Bagaimana Polusi Udara Memengaruhi Kesehatan Kamu? Ini Kata Peneliti

- Polusi udara, termasuk partikel mikroskopis dari bahan bakar fosil dan kendaraan, dapat masuk ke sistem pernapasan serta peredaran darah meski paparannya singkat.
- Paparan polutan dikaitkan dengan peradangan dan stres oksidatif, memperburuk asma, PPOK, bronkitis, gangguan jantung, serta meningkatkan risiko beberapa kanker.
- Anak-anak, ibu hamil, dan penderita penyakit paru lebih rentan; memeriksa AQI, membatasi paparan asap, dan memakai masker yang direkomendasikan dapat membantu mengurangi paparan.
Bahkan kamu yang mengaku tinggal di lingkungan paling bersih sekalipun bisa terpengaruh oleh polusi udara, lho. Dampak polusi udara bisa terjadi baik ketika kamu tinggal di lingkungan yang berasap tebal dan sangat tercemar atau hanya terpapar partikulat dalam waktu singkat. Paparan polutan jangka pendek maupun jangka panjang ternyata bisa memengaruhi kondisi kesehatan kamu secara keseluruhan. Dalam banyak kasus, polusi udara memengaruhi kesehatan kita melalui penyakit. Lebih menakutkan lagi, kamu bahkan bisa mengalami komplikasi akibat polusi udara.
Meskipun banyak faktor yang berkontribusi terhadap dampak kesehatan akibat polusi udara ditentukan oleh tempat tinggal dan pekerjaan, ada beberapa hal yang tak terhindarkan dalam hidup, salah satunya adalah kita semua akan bersentuhan dengan polutan, kemungkinan setiap hari. Nah, untuk mengurangi paparan polusi udara, kamu bisa memeriksa Indeks Kualitas Udara atau Air Quality Index (AQI) untuk memastikan kamu aman berada di luar ruangan dalam waktu lama. Kamu juga bisa mengurangi paparannya dengan menjauhi knalpot mobil, asap bakaran kayu, asap tembakau (rokok), dan polutan lain yang terlihat jelas. Jika dirasa tidak bisa dihindari, kamu bisa menggunakan masker yang direkomendasikan oleh ahli.
Namun demikian, bahkan setelah melakukan tindakan-tindakan ini, polusi udara bisa memengaruhi kesehatan kita dengan berbagai cara, tanpa kita sadari. Jadi, bagaimana polusi udara memengaruhi kesehatan kita?
1. Apa itu polusi udara?

ilustrasi polusi udara dari pabrik (pixabay.com/kp yamu Jayanath) Kamu pasti menganggap polusi udara sebagai asap tebal yang mengepul, seperti kabut asap yang menyelimuti beberapa wilayah di Kalimantan saat ini karena kebakaran hutan hebatnya. Namun, polusi udara bukan hanya asap, lho. Polusi udara juga ada pada tingkat mikroskopis, yang membuatnya sangat umum dan tak terhindarkan.
Polutan ini, sebagian besar dihasilkan dari bahan bakar fosil, yang bisa masuk ke sistem pernapasan dan peredaran darah manusia, serta memiliki efek yang sangat merugikan bagi kesehatan, sebagaimana yang dijelaskan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Bahan bakar fosil sendiri merujuk pada sumber energi yang berasal dari materi organik prasejarah. Sayangnya, hanya karena bahan mentah tersebut diambil dari bumi bukan berarti bahan tersebut ramah lingkungan setelah diproses. Tapi, justru sebaliknya.
Bahan bakar fosil seperti batu bara, gas alam, dan minyak adalah sumber utama polutan lingkungan. Dikutip Ember Energy, 81 persen energi yang digunakan di Indonesia berasal dari bahan bakar fosil, terutama untuk pembangkit listrik. Nah, menurut Center for International Environmental Law, bahan bakar fosil bertanggung jawab atas 75 persen emisi yang dihasilkan umat manusia dalam 20 tahun terakhir. Karena manusia sangat bergantung pada bahan bakar fosil yang tidak terbarukan untuk energi, para ilmuwan mengalami dilema besar karena mereka berupaya melawan kerusakan lingkungan untuk menyelamatkan planet dan kesehatan umat manusia.
2. Polusi udara meningkatkan peradangan sistemik

ilustrasi polusi udara (pixabay.com/alvpics) Sebuah studi yang dilakukan dan dipublikasikan oleh American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine menyimpulkan bahwa polusi udara perkotaan, khususnya di Taipei, Taiwan, sangat terkait dengan peradangan dan stres oksidatif, bahkan pada tubuh yang sehat. Lebih jauh lagi, para peneliti menemukan bahwa pembekuan darah dan disfungsi otonom terpengaruh secara negatif oleh polutan yang dikeluarkan oleh kendaraan.
Peradangan kronis sendiri punya dampak buruk pada tubuh, dan ini seringkali menjadi tempat berkembang biaknya kanker, diabetes, penyakit jantung, dan lainnya. Peradangan atau inflamasi adalah cara tubuh kita untuk mempertahankan diri dari benda asing. Ketika peradangan akut dan sistem ini berfungsi dengan baik, ia membuat tubuh kita tetap aman dan sehat. Namun, ketika peradangan menjadi kronis, saat itulah komplikasi kesehatan yang lebih sulit diperbaiki mulai muncul.
Terus-menerus menghirup polutan, terutama yang dikeluarkan dari kendaraan, kemungkinan akan meningkatkan risiko komplikasi akibat polutan. Faktanya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa sembilan dari sepuluh orang saat ini menghirup udara yang tercemar.
3. Munculnya penyakit pernapasan akibat udara yang kotor

ilustrasi foto rontgen yang diteliti dokter (unsplash.com/National Cancer Institute) Seperti yang bisa kamu tebak, salah satu sistem yang paling terdampak dalam tubuh kita adalah sistem pernapasan. Bagaimanapun, paru-paru kita adalah pusat pertukaran udara. Oleh sebab itu, paru-paru menanggung beban trauma akibat menghirup udara yang tercemar secara terus-menerus. Ada banyak bukti yang menunjukkan betapa agresifnya polusi udara ambien dapat merusak paru-paru kita. Polusi udara dapat menyebabkan masalah seperti emfisema, asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), dan bronkitis kronis, itu hanya beberapa di antaranya, seperti yang dikutip National Institute of Environmental Health Sciences.
Sebuah studi yang ditulis oleh Meng Wang, PhD, dkk., berjudul "Association Between Long-term Exposure to Ambient Air Pollution and Change in Quantitatively Assessed Emphysema and Lung Function" (2019), yang diterbitkan oleh JAMA menemukan bahwa selama periode sepuluh tahun, paparan terhadap polutan ambien tertentu terbukti meningkatkan kejadian emfisema dan menurunkan fungsi paru-paru secara keseluruhan. Sayangnya, penyebab utama penyakit pernapasan yang terkait dengan polusi ini hanyalah menghirup partikel halus atau polusi partikulat. Namun, menghindari hal tersebut tampaknya hampir mustahil, ya.
Di antara kabut asap yang hampir ada di mana-mana dan polusi partikulat yang beredar di atmosfer, mengundang pertanyaan, apakah setiap napas yang kita hirup sebersih yang diinginkan tubuh kita. Menghirup polutan dapat menyebabkan iritasi biasa pada paru-paru. Namun, dalam jangka panjang, iritasi tersebut dapat berkembang menjadi penyakit pernapasan yang serius.
4. Serangan asma bisa memburuk akibat polusi udara

ilustrasi serangan asma (unsplash.com/CNordic Nordic) Selain masalah pernapasan secara umum, asma sangat terkait dengan tingkat polusi udara. Asma adalah penyakit di mana saluran pernapasan mengalami peradangan. Peradangan ini dapat membuat pernapasan menjadi sangat sulit, atau bahkan menghambat pernapasan. Meskipun tingkat keparahan asma bervariasi, satu faktor yang tidak perlu diperdebatkan adalah, polutan udara jelas memperburuk gejala asma, dan bahkan dapat menyebabkan serangan asma yang lebih sering.
Polusi ozon, yang biasanya kita sebut kabut asap, bisa sangat memengaruhi paru-paru penderita asma. Konsentrasi partikel ozon memiliki hubungan langsung dengan serangan asma, seperti yang dilansir Asthma and Allergy Foundation of America. Polusi ozon mengurangi fungsi paru-paru, yang menyebabkan komplikasi yang lebih serius pada orang yang mengalami kesulitan bernapas karena asma. Partikulat kecil lainnya yang bukan merupakan polusi ozon juga bisa memperburuk paru-paru, yang berakibat fatal bagi penderita asma. Paparan jangka pendek dan jangka panjangnya punya efek yang merusak pada tubuh kita.
5. Bronkitis kronis juga sangat umum terjadi akibat polusi udara

ilustrasi gangguan pernapasan (pexels.com/Towfiqu barbhuiya) Saluran bronkial bertugas untuk mengangkut udara masuk dan keluar dari paru-paru. Bronkitis terjadi ketika saluran udara ini mengalami peradangan. Nah, ketika peradangan berlangsung lebih dari tiga bulan, maka menjadi kronis.
Ketika saluran udara mengalami tekanan yang besar, saluran tersebut menjadi semacam tumpukan lendir lengket yang semakin menghambat kemampuan seseorang untuk bernapas normal. Namun, lendir tersebut tidak hanya berada di saluran pernapasan. Tubuh pun mencoba mengeluarkannya dengan batuk. Selain itu, orang yang menderita bronkitis kronis atau akut mungkin mengalami mengi, kesulitan bernapas saat melakukan tugas-tugas sehari-hari, atau bahkan mengalami nyeri dada.
Menurut Occupational and Environmental Medicine, semua penelitian yang dilakukan pada topik khusus ini menunjukkan bahwa bronkitis kronis lebih umum terjadi di daerah yang lebih banyak polusi partikulat, meskipun ini tampaknya lebih sering terjadi pada perempuan ketimbang laki-laki. Lebih banyak penelitian sedang dilakukan untuk menentukan bagaimana jenis kelamin berhubungan dengan paparan polutan perkotaan. Namun, baik laki-laki maupun perempuan terpengaruh ketika materi partikulat di lingkungan mereka mencapai ambang batas tertentu.
6. Masalah autoimun diduga terkait dengan polusi udara

ilustrasi penyakit autoimun (commons.wikimedia.org/National Institute of Environmental Health Sciences) Nah, karena peradangan akibat polusi udara cukup umum terjadi, jadi semakin banyak penelitian yang mempelajari hubungan antara polusi udara dan penyakit autoimun, nih. Istilah penyakit autoimun adalah istilah umum yang mencakup berbagai macam penyakit. Secara umum, penyakit autoimun diklasifikasikan demikian karena tubuh memicu respons imun berdasarkan sesuatu yang dianggap sebagai penyerang. Respons imun sistemik ini menyebabkan tubuh menyerang sel-sel sehatnya sendiri, yang bisa memicu peradangan lebih meluas lagi.
Meskipun mekanisme pastinya belum ditemukan, sebagian besar hubungan antara polusi udara dan penyakit autoimun diduga disebabkan oleh stres oksidatif dan peradangan yang disebabkan oleh reaksi imun yang sering terjadi. Pada tikus, polusi udara menciptakan kondisi yang ideal untuk perkembangan penyakit autoimun, sebagaimana penelitian yang ditulis oleh Chan-Na Zhao, dkk., berjudul "Emerging Role of Air Pollution in Autoimmune Diseases" (2019), yang diterbitkan oleh Science Direct. Meskipun mungkin masih lama untuk mengetahui apakah hal ini sepenuhnya benar pada tubuh manusia, sebagian besar penelitian yang muncul menunjukkan hubungan yang kuat antara polusi udara dan kejadian penyakit autoimun.
7. Risiko penyakit jantung meningkat akibat polusi udara

ilustrasi sakit jantung (pexels.com/Muertos Crew) Meskipun agak mengejutkan bagaimana polusi partikulat bisa menyerang dan mengganggu sistem kardiovaskular, tapi hal ini cukup masuk akal, mengingat semuanya saling terhubung di dalam tubuh. Pasalnya, menghirup polusi setiap hari bisa menghambat fungsi pembuluh darah, dan bahkan mempercepat pengerasan plak di dalam arteri. Penyempitan arteri akibat plak adalah salah satu penyebab utama penyakit jantung. Penyempitan ini biasanya merupakan efek samping yang disebabkan oleh konsumsi berlebihan makanan "buruk" yang kaya kolesterol. Menariknya, menghirup polutan bahkan juga terbukti menurunkan jumlah kolesterol "baik" dalam tubuh.
Perempuan hamil berisiko lebih tinggi terkena polusi karena dampaknya terhadap tekanan darah, seperti yang dilansir National Institute of Environmental Health Sciences. Dalam beberapa kasus, fluktuasi tekanan darah yang tidak menentu bisa berdampak buruk pada kesehatan ibu dan janin. Perempuan menopause juga berisiko lebih tinggi mengalami komplikasi kardiovaskular akibat paparan polusi udara. Dengan paparan yang berlebihan, risiko perempuan menopause mengalami stroke hemoragik pun meningkat.
8. Polusi udara memperburuk penderita PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis)

Gambar A menunjukkan paru-paru yang sehat, dan gambar B menunjukkan paru-paru yang rusak akibat PPOK. (commons.wikimedia.org/National Heart Lung and Blood Institute) Penyakit paru obstruktif kronis, juga dikenal sebagai PPOK, didefinisikan sebagai peradangan di paru-paru. Menurut penelitian yang ditulis oleh Xu-Qin Jiang, dkk., berjudul "Air Pollution and Chronic Airway Diseases: What Should People Know and Do?" (2016), yang diterbitkan dalam Journal of Thoracic Disease, peradangan ini seringkali menghambat kemampuan seseorang untuk bernapas dengan normal, yang akhirnya menciptakan sejumlah masalah sistemik lainnya di dalam tubuh. Orang yang menderita PPOK memiliki risiko komplikasi yang lebih tinggi akibat polusi udara dibandingkan dengan orang yang memiliki paru-paru yang sehat. Bahkan, polusi udara bisa memperburuk PPOK dan meningkatkan angka kematian yang terkait dengannya. Beberapa polutan memiliki efek yang lebih buruk ketimbang polutan yang lain, dan ini bergantung pada lokasi dan musim.
Nah, untuk melindungi diri jika kamu menderita PPOK, disarankan untuk memeriksa AQI (Indeks Kualitas Udara) sebelum menghabiskan waktu di luar ruangan. Kamu juga harus memperhatikan berapa banyak waktu yang dihabiskan di luar ruangan. Coba kenakan masker untuk mengurangi polutan.
9. Polusi udara punya dampak terhadap kesehatan mental

ilustrasi penderita masalah mental (pexels.com/kaboompics.com) Langit berkabut akibat asap dari polusi udara memang tidak nyaman dilihat. Namun, bukan hanya itu masalahnya. Hidup di bawah langit yang kelabu pekat rupanya berdampak pada kesehatan mental, lho.
Sebuah studi oleh Joanne B. Newbury, PhD, dkk., berjudul "Association of Air Pollution Exposure With Psychotic Experiences During Adolescence" (2019), yang diterbitan oleh JAMA Psychiatry bertujuan untuk menentukan apakah ada hubungan antara jumlah polusi yang terpapar dan jumlah pengalaman psikotik yang dialami seseorang. Meskipun studi ini berfokus pada remaja, para peneliti mengingatkan kita bahwa polusi udara merupakan faktor risiko untuk ekspresi psikosis klinis (misalnya, skizofrenia) dan subklinis (misalnya, mendengar suara dan paranoia).
Sepanjang studi, para peneliti menemukan bahwa pengalaman psikotik lebih umum terjadi di antara remaja yang terpapar lebih banyak polusi, khususnya jenis polusi udara yang ada di lingkungan perkotaan. Kesimpulannya, studi ini menyatakan bahwa banyak faktor lain yang dinilai terbukti tidak berdampak. Ini termasuk hal-hal seperti status sosial ekonomi, ketergantungan zat, dan kejahatan.
10. Polusi udara meningkatkan gangguan kecemasan

ilustrasi mengalami kecemasan (pexels.com/MART PRODUCTION) Selain pengalaman psikotik pada remaja, polusi udara juga bisa memengaruhi tingkat kecemasan. Sebuah studi yang ditulis oleh Melinda C Power, dkk., berjudul "The Relation Between Past Exposure to Fine Particulate Air Pollution and Prevalent Anxiety: Observational Cohort Study" (2015), yang diterbitkan dalam BMJ, menemukan bahwa menghirup polusi partikulat dalam jumlah yang meningkat, terutama baru-baru ini, meningkatkan tingkat kecemasan dan perasaan lain yang terkait dengannya. Ini termasuk rasa takut dan keinginan untuk menghindari sesuatu, yang keduanya bisa memperburuk disposisi seseorang yang memang mengalami kecemasan.
Meskipun penelitian lebih lanjut tentu perlu dilakukan untuk memastikan hubungan ini secara menyeluruh, banyak peneliti setuju dengan hal ini karena masalah peradangan dan stres oksidatif. Kedua faktor ini memang sudah diamati memiliki efek pada disposisi seseorang. Secara khusus, stres oksidatif dan peradangan telah ditemukan meningkatkan kecemasan. Para peneliti yang sama berteori bahwa mengurangi paparan polusi udara dan polusi partikulat kemungkinan bisa menurunkan tingkat kecemasan, sebagaimana yang dikutip Harvard School of Public Health.
11. Tingkat kanker meningkat di lingkungan yang terpapar polusi udara tinggi

ilustrasi simbol kanker (pexels.com/Thirdman) Ternyata, aerosol dan penghapus cat melepaskan polusi udara, keduanya pun dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker payudara. Perempuan yang tinggal di dekat jalan raya yang sering dilalui kendaraan, terbukti memiliki tingkat kanker payudara yang lebih tinggi ketimbang yang tidak. Sebab, emisi berbahaya dari begitu banyak kendaraan adalah penyebabnya, seperti yang dilaporkan National Institute of Environmental Health Sciences.
Namun, bukan hanya risiko kanker payudara yang meningkat karena paparan polusi udara. Kanker lain juga dikaitkan dengan paparan polutan. Salah satu senyawa kimia yang ditemukan dalam bensin juga dikaitkan dengan leukemia dan limfoma non-Hodgkin, yaitu kanker yang menyerang sistem limfa dalam tubuh. Sebuah studi yang ditulis oleh Cheng-Kuan Lin, dkk., berjudul "A Global Perspective on Coal-Fired Power Plants and Burden of Lung Cancer" (2019), dalam Environmental Health, bahkan menemukan kesamaan antara kanker paru-paru dan hubungannya dengan pembangkit listrik pada pembakaran batu bara sebagai bahan bakarnya.
12. Polusi udara bisa menyebabkan bayi lahir prematur

ilustrasi bayi baru lahir (pexels.com/Vidal Balielo Jr.) Kita tahu kalau polusi udara punya konsekuensi serius pada ibu hamil dan janin yang dikandungnya, tetapi polusi udara bisa memengaruhi lebih dari sekadar tekanan darah pada ibu hamil, nih. Polusi udara juga telah dipelajari kaitannya dengan berat badan bayi saat lahir, dan hasilnya mengejutkan. Paparan polusi udara secara signifikan meningkatkan kemungkinan bayi lahir dengan berat badan kurang atau di bawah rata-rata berat badan normal pada bayi baru lahir. Sebuah studi yang ditulis oleh Reihaneh Sarizadeh, dkk., berjudul "The Association Between Air Pollution and Low Birth Weight and Preterm Labor in Ahvaz, Iran" (2020), dalam International Journal of Women's Health, menemukan bahwa polusi udara meningkatkan kemungkinan bayi memiliki berat badan kurang dari 2.500 gram.
Bayi yang lahir dengan berat badan lebih rendah seringkali mengalami kesulitan beradaptasi dengan kehidupan di dunia luar. Mereka biasanya lahir dengan lemak tubuh dan kekuatan yang lebih sedikit. Hal ini, ditambah dengan kemampuan mereka yang kurang baik dalam hal makan dan menambah berat badan, membuat mereka lebih rentan terhadap infeksi dan berbagai komplikasi lainnya.
13. Polusi udara berdampak pada perkembangan anak

ilustrasi balita (pexels.com/Luan Nguyen Luca) Semakin banyak bukti menunjukkan bahwa paparan polutan udara saat dalam kandungan dan sepanjang masa kanak-kanak bisa berdampak negatif pada perkembangan. Dampak polusi udara terhadap perkembangan otak anak sangat luas. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa polusi dapat mengubah struktur otak anak. Ada penelitian yang ditulis oleh Sandie Ha, berjudul "Air pollution and neurological development in children" (2021), dalam National Library of Medicine, menyimpulkan bahwa polusi dapat menyebabkan gangguan perkembangan seperti ADD/ADHD dan bahkan autisme.
Meskipun penelitian ini menyatakan bahwa kemungkinan ada banyak jalur yang terlibat dalam komplikasi perkembangan otak tersebut, stres oksidatif dan peradangan kemungkinan berperan, begitu pula gangguan pada sistem endokrin. Para peneliti juga menunjukkan bahwa baru-baru ini kita telah melihat peningkatan gangguan perkembangan, yang sejalan dengan tren peningkatan jumlah polusi udara yang kita alami setiap hari.
14. Polusi udara paling banyak berdampak pada anak-anak

ilustrasi anak-anak bermain (pexels.com/Sinan KRIYA) Sayangnya, polusi udara cenderung lebih memengaruhi kesehatan anak-anak ketimbang kelompok demografis lainnya. Anak-anak terbukti mengalami komplikasi akibat polusi udara. Polusi udara pada anak-anak sendiri terbukti dikaitkan dengan penyakit pernapasan jangka pendek.
National Institute of Environmental Health Sciences menjelaskan bahwa anak-anak yang sudah menderita asma lebih sensitif terhadap polusi partikulat, dan karenanya lebih mungkin menderita gejala bronkitis. Selain itu, anak-anak yang tinggal di daerah dengan lalu lintas tinggi lebih mungkin mengembangkan asma ketimbang mereka yang tumbuh lebih jauh dari jalan raya yang ramai. Selain itu, tinggal di daerah yang tercemar dapat meningkatkan risiko anak mengalami masalah paru-paru di masa depan.
Lebih buruk lagi, bahkan anak-anak yang berolahraga pun tidak terlindungi dari bahaya yang terkait dengan polusi ini. Terlepas dari dampak kesehatan positif dari tetap aktif dan berolahraga, anak-anak yang tumbuh bermain olahraga di lokasi yang ditandai dengan tingkat polusi ozon yang tinggi lebih mungkin mengembangkan asma daripada mereka yang bermain di daerah yang kurang urban.
Masalah polusi udara ini masih menjadi masalah utama di Indonesia. Bagi kamu yang berada di tempat dengan polusi udara tinggi, sebaiknya jangan terlalu sering keluar rumah kalau tidak penting, ya. Gunakan masker yang sudah direkomendasikan, seperti N95. Dan ingat, jangan suka bakar sampah seperti sampah daun apalagi sampah plastik, karena hal ini sangat berbahaya.
























