Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Polusi Udara dan Lari di Kota: Seberapa Berbahaya?

5 min read
Polusi Udara dan Lari di Kota: Seberapa Berbahaya?
ilustrasi suasana Jakarta saat car free day (wikimedia.org/Gunawan Kartapranata)
  • Saat berlari, napas menjadi lebih cepat dan dalam sehingga tubuh dapat menghirup lebih banyak polutan dibanding saat istirahat.

  • Aktivitas fisik tetap bermanfaat, tetapi paparan polusi bisa mengurangi sebagian manfaatnya dan memicu gangguan jangka pendek pada paru-paru.

  • Cek ISPU, pilih rute yang jauh dari lalu lintas padat, dan pindahkan latihan ke dalam ruangan saat kualitas udara memburuk.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Berlari di tengah hiruk-pikuk kota menjadi pilihan banyak orang untuk menjaga kebugaran. Namun, di balik manfaat olahraga ini, ada ancaman yang kerap tidak disadari, yaitu polusi udara.

Saat berlari, tubuh membutuhkan lebih banyak oksigen sehingga frekuensi dan volume napas meningkat. Kondisi ini membuat pelari menghirup lebih banyak udara, termasuk partikel polutan yang berpotensi membahayakan kesehatan.

Paparan polusi udara saat berolahraga dapat memengaruhi saluran pernapasan, paru-paru, hingga kesehatan jantung, terutama jika aktivitas dilakukan di area dengan lalu lintas padat atau kualitas udara yang buruk.

Risiko tersebut tidak selalu sama pada setiap hari maupun setiap orang. Konsentrasi polutan di udara, durasi dan intensitas latihan, rute lari, serta kondisi kesehatan pelari dapat memengaruhi besarnya risiko yang dihadapi. Karena itu, keputusan untuk berlari di luar ruangan sebaiknya mempertimbangkan kualitas udara pada saat itu.

  1. 1. Saat berlari, kamu menghirup lebih banyak udara

    Saat lari, tubuh membutuhkan lebih banyak oksigen. Napas menjadi lebih cepat dan dalam. Pelari juga cenderung bernapas lewat mulut. Akibatnya, jumlah udara (dan polutan di dalamnya) yang masuk ke paru-paru bisa bertambah.

    Dosis polusi yang terhirup dipengaruhi oleh konsentrasi polutan, volume udara yang dihirup, dan durasi paparan. Jadi, kalau kamu lari selama 1 jam di jalanan yang padat kendaraan bermotor, paparannya tentu berbeda dengan durasi yang sama di rute yang lebih sepi.

  2. 2. Partikel halus dan gas pencemar dapat mengganggu kesehatan

    Partikel halus PM2.5 dapat masuk jauh ke dalam paru-paru, bahkan mencapai aliran darah. Paparan jangka pendek maupun panjang terhadap partikel ini berkaitan dengan gangguan pernapasan dan kardiovaskular.

    Ozon dan nitrogen dioksida juga dapat memicu peradangan saluran napas atau memperburuk asma.

    Menghirup udara yang tercemar saat berlari dapat memengaruhi fungsi paru-paru untuk sementara waktu dan menimbulkan respons peradangan pada saluran napas. Akan tetapi, hasil penelitian jangka pendek tersebut tidak berarti bahwa satu kali lari dalam kondisi udara yang buruk langsung meningkatkan risiko penyakit jangka panjang.

  3. 3. Risiko dipengaruhi kualitas udara, durasi, rute, dan kondisi tubuh

    Ilustrasi seseorang berlari di trotoar perkotaan, dikelilingi lalu lintas dan gedung dalam suasana polusi udara.
    ilustrasi lari di perkotaan yang berpolusi (unsplash.com/Diana Rafira)

    Sebuah tinjauan penelitian tahun 2025 yang menganalisis 22 studi menemukan bahwa dampak buruk pada paru-paru lebih sering terjadi ketika tingkat polusi udara melebihi batas yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Risiko juga lebih sering terlihat pada sesi olahraga yang berlangsung 2 jam atau lebih. Sementara itu, pengaruh intensitas olahraga masih belum jelas.

    Penelitian yang khusus meneliti pelari masih sangat terbatas. Dari 22 studi tersebut, cuma satu yang melibatkan aktivitas lari, sedangkan sebagian besar meneliti bersepeda atau berjalan kaki. Karena itu, belum ada bukti yang cukup untuk menentukan batas kualitas udara atau durasi lari yang aman bagi semua pelari.

  4. 4. Tetap aktif, sambil mengurangi paparan jika memungkinkan

    WHO menyatakan aktivitas fisik rutin tetap penting, bahkan ketika kualitas udara tidak ideal. Namun, polusi dapat mengurangi sebagian manfaat jangka pendek maupun jangka panjangnya. WHO juga mengingatkan bahwa bukti penelitian masih terbatas untuk negara berpendapatan rendah dan menengah serta kelompok yang lebih rentan terhadap polusi.

    Artinya, kualitas udara buruk tidak harus membuat seseorang berhenti bergerak sama sekali. Jika paparan sedang meningkat, pelari dapat mengubah lokasi, waktu, intensitas, atau durasi latihan. Saat polusi tinggi, latihan di dalam ruangan dapat menjadi pilihan yang lebih baik.

  5. 5. Kualitas udara tidak selalu sama

    Pedoman WHO untuk PM2.5 adalah rata-rata 15 mikrogram per meter kubik untuk 24 jam dan 5 mikrogram per meter kubik untuk setahun. Angka itu merupakan pedoman kualitas udara berbasis kesehatan.

    Kualitas udara juga dapat berubah dari satu waktu dan lokasi ke waktu dan lokasi lain. Karena itu, angka dari satu stasiun pemantauan belum tentu menggambarkan paparan persis di sepanjang rute lari.

  6. 6. Cek ISPU dan sesuaikan latihan dengan kategorinya

    Di Indonesia, masyarakat dapat memantau kualitas udara melalui ISPUNet KLH/BPLH atau kanal resmi pemerintah daerah. Skala ISPU berbeda dari skala AQI yang digunakan di sejumlah aplikasi luar negeri.

    Panduan pemerintah mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas luar ruangan ketika ISPU di atas 100. Ketika nilainya di atas 200, masyarakat dianjurkan sebisa mungkin beraktivitas di dalam ruangan. Untuk pelari, ini dapat menjadi alasan untuk mengurangi durasi atau intensitas, atau memindahkan latihan ke dalam ruangan

  7. 7. Pilih rute yang mengurangi paparan, terutama bagi kelompok rentan

    Saat kualitas udara memungkinkan untuk berlari di luar, pilih rute yang lebih jauh dari jalan ramai, antrean kendaraan, dan area konstruksi.

    Konsentrasi polutan berubah menurut lokasi dan waktu, sehingga taman atau jalur yang lebih sepi dapat mengurangi paparan dari lalu lintas, meski ini tidak menjamin udaranya bebas polusi.

    Orang dengan asma, penyakit paru atau jantung, anak-anak, lansia, dan ibu hamil perlu lebih berhati-hati saat kualitas udara memburuk. Jika mengalami mengi, dada terasa sesak, batuk, atau napas terasa lebih berat dari biasanya, hentikan latihan dan cari udara yang lebih bersih.

    Jika keluhan berat atau tidak mereda, cari pertolongan medis.

    Jadi, lari di kota saat udara tercemar memiliki risiko yang bergantung pada tingkat polusi dan paparan tiap orang. Memeriksa ISPU menjauhi ruas padat kendaraan, dan menyesuaikan latihan membantu pelari tetap aktif sambil mengurangi paparan yang tidak perlu.

    Referensi

    Alícia Josa-Culleré et al., “Effects of the Inhaled Dose of Air Pollution on Health: A Systematic Review,” European Respiratory Review 34, no. 177 (2025): 250042, https://doi.org/10.1183/16000617.0042-2025.

    World Health Organization (WHO), “Air Quality, Energy and Health: Health Impacts of Types of Pollutants,” diakses 5 Oktober 2026, https://www.who.int/teams/environment-climate-change-and-health/air-quality-and-health/health-impacts/types-of-pollutants.

    Scarlett Moloney, Jane Black, Valerie Gladwell, Nic Bury, and Gavin Devereux, “The Role of Ambient Air Pollution, Exercise Intensity and Duration on the Acute Lung Function and Airway Inflammation Responses to Exercise: A Systematic Review,” Sport Sciences for Health 21 (2025): 1459–85, https://doi.org/10.1007/s11332-025-01416-8.

    WHO, “Air Pollution: Personal Interventions and Risk Communication,” 4 Oktober 2024.

    WHO, WHO Global Air Quality Guidelines: Particulate Matter (PM2.5 and PM10), Ozone, Nitrogen Dioxide, Sulfur Dioxide and Carbon Monoxide: Executive Summary (Geneva: World Health Organization, 2021), https://www.who.int/publications/i/item/9789240034433.

    Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, “Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) sebagai Informasi Mutu Udara Ambien di Indonesia,” 24 September 2020.

    Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, “ISPUNet KLH/BPLH,” diakses 5 Oktober 2026.

    Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, “Menteri LH Terapkan Upaya Mitigasi, Pemantauan Intensif hingga Penegakan Hukum Serius untuk Lindungi Langit Biru Jabodetabek,” diakses 5 Oktober 2026.

Share Article
Editorial Team

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More