Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bagaimana El Nino Memperburuk Risiko Karhutla di Indonesia?
ilustrasi kebakaran hutan (pexels.com/Andreas Berget)
  • El Nino mengurangi curah hujan dan memperpanjang musim kering di sejumlah wilayah Indonesia, sehingga tanah serta vegetasi kehilangan kelembapan dan api lebih cepat menyebar.
  • Penurunan muka air tanah membuat gambut mengering, mudah terbakar, dan menyimpan bara bawah permukaan yang sulit dideteksi serta membutuhkan banyak air untuk dipadamkan.
  • El Nino bersama IOD positif dapat memperkuat kekeringan; meski tidak menyalakan api langsung, kondisi ini memperluas karhutla, memperpanjang pemadaman, dan menyebarkan polutan asap.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ketika tanah kehilangan kelembapannya, api yang membakar lahan kering dapat menyebar lebih cepat. Pada kondisi tersebut, El Nino dapat memperburuk situasi dengan mengurangi curah hujan dan memperpanjang periode kering di sejumlah wilayah Indonesia. Dampaknya tidak hanya membuat vegetasi lebih mudah terbakar, tetapi juga dapat menyulitkan upaya pemadaman ketika api sudah meluas.

El Nino merupakan fenomena iklim yang ditandai oleh peningkatan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tengah dan timur, sehingga memengaruhi pola cuaca global. Di Indonesia, perubahan ini dapat mengurangi pasokan hujan dan membuat cadangan air di tanah terus menurun. Lantas, bagaimana El Nino memperparah kondisi lahan dan meningkatkan dampak kebakaran hutan dan lahan?

1. El Nino mengurangi curah hujan di Indonesia

ilustrasi hujan (freepik.com/tawatchai07)

El Nino dapat mengubah sirkulasi atmosfer yang mengatur pembentukan awan dan distribusi hujan di kawasan tropis. Ketika fenomena ini berlangsung, sebagian wilayah Indonesia dapat menerima curah hujan lebih rendah sehingga periode kering menjadi lebih panjang. Kondisi tersebut membuat tanah, rerumputan, dedaunan, dan ranting kehilangan kelembapan yang biasanya membantu menghambat penyebaran api.

Vegetasi yang mengering menjadi bahan bakar yang lebih mudah terbakar ketika terkena sumber api. Dalam kondisi kering, api juga dapat menyebar lebih cepat karena panas lebih mudah membakar bahan tumbuhan di sekitarnya. Akibatnya, petugas dapat menghadapi area kebakaran yang semakin luas sebelum proses pemadaman selesai.

2. El Nino membuat lahan gambut lebih mudah terbakar

ilustrasi kebakaran hutan (pexels.com/Engin Akyurt)

Lahan gambut menyimpan air di antara lapisan bahan organik yang terbentuk dari sisa tumbuhan selama waktu yang panjang. Ketika El Nino mengurangi curah hujan, muka air tanah dapat turun dan membuat lapisan gambut kehilangan kelembapannya. Gambut yang mengering menjadi lebih mudah terbakar dan dapat menyimpan bara di bawah permukaan tanah.

Api yang membara di dalam gambut sering kali tidak terlihat jelas dari permukaan sehingga petugas sulit menentukan batas kebakaran sebenarnya. Pemadaman juga membutuhkan air dalam jumlah besar untuk membasahi lapisan tanah yang masih membara, bukan hanya memadamkan api di atasnya. Jika kondisi kering terus berlanjut, bara yang tersisa dapat kembali memicu kebakaran meskipun api di permukaan sudah padam.

3. El Nino dan IOD positif dapat memperkuat kekeringan

ilustrasi perubahan iklim (pexels.com/Pixabay)

Selain El Nino, Indian Ocean Dipole (IOD) atau Dipole Samudra Hindia juga memengaruhi pola hujan di Indonesia melalui perubahan suhu permukaan laut di Samudra Hindia. Pada fase positif IOD, kondisi atmosfer dapat mengurangi pembentukan awan hujan di sebagian wilayah Indonesia sehingga kondisi kering semakin parah. Pengaruh kedua fenomena tersebut dapat terjadi secara bersamaan, meskipun dampaknya berbeda menurut wilayah dan waktu.

Ketika El Nino dan IOD positif berlangsung bersamaan, sejumlah wilayah dapat mengalami kekeringan yang lebih kuat daripada saat hanya satu fenomena terjadi. Penurunan curah hujan yang berkepanjangan dapat mengurangi kelembapan vegetasi dan menurunkan muka air tanah gambut. Kondisi ini membuat lahan lebih rentan terhadap kebakaran yang sudah terjadi dan meningkatkan tantangan bagi petugas pemadam.

4. El Nino tidak menyalakan api, tetapi dapat dapat memperparah dan memperpanjang dampak karhutla

ilustrasi kebakaran hutan (pexels.com/IslandHopper X)

Kondisi lahan yang kering dapat membuat kebakaran lebih sulit dikendalikan dan memperpanjang waktu yang dibutuhkan untuk memadamkan bara. Selama api membakar vegetasi dan bahan organik, proses tersebut melepaskan partikel halus seperti PM2.5 serta berbagai gas ke atmosfer. Angin kemudian dapat membawa polutan tersebut ke permukiman atau wilayah lain, sehingga masyarakat yang jauh dari titik kebakaran juga dapat terdampak.

Pengalaman Indonesia pada 2015 menunjukkan bagaimana kekeringan yang diperburuk El Nino bertepatan dengan kebakaran besar dan kabut asap yang meluas. Pengamatan satelit NASA mendokumentasikan aktivitas kebakaran yang intens serta emisi asap dalam jumlah besar selama periode tersebut. Pengalaman ini memperlihatkan pentingnya memantau curah hujan, kelembapan gambut, dan kondisi atmosfer untuk mengantisipasi dampak kebakaran.

El Nino tidak menyalakan api secara langsung, tetapi dapat memperburuk kondisi yang membuat kebakaran lebih mudah menyebar dan lebih sulit dipadamkan. Penurunan curah hujan, pengeringan gambut, dan kemungkinan penguatan kekeringan oleh fenomena iklim lain dapat memperbesar dampak karhutla. Memahami proses tersebut membantu kita melihat mengapa kondisi iklim menjadi faktor penting dalam pengendalian dan pencegahan dampak kebakaran.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article