berbeda sesuai panjang gelombang masing-masing. Wilayah pusat kota mungkin tampak lebih padat dibanding pedesaan yang relatif sunyi frekuensi.
Setiap lapisan frekuensi memiliki jangkauan dan karakter rambat berbeda. Gelombang dengan frekuensi lebih rendah menempuh jarak lebih jauh dan menembus hambatan lebih mudah. Sebaliknya, frekuensi tinggi membawa data lebih besar, tetapi cepat melemah. Dunia visual akan berubah menjadi lanskap bertingkat, bukan lagi sekadar ruang kosong.
Kemampuan melihat gelombang WiFi akan mengubah cara manusia memahami ruang. Sebab, udara tidak lagi tampak kosong, melainkan dipenuhi jalur energi yang aktif setiap saat. Perangkat digital yang selama ini terasa diam justru akan terlihat paling mencolok dalam lanskap visual baru tersebut. Jika semua sinyal itu benar-benar terlihat jelas, apakah manusia masih bisa merasa hidup di ruang yang tenang dan bersih dari gangguan visual?
Referensi
"Here’s What The World Would Look Like If We Could See Wi-Fi Signals". IFL Science. Diakses Februari 2026.
"If Our Eyes Could See Wireless Signals, They Wouldn’t Look Like This.". Hackaday. Diakses Februari 2026.
"Wi-Fi Technology and Human Health Impact: A Brief Review of Current Knowledge". Archives of Industrial Hygiene and Toxicology. Diakses Februari 2026.