5 Fakta Kenai Fjords di Alaska, Mengalami Pergeseran Daratan Setiap Tahun

- Kenai Fjords National Park di Alaska menjadi laboratorium alam penting untuk mempelajari interaksi antara es, laut, dan pegunungan serta dampak perubahan iklim terhadap ekosistem pesisir.
- Pergerakan lempeng tektonik di zona subduksi Aleutian-Alaska membuat daratan Kenai Fjords terus naik sekitar 10 milimeter per tahun, membentuk lanskap geologis unik dengan sejarah panjang pembentukan benua.
- Pencairan gletser akibat pemanasan global mengubah ekosistem darat dan laut, memicu gangguan rantai makanan serta kematian massal burung laut seperti common murre di wilayah pesisir Alaska.
Kenai Fjords National Park yang terletak di bagian selatan Semenanjung Kenai, Alaska, menjadi salah satu wilayah penting bagi para peneliti untuk mengamati fenomena alam. Kawasan seluas 271.132 hektare ini memperlihatkan bagaimana interaksi antara es, laut, dan pegunungan memengaruhi kondisi bumi secara langsung.
Di tempat ini, para ahli dapat mempelajari pergerakan lempeng tektonik, mengamati dampak nyata dari perubahan iklim, serta melihat jejak sejarah masyarakat maritim yang telah bertahan selama ribuan tahun. Yuk, simak fakta lengkapnya di bawah ini!
1. Harding Icefield menjadi sumber air tawar bagi ekosistem sekitar

Harding Icefield adalah hamparan es di pusat Kenai Fjords dengan luas sekitar 1.800 kilometer persegi. Terbentuk sejak 23 ribu tahun lalu pada Zaman Pleistosen, ladang es ini menjadi sumber bagi 38 gletser yang mengalir ke berbagai arah. Beberapa gletser mengalir langsung ke laut, sementara yang lain berakhir di daratan atau danau glasial. Ladang es ini berfungsi mengikis batuan secara aktif dan menyediakan pasokan air tawar bagi ekosistem pesisir.
Namun, data satelit menunjukkan bahwa luas permukaan es ini berkurang sekitar 3 persen dalam waktu 16 tahun. Penyusutan gletser seperti Exit Glacier dan Bear Glacier menjadi bukti nyata dari perubahan tersebut, dengan tingkat penyusutan mencapai puluhan hingga ratusan kaki per tahun. Proses pencairan ini mengubah kondisi hidrologi, jumlah endapan sedimen, serta suhu air laut di sekitar teluk.
2. Pergeseran lempeng bumi membuat daratan di Kenai Fjords terus naik

Wilayah Kenai Fjords berada di zona subduksi Aleutian-Alaska, yaitu tempat Lempeng Pasifik bergeser ke bawah Lempeng Amerika Utara. Pergerakan lempeng ini memicu gempa bumi secara berkala sekaligus mendorong daratan ke atas. Berdasarkan pengukuran GPS sejak tahun 1990-an, garis pantai di taman nasional ini terangkat rata-rata 10 milimeter per tahun. Meski demikian, peristiwa seismik besar seperti Gempa Alaska 1964 juga pernah membuat daratan pantai turun antara 3 hingga 8 kaki dalam waktu singkat.
Secara geologis, batuan di kawasan ini merupakan bagian dari kompleks akresi Chugach–Prince William, yaitu material dasar laut yang menempel di tepi benua sejak masa purba. Peneliti juga menemukan bongkahan kerak bumi (terrane) berupa batu gamping yang mengandung fosil yang mirip dengan yang ditemukan di wilayah Asia. Bongkahan ini telah berpindah sejauh ribuan kilometer akibat pergerakan lempeng sebelum akhirnya membentuk daratan Alaska modern.
3. Pertemuan air tawar gletser dan air laut menjadi pusat makanan bagi biota laut

Kenai Fjords memiliki ekosistem estuari fjord, yaitu tempat bertemunya air tawar dari lelehan gletser dan air laut. Fenomena ini tergolong langka karena hanya ada di beberapa lokasi di dunia, termasuk Chili, Norwegia, Selandia Baru, Alaska, Greenland, dan Antartika. Air lelehan gletser membawa material halus hasil kikisan batu yang mengalir ke teluk, lalu mengendap di dasar laut yang memiliki kedalaman 600 hingga 1.000 kaki. Endapan ini memasok nutrisi penting seperti kalsium, zat besi, dan magnesium.
Nutrisi tersebut memicu pertumbuhan fitoplankton dalam jumlah besar pada musim semi, yang kemudian menjadi sumber makanan bagi zooplankton. Kelimpahan makanan ini menarik berbagai hewan laut, mulai dari ikan kecil hingga paus bungkuk yang bermigrasi dari perairan hangat. Hewan pemangsa seperti orca berada di puncak rantai makanan ini, sementara burung laut seperti common murre membentuk koloni besar hingga mencapai 10.000 individu untuk berburu ikan.
4. Suku asli Sugpiaq memanfaatkan kekayaan laut untuk bertahan hidup selama seribu tahun

Suku Sugpiaq, yang juga dikenal sebagai Alutiiq, adalah masyarakat maritim yang tinggal di pesisir luar Semenanjung Kenai. Bukti arkeologis menunjukkan bahwa mereka telah memanfaatkan kawasan ini setidaknya selama 1.000 tahun melalui berbagai periode perubahan iklim. Mereka bertahan hidup dengan mengandalkan pengetahuan mendalam tentang perilaku mamalia laut, migrasi burung, dan ketersediaan hewan buruan seperti anjing laut.
Dalam bahasa daerah mereka, "Sugpiaq" berarti "orang sejati", yang menegaskan hubungan erat antara komunitas tersebut dengan lingkungan tempat tinggal mereka. Suku ini membuat perahu tradisional (qayaq) untuk menjelajahi perairan dingin dengan aman. Hingga saat ini, aktivitas berburu tradisional mereka tetap berjalan melalui kerja sama dengan pihak pengelola taman nasional sebagai bentuk pelestarian budaya dan sejarah.
5. Pemanasan global mempercepat pencairan es dan mengganggu kehidupan satwa

Dampak perubahan iklim terlihat nyata di Kenai Fjords, di mana kawasan ini kehilangan sekitar 12 persen luas esnya antara tahun 1985 dan 2020. Wilayah Alaska mengalami peningkatan suhu dua kali lebih cepat dibanding rata-rata wilayah lain di Amerika Serikat. Pencairan es ini mengubah lanskap dengan memunculkan ekosistem baru, seperti hutan dan aliran sungai di area yang dulunya tertutup gletser.
Selain di darat, perubahan suhu juga berdampak besar pada ekosistem laut. Pada tahun 2014 hingga 2016, terjadi gelombang panas laut (marine heatwave) di Samudra Pasifik Utara yang berpusat di garis pantai Kenai Fjords. Fenomena ini menyebabkan gangguan pada rantai makanan laut dan memicu kematian massal sekitar 500 ribu hingga satu juta burung laut jenis common murre akibat kekurangan sumber makanan.



















