Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Apa yang Terjadi saat Meteor Memasuki Bumi? Berikut Penjelasannya!

4 min read
Apa yang Terjadi saat Meteor Memasuki Bumi? Berikut Penjelasannya!
gambar hujan meteor dengan Galaksi Bimasakti sebagai latar (unsplash.com/Tianhao Wang)
  • Hujan meteor terjadi ketika Bumi melintasi aliran debu, batuan, dan fragmen es yang dilepaskan komet saat mendekati Matahari.
  • Partikel ditarik gravitasi Bumi, melaju cepat, bertabrakan dengan molekul udara, lalu memanas hingga menguap dan membentuk kilatan cahaya di langit.
  • Mayoritas partikel berukuran kecil terbakar pada ketinggian 80–120 kilometer; hanya bongkahan besar yang sangat langka dapat mencapai permukaan sebagai meteorit.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Buat kamu yang suka mengamati langit malam, kamu mungkin pernah menyaksikan kilatan cahaya yang bergerak di langit lalu habis begitu saja. Orang Indonesia menyebut fenomena ini dengan istilah bintang jatuh. Namun sebenarnya istilah yang lebih tepat adalah hujan meteor. Hujan meteor sendiri merupakan fenomena yang cukup sering terjadi. Dalam satu tahun, fenomena ini bahkan bisa terjadi beberapa kali.

Di bulan Oktober ini misalnya, kamu bisa menyaksikan dua hujan meteor sekaligus. Hujan meteor pertama dikenal dengan nama Draconid yang berlangsung pada tanggal 8-9 Oktober 2026, dan hujan meteor Orionid yang berlangsung pada tanggal 21-22 Oktober 2026 mendatang. Di malam-malam tersebut, atmosfer planet kita akan dibanjiri oleh ratusan meteor. Lalu apa yang sebenarnya terjadi saat meteor memasuki atmosfer Bumi?

  1. 1. Hujan meteor tercipta dari partikel-partikel komet

    Sebuah komet melintas di langit malam
    gambar sebuah komet melintas di langit malam (unsplash.com/Justin Wolff)

    Banyak orang kerap menyaksikan hujan meteor, tetapi hanya sedikit yang benar-benar tahu kenapa fenomena ini bisa terjadi. Bahkan karena di Indonesia istilah yang populer adalah bintang jatuh, gak sedikit yang beranggapan kalau sebuah bintang benar-benar jatuh dari langit. Dilansir Space, kilatan cahaya yang kita lihat sebenarnya bukan bintang jatuh, melainkan partikel-partikel kecil seperti batuan dan fragmen es yang terbakar di atmosfer.

    Jadi saat komet mendekati Matahari, panas membuat es di permukaan komet menyublim, melepaskan debu dan gas. Material ini menyebar di sepanjang jalur (orbit) komet dan menciptakan aliran partikel. Masalahnya adalah, orbit komet kerap bersinggungan dengan orbit Bumi di beberapa tempat. Alhasil ketika Bumi melewati orbitnya, Bumi juga akan melewati aliran partikel tersebut yang akhirnya memicu terjadinya hujan meteor. 

  2. 2. Meteor masuk ke atmosfer dengan kecepatan luar biasa

    Aliran partikel yang ditinggalkan komet
    ilustrasi aliran partikel yang ditinggalkan komet (nasa.gov/NASA's Scientific Visualization Studio)

    Saat Bumi kita melewati aliran yang diciptakan komet, gravitasi Bumi yang kuat akan menarik partikel-partikel tersebut untuk memasuki atmosfer Bumi. Ketika itu terjadi, partikel akan bergerak dalam kecepatan sangat tinggi. Dilansir Space, rata-rata meteor dapat menembus atmosfer dengan kecepatan sekitar 30.000 meter per jam.

    Di sisi lain, pergerakan yang cepat di atmosfer juga membuat partikel ini bertabrakan dengan molekul udara, dan menciptakan gesekan yang meningkatkan suhunya hingga 1.648 derajat Celcius. Dengan suhu sepanas itu, partikel akan menguap dan menghasilkan garis-garis cahaya terang di langit. Cahaya terang inilah yang sering disalahartikan sebagai bintang jatuh.

  3. 3. Sebagian meteor bisa bertahan sampai ke permukaan Bumi

    Hujan meteor
    gambar hujan meteor (unsplash.com/Luobulinka)

    Dalam satu tahun, Bumi kita mengalami hujan meteor berkali-kali. Meski begitu, sebagian besar hujan meteor biasanya cukup lemah dan hanya menghasilkan 10 meteor per jamnya. Namun di waktu-waktu tertentu, hujan meteor yang terjadi bisa sangat intens. Hujan meteor Lyrids yang terjadi pada bulan April misalnya, menghasilkan 15-20 meteor per jam. Sedangkan hujan meteor Geminids yang berlangsung pada bulan Desember bisa menghasilkan 60-70 meteor per jamnya. Pertanyaannya dengan jumlah sebanyak ini, adakah yang bisa mencapai permukaan Bumi? Jawabannya sangat tergantung pada ukuran meteor itu sendiri. Semakin besar ukuran meteornya, maka semakin besar juga kemungkinan meteor itu menabrak Bumi dan menciptakan kerusakan di permukaannya.

    Dilansir NASA, kabar baiknya sebagian besar partikel yang ditinggalkan meteor memiliki ukuran yang sangat kecil. Mayoritas berukuran gak lebih dari pasir, sedangkan sisanya memiliki ukuran sebesar kacang polong. Partikel ini akan memasuki atmosfer dengan cepat, dan terbakar pada ketinggian sekitar 80-120 kilometer sebelum sempat menyentuh permukaan. Namun bukan berarti Bumi akan selalu dalam keadaan aman.

    Pada situasi tertentu, pecahan komet atau asteroid meninggalkan bongkahan meteor yang lebih besar. Dengan ukuran yang besar, meteor ini bisa bertahan melewati atmosfer dan mencapai permukaan Bumi. Nah batu yang berhasil mencapai permukaan inilah yang kemudian dikenal dengan istilah meteorit. Tenang, peristiwa seperti ini biasanya sangat langka dan hanya terjadi puluhan tahun sekali.

    Meski cukup sering terjadi, fenomena hujan meteor tetap menarik untuk disaksikan. Terlebih kamu juga gak memerlukan peralatan khusus seperti teleskop untuk melihatnya. Hujan meteor umumnya bisa disaksikan di wilayah perkotaan, namun akan jauh lebih baik jika kamu melihatnya dari lokasi yang jauh dari polusi cahaya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More