3 Fakta Daratan Baru Anak Krakatau, Benarkah Cucu Krakatau?

Kemunculan daratan baru di sekitar Gunung Anak Krakatau tengah jadi perbincangan hangat di kalangan publik. Pasalnya, daratan baru tersebut muncul setelah Gunung Anak Krakatau erupsi pada awal September 2026. Di media sosial, daratan tersebut bahkan ramai disebut sebagai “cucu Krakatau”.
Namun, sebutan itu bukan istilah geologi resmi sehingga perlu dilihat dari fakta dan proses geologi yang sebenarnya. Daratan baru di sekitar Anak Krakatau ini masih harus diteliti oleh para ahli sebelum diputuskan apakah ia gunung api baru atau bukan. Lantas, apa saja fakta tentang daratan baru Gunung Anak Krakatau tersebut? Yuk, simak lebih lanjut di bawah ini!
1. Terbentuk dari material vulkanik yang terlontar dan menumpuk

ilustrasi material vulkanik gunung api (pexels.com/Gylfi Gylfason) Daratan baru di sekitar Gunung Anak Krakatau diperkirakan mencapai luas sekitar 30,3 hektare setelah aktivitas erupsi meningkat pada awal September 2026. Mengutip laporan IDN Times, Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau, Suwarno, mengatakan daratan tersebut terbentuk dari material vulkanik yang terlontar, kemudian menumpuk di sekitar kawasan gunung api. Material tersebut berasal dari aktivitas erupsi yang berlangsung secara intens dan terus mengubah bentuk kawasan Anak Krakatau.
Penambahan daratan ini terlihat dari perubahan morfologi kawasan gunung api setelah rangkaian erupsi tersebut. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik Anak Krakatau masih berperan dalam membentuk dan mengubah permukaan daratan di sekitarnya. Namun, luas daratan baru tersebut masih bisa berubah seiring berlanjutnya aktivitas erupsi maupun proses alami seperti pengikisan oleh laut.
2. Gumuk baru tersebut belum tentu jadi gunung api baru

ilustrasi daratan gunung api (unsplash.com/Katia De Juan) Munculnya gumuk atau gundukan baru akibat aktivitas erupsi tidak otomatis berarti terbentuk gunung api baru. Dilansir United States Geological Survey (USGS), bentuk permukaan saja tidak cukup untuk menentukan apakah sebuah gundukan merupakan gunung api. Perlu diketahui apakah ada saluran tempat magma naik dari dalam bumi. Bahkan, beberapa kerucut kecil yang terbentuk dari letusan bisa sebenarnya merupakan bagian dari gunung api yang sudah ada, bukan gunung api yang berdiri sendiri.
Selain itu, penelitian yang dipublikasikan dalam Bulletin of Volcanology: Official Journal of the International Association of Volcanology and Chemistry of the Earth's Interior (IAVCEI) pada 2026 menunjukkan bahwa daratan vulkanik baru memiliki bentuk dan umur yang sangat beragam. Sebagian daratan hasil erupsi bisa bertahan selama bertahun-tahun atau bahkan puluhan tahun, sedangkan yang lain terkikis dan menghilang hanya dalam hitungan minggu atau bulan. Karena itu, gumuk baru di sekitar Anak Krakatau masih perlu diamati lebih lanjut untuk mengetahui bagaimana bentuknya berkembang dan apakah memiliki hubungan langsung dengan sumber magma di bawah permukaan.
3. Sebutan “cucu Krakatau” bukan istilah geologi

Gunung Anak Krakatau (commons.wikimedia.org/Uprising) Sebutan “cucu Krakatau” belum tepat digunakan untuk menyebut daratan baru di sekitar Anak Krakatau karena belum terbukti bahwa daratan tersebut merupakan gunung api baru. Daratan tersebut masih berupa gumuk yang terbentuk dari material hasil erupsi sehingga tidak bisa langsung dianggap sebagai gunung api baru. Sementara itu, istilah “Anak Krakatau” memang digunakan dalam geologi karena gunung api tersebut tumbuh setelah letusan besar Krakatau pada 1883.
Smithsonian Global Volcanism Program mencatat Anak Krakatau sebagai kerucut gunung api yang tumbuh di dalam kaldera Krakatau. USGS juga menyebutnya sebagai Child of Krakatau karena gunung api tersebut muncul dari laut setelah kehancuran Krakatau. Jadi, “cucu Krakatau” lebih tepat disebut sebagai sebutan populer, bukan istilah geologi resmi.
Daratan baru di sekitar Anak Krakatau menunjukkan bahwa aktivitas erupsi bisa terus mengubah bentuk kawasan gunung api. Namun, daratan tersebut masih dapat berubah seiring aktivitas vulkanik dan proses pengikisan oleh laut. So, menurutmu, apakah gumuk baru seluas lebih dari 30 hektare tersebut benar-benar akan berubah menjadi gunung api?
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)







![[QUIZ] Jika Reinkarnasi Nyata, Kamu Akan Jadi Ras Kucing Apa?](https://image.idntimes.com/post/20250512/pexels-cottonbro-6869635-489819b0c9f6cdefe4be148ca2c50336-3356bb90edbb266fc103ede6161cd043.jpg)










![[QUIZ]Pilih Batu Kristal Ini, Kami Tebak Seberapa Menyenangkan Dirimu](https://image.idntimes.com/post/20221101/pexels-mikhail-nilov-6932084-34ad38a2ffe93ff890d5524b702be458-e03bee3c9a58e880a05daed3dcc87574.jpg)

![[QUIZ] Apakah Kucingmu Pintar? Cari Tahu Lewat Kuis Ini](https://image.idntimes.com/post/20240912/apakah-kucing-pintar-800649d5b1db2e2d2e7ceeadc3a26252.jpg)
