Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Benarkah Sapi Bisa Mogok Makan Ketika Kehilangan Sahabatnya?

Benarkah Sapi Bisa Mogok Makan Ketika Kehilangan Sahabatnya?
Sapi (pexels.com/Christina)
Intinya Sih
  • Sapi hidup berkelompok dan membentuk ikatan sosial kuat yang membantu menjaga kesehatan mental serta fisik, termasuk menurunkan stres dan meningkatkan produktivitas.
  • Penelitian menunjukkan sapi memiliki emosi kompleks seperti takut, cemas, hingga bahagia; mereka mampu mengenali individu lain dan merespons perlakuan manusia secara emosional.
  • Sapi bisa mogok makan saat kehilangan sahabatnya karena stres akibat pemisahan, di mana kehadiran teman dekat berperan sebagai penenang alami melalui fenomena Social Buffering.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Siapa sangka hewan yang sering kita jumpai ini ternyata menyimpan pola emosi yang unik dan tidak semua hewan memilikinya. Layaknya manusia yang baru saja berpisah dari sahabatnya, sapi juga mengalami kesedihan mendalam jika sahabatnya mati atau dipisahkan dengan sengaja.

Beberapa tanda menunjukkan betapa gelisahnya sapi tatkala sahabat yang selalu bersama dalam berbagai situasi harus meninggalkannya. Tidak segan-segan, sapi bahkan bisa mogok makan saking kehilangannya. Dalam artikel ini kita akan mempelajari bagaimana emosi sapi sampai-sampai ia nekat mogok makan saat ditinggal sahabatnya.

1. Memahami kehidupan sosial sapi

Sapi
Sapi (pexels.com/Leif)

Sapi hidup dalam kelompok yang disebut kawanan. Dalam kawanan ini, mereka mengembangkan hierarki sosial yang membantu menjaga ketertiban. Sapi sering menunjukkan perilaku seperti saling menjilat atau berdiri berdekatan sebagai tanda persahabatan atau kenyamanan. Adanya interaksi ini tidak hanya memperkuat ikatan, namun juga membantu mengurangi stres di antara anggota kawanan.

Ikatan sosial di antara sapi memainkan peran penting, hal ini mendukung kesehatan mental dan fisik mereka. Sapi yang memiliki hubungan baik dengan sesamanya cenderung lebih bahagia dan sehat secara keseluruhan. Mereka lebih sedikit mengalami stres, yang dapat meningkatkan produksi susu dan kualitas daging pada sapi ternak.

2. Apakah sapi punya perasaan?

Sapi
Sapi (pexels.com/Eugene)

Dilansir Psychology Today, sapi memiliki kemampuan untuk mempelajari berbagai tugas dengan cepat, memiliki memori jangka panjang, memperkirakan lokasi objek bergerak yang tersembunyi, membedakan rangsangan kompleks, serta membedakan manusia satu sama lain.

Mengutip dari artikel tersebut, dijelaskan bahwa anak sapi maupun sapi dewasa mampu menunjukkan respons rasa takut yang dipelajari terhadap manusia yang sebelumnya telah memperlakukan mereka dengan kasar. Sapi juga mampu menunjukkan memori spasial yang kompleks, mereka dapat membedakan antara sapi individu dan mengenali wajah sapi sebagai berbeda dari wajah spesies lainnya.

Sudah banyak penelitian yang mengamati tentang kehidupan emosional sapi dan sebagaimana diketahui, bahwa sapi mengalami berbagai macam emosi. Mereka dapat menunjukkan rasa takut atau cemas.

Di mana semakin sedikit bagian putih mata yang terlihat, maka semakin baik perasaan mereka. Ketika induk sapi dipisahkan dari anak-anaknya, seperti yang dilakukan saat mereka dipersiapkan untuk makan, terjadi peningkatan jumlah bagian putih pada matanya.

Telinga juga menjadi indikator bagaimana keadaan emosi sapi. Postur telinga yang rileks biasanya menunjukkan bahwa sapi merasa dirinya baik-baik saja. Sapi juga suka bermain layaknya hewan lain. Selain itu, ketika sapi stres, misalnya setelah tubuhnya di cap besi panas sebagai penanda, mereka menunjukkan penurunan kemampuan untuk menilai rangsangan yang ambigu.

Sapi juga menunjukkan perilaku penularan emosi. Bentuk penularan emosi yang dimediasi oleh isyarat penciuman telah menunjukkan bahwa ketika sapi terpapar sesama spesies stres, mereka juga menunjukkan respon stres yang nyata, seperti penurunan asupan makan dan peningkatan pelepasan kortisol.

3. Mengapa sapi mogok makan saat ditinggal sahabatnya?

Sapi
Sapi (unsplash.com/Gilles)

Penelitian dari Universitas Northampton menemukan bahwa sapi memiliki pertemanan yang selektif dan mengalami stres yang jauh lebih sedikit ketika mereka bergaul dengan teman-temannya.

Dalam penelitian tersebut, McLennan melakukan pengamatan di sebuah peternakan sapi perah tertentu untuk memastikan sapi mana yang paling akrab. Beberapa ribu pengamatan dicatat saat hewan-hewan tersebut merumput, beristirahat, dan diberi makan.

Ia mencari sapi mana yang paling sering mereka dekati. Peneliti menemukan pola hubungan preferensial yang jelas, dengan lebih dari 50% menghabiskan waktu dan berbagi ruang dengan satu pasangan. Menariknya, preferensi ini tidak didasarkan pada hubungan biologis.

Peneliti kemudian mengamati efek fisiologis atau perilaku dari pemisahan kawanan. Mereka mengambil sebelas ekor sapi yang membentuk enam pasangan hubungan pilihan. Di mana satu sapi berteman baik dengan dua sapi lainnya.

Sapi-sapi tadi kemudian diisolasi dari kawanan selama 30 menit dengan pasangan pilihan mereka, dan selama 30 menit dengan sapi acak yang bukan pasangan pilihan. Temuan menunjukkan bahwa sapi yang dipisahkan dengan pasangan pilihan mereka menunjukkan detak jantung yang jauh lebih tenang dan tingkat kegelisahan lebih rendah, dibandingkan jika mereka bertemu sapi acak.

Sapi seringkali dihadapkan pada situasi, di mana mereka harus terpisah dari kawanan. Pemisahan ini dapat bersifat jangka pendek, misalnya adanya pemeriksaan rutin oleh dokter hewan atau ditempatkan di kandang isolasi. Sementara itu, pemisahan jangka panjang dalam lingkungan komersial, ini kemungkinan besar merupakan hasil dari metode pertanian dasar atau disebut pengelompokan ulang.

Misalnya, sapi yang sedang menyusui dikelompokkan bersama dan dipisahkan dari sapi yang tidak menyusui. Hasilnya, pemisahan kawanan baik jangka pendek atau jangka panjang dapat menimbulkan stres, yang diamati melalui peningkatan vokalisasi, perlawanan fisik, dan peningkatan detak jantung. Pengelompokan ulang juga merupakan penyebab stres yang sangat tinggi, artinya sapi-sapi harus beradaptasi dengan hierarki sosial kelompok baru.

Pada sapi dan anak sapi, pemisahan dan pengelompokan kembali umumnya memicu tanda-tanda yang cukup mudah dikenali, bahkan tanpa peralatan. Beberapa tanda tersebut diamati sebagai peningkatan suara, gerakan gelisah, pengurangan waktu istirahat, peningkatan kewaspadaan, penurunan nafsu makan dan lebih banyak waktu yang dihabiskan untuk memeriksa gerbang atau batas pagar.

Dilansir A-Z Animals, sapi merasa lebih aman saat bersama teman dekatnya. Fenomena ini disebut Social Buffering. Di mana kehadiran teman akrab berfungsi sebagai sistem keamanan yang membantu sapi tetap tenang saat menghadapi berbagai situasi. Itulah mengapa, kehilangan sahabat adalah penyebab stres hingga berakhir mogok makan.

Dengan mempelajari kehidupan sosial sapi, dapat diambil kesimpulan bahwa sapi adalah makhluk sosial dan mampu merasakan emosi. Saking sosialnya, sapi bahkan memiliki teman dekat yang selalu membuatnya merasa aman di berbagai situasi, tidak heran kalau sapi akan stres, cemas, takut hingga mogok makan jika ditinggal sahabatnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Achmad Fatkhur Rozi
EditorAchmad Fatkhur Rozi
Follow Us

Latest in Science

See More