Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Polusi Udara Bisa Bikin Flu Lebih Berat? Ini Faktanya

4 min read
Polusi Udara Bisa Bikin Flu Lebih Berat? Ini Faktanya
ilustrasi polusi udara (IDN Times/Anjani Asra)
  • Polusi udara tidak menyebabkan flu, tetapi dapat membuat saluran napas lebih rentan terhadap infeksi.

  • Meta-analisis menemukan peningkatan PM2.5 berkaitan dengan kenaikan kecil risiko influenza, meski hasil penelitian berbeda-beda.

  • Saat kualitas udara buruk, kurangi aktivitas fisik di luar ruangan dan gunakan respirator partikulat yang terpasang rapat bila perlu.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Batuk, tenggorokan terasa mengganjal, dan napas yang lebih berat dapat muncul ketika seseorang mengalami flu atau menghirup udara yang tercemar. Keduanya juga dapat terjadi bersamaan, terutama ketika kualitas udara sedang buruk.

Flu disebabkan oleh virus influenza yang menular dari orang ke orang. Polusi udara tidak secara langsung menyebabkan influenza, tetapi dapat memengaruhi kondisi saluran napas dan respons tubuh terhadap infeksi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut polusi udara sebagai salah satu penyebab penting penyakit pernapasan.

  1. 1. Polusi dapat mengganggu pertahanan alami saluran napas

    Saluran napas memiliki beberapa lapisan perlindungan, termasuk lendir, rambut getar atau silia, serta sel-sel imun yang membantu menangkap dan membersihkan partikel maupun kuman.

    Partikel polusi, terutama PM2.5, berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam paru-paru. Paparan ini dapat memicu peradangan dan stres oksidatif, sekaligus mengganggu fungsi sel pelapis saluran napas dan pertahanan imun lokal.

    Polusi dapat mengganggu penghalang alami saluran napas dan mengubah respons sel paru terhadap patogen. Akibatnya, tubuh berpotensi menjadi lebih mudah terinfeksi atau mengalami peradangan yang lebih berat ketika virus sudah masuk tubuh.

  2. 2. PM2.5 berkaitan dengan peningkatan risiko influenza

    PM2.5 adalah partikel berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Sumbernya antara lain asap kendaraan, pembakaran, aktivitas industri, kebakaran hutan, dan asap rokok.

    Menurut metaanalisis yang meninjau 16 penelitian mengenai hubungan PM2.5 dan influenza, ditemukan bahwa setiap kenaikan PM2.5 harian sebesar 10 mikrogram per meter kubik berkaitan dengan peningkatan risiko influenza sekitar 1,5 persen.

  3. 3. Polusi bisa menambah beban pada pasien flu

    Ilustrasi warga memakai masker berjalan di kawasan perkotaan dengan polusi udara, debu, dan asap pekat.
    ilustrasi perkotaan, polusi udara, debu, asap, pakai masker (magnific.com/jcomp)

    Ketika seseorang terkena flu, saluran napas dan paru-paru dapat mengalami peradangan. Jika pada saat yang sama orang tersebut menghirup udara dengan kadar partikel atau gas pencemar yang tinggi, iritasi pada saluran napas dapat bertambah.

    Penelitian berbasis data sembilan tahun di Luoyang, China, menemukan bahwa paparan jangka pendek terhadap PM2.5, PM10, ozon, sulfur dioksida, dan karbon monoksida berkaitan dengan peningkatan risiko rawat inap akibat influenza A(H1N1).

    Penelitian tersebut bersifat observasional sehingga tidak dapat membuktikan bahwa polusi merupakan satu-satunya penyebab rawat inap, tetapi hasilnya memperkuat dugaan bahwa kualitas udara dapat memengaruhi beban penyakit influenza.

  4. 4. Gejalanya bisa saling menyerupai

    Influenza biasanya menyebabkan demam yang muncul tiba-tiba, batuk, sakit kepala, nyeri otot, sakit tenggorokan, pilek, dan kelelahan. Sementara itu, polusi udara dapat memicu batuk, iritasi tenggorokan, sesak, atau memperburuk asma dan penyakit paru lainnya.

    Karena gejalanya dapat tumpang tindih, keluhan saja tidak cukup untuk memastikan seseorang terkena flu. Pemeriksaan medis atau laboratorium mungkin diperlukan, terutama jika gejalanya berat, menetap, atau muncul pada kelompok berisiko tinggi.

  5. 5. Anak, lansia, dan orang dengan penyakit kronis lebih rentan

    Anak kecil, lansia, ibu hamil, serta orang dengan asma, penyakit paru, penyakit jantung, diabetes, atau daya tahan tubuh rendah dapat lebih rentan terhadap dampak flu maupun polusi udara.

    Pada kelompok tersebut, infeksi influenza dapat berkembang menjadi komplikasi seperti pneumonia atau memperburuk penyakit yang sudah ada.

    Paparan polusi juga dapat mempersempit saluran napas dan membuat gejala pernapasan lebih mudah muncul.

  6. 6. Apa yang bisa dilakukan saat kualitas udara buruk?

    Ilustrasi seseorang melindungi diri dari paparan polusi udara dan asap kebakaran hutan serta lahan.
    ilustrasi seseorang melindungi diri dari paparan polusi udara, asap karhutla. (magnific.com/Lifestylememory)

    Saat kualitas udara menurun, beberapa langkah berikut dapat membantu mengurangi paparan:

    • Cek informasi kualitas udara sebelum beraktivitas di luar.
    • Tunda olahraga berat di luar ruangan ketika polusi tinggi.
    • Pilih aktivitas yang lebih ringan dan singkat jika harus keluar.
    • Gunakan respirator partikulat seperti N95 yang terpasang rapat ketika berada di area berasap atau sangat tercemar.
    • Kurangi sumber polusi di dalam rumah, termasuk asap rokok dan pembakaran.
    • Gunakan penyaring udara dengan filter HEPA jika tersedia.

    Respirator yang menutup hidung dan mulut dengan rapat dapat membantu menyaring partikel seperti PM2.5, asap, dan abu. Namun, penggunaannya perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan, terutama bagi orang yang memiliki penyakit jantung atau paru.

    Jika sedang flu, gunakan masker ketika berada di dekat orang lain, tutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin, serta beristirahat di rumah selama kondisi menular masih mungkin terjadi.

    Polusi udara tidak menyebabkan flu secara langsung, tetapi dapat melemahkan pertahanan saluran napas dan memperburuk dampak infeksi influenza. Karena itu, polusi bukan satu-satunya penyebab seseorang terkena atau mengalami flu yang lebih berat.

    Untuk mengurangi risiko, penting membatasi paparan polusi, menjaga kualitas udara dalam ruangan, menerapkan etika batuk, dan segera mencari pertolongan medis jika gejala memburuk atau terjadi pada kelompok rentan.

    Referensi

    Curtis Noonan, and Erin L. Landguth. “A Systematic Review and Meta-Analysis on the Association between PM2.5 Exposure and Increased Influenza Risk.” Frontiers in Epidemiology 5 (2025): 1475141. https://doi.org/10.3389/fepid.2025.1475141.

    World Health Organization. “Air Pollution.” Diakses September 2026.

    World Health Organization. “Air Pollution: Personal Interventions and Risk Communication.” Diakses September 2026.

    World Health Organization. “Influenza (Seasonal).” Diakses September 2026.

    Zhou, Hua, Yanbin Du, Yingjian Zhu, Yang Chen, et al. “The Effect of Air Pollution on the Risk of Hospitalization for H1N1 Influenza Based on GAM and DLNM Models.” BMC Infectious Diseases 26 (2026): 841. https://doi.org/10.1186/s12879-026-13110-2.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More