ilustrasi embun upas (commons.wikimedia.org/Benni Indo)
Menurut BMKG, suhu udara yang terasa lebih dingin di sejumlah wilayah Indonesia pada Juli hingga September bukan disebabkan oleh fenomena aphelion, melainkan karena pengaruh musim kemarau. Pada periode ini, Pulau Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara umumnya mengalami musim kemarau yang ditandai dengan bertiupnya angin muson timur dari Benua Australia menuju Indonesia.
Angin tersebut berasal dari Australia yang sedang mengalami musim dingin sehingga membawa massa udara yang lebih sejuk. Sebelum mencapai Indonesia, angin ini juga melintasi Samudra Hindia yang memiliki suhu permukaan laut relatif lebih dingin. Akibatnya, suhu udara di wilayah Indonesia bagian selatan khatulistiwa, seperti Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, terasa lebih rendah, terutama pada pagi dan malam hari.
Selain itu, musim kemarau juga membuat jumlah awan dan curah hujan berkurang. Kondisi langit yang cenderung cerah menyebabkan panas yang dilepaskan permukaan Bumi pada malam hari lebih mudah keluar ke atmosfer tanpa tertahan oleh awan atau uap air. Inilah yang membuat udara terasa lebih dingin saat malam hingga menjelang pagi. Fenomena ini merupakan kondisi alamiah yang terjadi setiap tahun, bahkan di daerah dataran tinggi seperti Dieng dapat memicu terbentuknya embun es atau embun upas.