Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Bencana Lingkungan Apa yang Terjadi Akibat Serangan Udara di Iran?

Bencana Lingkungan Apa yang Terjadi Akibat Serangan Udara di Iran?
Sebuah pesawat tempur Grumman F-14A Tomcat Angkatan Laut AS dari Skuadron Tempur 114 (VF-114) Aardvarks terbang di atas sumur minyak yang diledakkan oleh pasukan Irak selama Perang Teluk 1991. (commons.wikimedia.org/Letnan Steve Gozzo, Angkatan Laut AS)
Intinya Sih
  • Serangan udara pada kilang minyak memicu polusi udara berbahaya dan hujan asam.

  • Dampaknya bersifat jangka panjang, termasuk kerusakan ekosistem dan peningkatan suhu global akibat karbon hitam.

  • Pencemaran air dan udara dari polutan beracun mengancam kesehatan manusia serta lingkungan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Selain korban jiwa dan kerusakan bangunan, serangan udara baru-baru ini di Iran akibat serangan Israel serta Amerika mengakibatkan kerusakan lingkungan jangka panjang. Dikutip Al Jazeera, pada 7 dan 8 Maret 2026, serangan udara AS-Israel menargetkan 30 depot minyak di berbagai wilayah di Iran, termasuk Teheran. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan peringatan tentang dampak buruk terhadap kesehatan masyarakat akibat serangan udara tersebut.

Kebakaran terus terjadi di fasilitas minyak di Iran selama beberapa hari. Adapun, asap hitam memenuhi udara. Nah, yang mengkhawatirkannya lagi ialah fenomena yang tampak seperti hujan hitam juga turun dari langit. Banyak orang yang terdampak merasakan sensasi terbakar di mata mereka bersamaan dengan sakit tenggorokan. Lalu, seberapa parahnya hal ini bagi lingkungan dan manusia?

1. Apa yang terjadi ketika serangan udara menghantam kilang minyak?

Kilang minyak dan fasilitas penyimpanan terbakar di Teheran, Iran, akibat serangan militer Amerika-Israel. Kobaran api dan asap hitam dari bahan bakar yang terbakar terlihat dari satelit.
Kilang minyak dan fasilitas penyimpanan terbakar di Teheran, Iran, akibat serangan militer Amerika-Israel. Kobaran api dan asap hitam dari bahan bakar yang terbakar terlihat dari satelit. (commons.wikimedia.org/CSU/CIRA & NOAA/NESDIS)

Saat serangan udara menargetkan kilang minyak, asap bakarannya membawa partikel berbahaya dari minyak yang terbakar. Ini terkumpul dalam uap air saat hujan turun. Partikel-partikel ini termasuk jelaga (karbon yang sebagian terbakar) dan hidrokarbon aromatik polisiklik, yang merupakan bahan kimia yang diketahui punya dampak buruk terhadap kesehatan. Selain itu, kebakaran minyak menyebabkan pelepasan sulfur dioksida dan nitrogen oksida, yang dapat menyebabkan pembentukan hujan asam.

Oksida nitrogen dan sulfur dioksida bereaksi dengan air serta oksigen di udara, yang membentuk asam nitrat sekaligus asam sulfat. Senyawa-senyawa ini menurunkan pH air hujan, yang bisa mengganggu ekosistem alami. Selain itu, awan yang membawa curah hujan berbahaya ini dapat terbawa angin hingga jarak yang jauh. Dilansir U.S. Environmental Protection Agency (EPA), hujan asam dapat berdampak negatif pada kehidupan tumbuhan maupun hewan dengan menurunkan pH tanah dan badan air setempat. Hal ini menyulitkan tumbuhan dan biota laut untuk berkembang sehingga memengaruhi sumber makanan bagi banyak spesies, yang menyebabkan dampak negatif lebih lanjut di hilir.

2. Serangan udara punya dampak jangka panjang terhadap lingkungan

Sebuah pesawat tempur Grumman F-14A Tomcat Angkatan Laut AS dari Skuadron Tempur 114 (VF-114) Aardvarks terbang di atas sumur minyak yang diledakkan oleh pasukan Irak selama Perang Teluk 1991.
Sebuah pesawat tempur Grumman F-14A Tomcat Angkatan Laut AS dari Skuadron Tempur 114 (VF-114) Aardvarks terbang di atas sumur minyak yang diledakkan oleh pasukan Irak selama Perang Teluk 1991. (commons.wikimedia.org/Letnan Steve Gozzo, Angkatan Laut AS)

Kita tahu kalau perang dapat menyebabkan kerusakan ekologis yang meluas. Selain itu, pemantauan dampak lingkungan dari konflik antara Israel/AS dan Iran secara real-time menjadi semakin sulit karena adanya pembatasan internet (akses internet mati), masalah satelit, dan jumlah insiden yang terus meningkat. Penggunaan senjata peledak juga dapat menyebabkan kontaminasi air. Tumpahan minyak dari serangan-serangan ini, khususnya, telah mencapai sistem drainase air hujan di Teheran dan berisiko mencemari badan air alami serta tanah di sekitarnya.

Faktor lain yang memperkuat efek iklim ialah karbon hitam yang meresap ke atmosfer dari serangan udara ini. Partikel-partikel ini diketahui mempercepat peristiwa iklim, termasuk kenaikan suhu. Pemboman baru-baru ini di Iran lebih mengkhawatirkan dibandingkan dengan kebakaran minyak yang terjadi selama Perang Teluk di Kuwait.

Dalam kasus Perang Teluk, karbon hitam dari kebakaran minyak terbawa ke gletser di Tibet utara. Di sana, partikel-partikel gelap tersebut menempel di permukaan es sehingga mengurangi kemampuan gletser untuk memantulkan radiasi Matahari dan meningkatkan penyerapannya. Dampaknya, suhu menjadi lebih tinggi. Peristiwa ledakan dahsyat semacam itu dapat berkontribusi pada peningkatan suhu di bagian lain dunia. Sebuah model yang memproyeksikan pergerakan asap dari serangan udara menunjukkan bahwa sebagian jelaga mungkin terbawa ke Siberia, tempat banyak gletser berada.

3. Serangan udara memperparah pencemaran air

pencemaran air yang membunuh ikan-ikan
pencemaran air yang membunuh ikan-ikan (commons.wikimedia.org/U.S. Fish and Wildlife Service)

Laporan tentang pencemaran air muncul di sekitar Teheran. Para ilmuwan memperingatkan bahwa ada polutan yang berpotensi karsinogenik (menyebabkan kanker) di perairan yang berdampak buruk pada kesehatan. Kekeringan sendiri membuat akses air minum sulit dijumpai di Iran. Apalagi, negara ini dikenal memiliki tingkat stres air yang tinggi. Para ahli menekankan bahwa serangan udara hanya akan memperburuk masalah ini pada masa depan.

4. Karbon hitam akibat serangan udara dapat merusak iklim, kualitas udara, dan masalah kesehatan pada manusia

ilustrasi polusi akibat dampak pemanasan global
ilustrasi polusi akibat dampak pemanasan global (pixabay.com/Orna)

Nah, karena asap dari kebakaran minyak mencemari udara di sekitarnya, banyak orang yang terpapar dan menghirup zat-zat beracun. Selain dampaknya yang diproyeksikan terhadap iklim, karbon hitam diketahui memiliki dampak buruk pada kesehatan, menyebabkan masalah kardiovaskular dan pernapasan serta meningkatkan risiko kanker paru-paru. Zat lain yang terbawa dalam asap, seperti partikel halus, dapat menyebabkan kerusakan sistemik yang meluas, termasuk gangguan neurologis, seperti yang dilaporkan Climate and Clean Air Coalition (CCAC).

Masalahnya, populasi yang paling rentan akibat dampak dari serangan udara ialah mereka yang punya masalah dengan kondisi pernapasan, anak-anak, dan lansia. Meski penggunaan masker dan tetap berada di dalam ruangan bisa membatasi paparan polutan berbahaya tersebut, hal itu tidak selalu tersedia pada masa perang. Secara keseluruhan, kesehatan sangat terkait dengan kondisi lingkungan.

Jadi, peristiwa bencana lingkungan akibat serangan udara pasti menimbulkan defisit akut dan efek jangka panjang. Tingkat keparahan dampak jangka panjang ini bergantung pada waktu dan penelitian lebih lanjut. Sementara itu, konflik global yang berkelanjutan ini hanya akan memperparah dampaknya terhadap alam dan umat manusia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎
Follow Us

Related Articles

See More