5 Fakta Tamandua Utara, Punya Ekor Prehensil yang Serbaguna

- Tamandua utara adalah mamalia yang memiliki moncong dan lidah panjang untuk mencari makanan.
- Tersebar di Amerika Tengah hingga Selatan, tamandua utara suka beraktivitas pada malam hari.
- Mereka memiliki ekor semiprehensil dan kaki kuat untuk hidup di atas pohon.
Tamandua (genus Tamandua) merupakan kelompok mamalia yang terdiri atas dua spesies utama, yakni tamandua selatan (Tamandua tetradactyla) dan tamandua utara (Tamandua mexicana). Keduanya masih berkerabat dekat dengan giant anteater atau tenggiling raksasa (Myrmecophaga tridactyla) sehingga wajar kalau beberapa bagian fisik mereka tampak serupa dengan kerabat tersebut. Tentunya, kedua spesies tamandua ini memiliki perbedaan masing-masing. Namun, pada kesempatan ini, kita akan berkenalan lebih dalam dengan tamandua utara.
Secara penampilan, tamandua utara memiliki perpaduan rambut berwarna putih dan hitam yang terlihat seperti seseorang yang mengenakan baju. Rambut area kepala, sebagian punggung, kaki-kaki, dan ekor berwarna putih kekuningan. Sementara, bagian pinggang hingga pangkal ekor, perut, dan sedikit area leher hewan ini berwarna hitam. Tentunya, tamandua utara dilengkapi dengan moncong dan lidah panjang yang mereka andalkan untuk mencari makanan.
Secara ukuran, tamandua utara sedikit lebih kecil dari tamandua selatan. Panjang tubuh mereka dari ujung kepala sampai ujung ekor sekitar 102—130 cm dengan bobot 3—5,4 kg. Pastinya, ada sederet fakta menarik lain dari tamandua utara ini. Untuk itu, yuk, simak penjelasan di bawah ini hingga tuntas!
1. Peta persebaran dan habitat alami

Sama seperti saudara mereka, tamandua utara juga berada di Benua Amerika. Bedanya, tamandua yang satu ini tersebar di Amerika Tengah hingga Amerika Selatan. Dilansir Animalia, tamandua utara ditemukan mulai dari wilayah selatan Meksiko, seluruh negara Amerika Tengah (kecuali Kepulauan Karibia), Kolombia, Venezuela, Ekuador, dan sedikit bagian barat laut Peru.
Tamandua utara menyukai berbagai jenis habitat hutan, mulai dari hutan hujan tropis, hutan konifer, hutan bakau dengan rawa, hutan sekunder, dan sebagainya. Selain itu, mamalia ini dapat bertahan dengan baik di area sabana dan padang rumput. Dalam beraktivitas, tamandua utara lebih banyak melakukannya pada malam hari atau tergolong hewan nokturnal. Akan tetapi, pada kesempatan tertentu, mereka tetap dapat beraktivitas pada siang hari.
2. Makanan favorit dan kebiasaan berburu

Tamandua utara masuk dalam famili Myrmecophagidae dan keluarga hewan ini dikenal sebagai pemakan semut. Karena itu, makanan utama dari tamandua utara juga terdiri atas semut, baik yang hidup di bawah tanah ataupun di atas pohon. Selain semut, mereka melengkapi menu makanan dengan rayap. Anatomi tubuh tamandua utara sangat mendukung pilihan makanan mereka ini.
Animal Diversity melansir kalau tamandua utara mendeteksi keberadaan semut dan rayap lewat aroma. Hidung mamalia ini sangat sensitif terhadap aroma kimia yang dilepaskan serangga favorit mereka. Saking hebatnya mereka, indra penciuman tamandua utara dapat membedakan kasta-kasta semut dan rayap di sebuah sarang. Hal ini penting karena tamandua utara akan menghindari memakan semut dan rayap petarung, sementara semut pekerja yang tak berdaya selalu jadi incaran mereka.
Tak ada gigi di mulut tamandua utara. Namun, mereka memiliki lidah superpanjang yang dapat mencapai panjang 40 cm dan dilapisi oleh semacam cairan lengket. Lidah ini akan dijulurkan ke dalam sarang semut dan rayap, memerangkap target dengan cairan lengket, kemudian diisap untuk ditelan. Dalam satu hari, tamandua utara diperkirakan dapat mengonsumsi hingga 9 ribu semut atau rayap, lho. Oh, ya, jika kebetulan bertemu, mamalia ini tak segan untuk memakan lebah beserta madu yang ada di sarang.
3. Menghabiskan sebagian waktu di atas pohon

Tamandua utara termasuk hewan arboreal. Mereka menghabiskan separuh masa hidup di atas pohon. Untuk itu, sudah sepantasnya mamalia ini memiliki kemampuan yang dapat menunjang aktivitas mereka di antara pepohonan. Beruntungnya, ekor dan kaki milik tamandua utara punya hal tersebut.
Dilansir Fact Animal, ekor tamandua utara termasuk semiprehensil. Artinya, ekor mamalia ini dapat menggenggam batang pohon dengan baik. Uniknya, ada beberapa bagian di ekor tamandua utara yang tidak ditumbuhi rambut. Hal tersebut berfungsi agar mereka dapat merasakan sensasi batang atau benda lain yang mereka sentuh. Selain itu, kemampuan navigasi dan koordinasi dari tamandua utara jadi lebih baik berkat ekor dengan titik botak tersebut.
Tak hanya ekor, kaki tamandua utara juga sangat membantu mereka ketika harus bergerak di atas pohon. Kaki ini kuat untuk menopang bobot tamandua utara saat sedang bergelantungan. Ditambah lagi, tamandua ini dilengkapi lima buah cakar pada masing-masing kaki mereka. Panjang cakar tersebut dapat mencapai 10 cm dan membantu tamandua utara mencengkeram batang pohon, makhluk pengganggu, hingga berenang mengarungi sungai.
Saat harus berjalan, tamandua utara punya kebiasaan unik. Karena kuku panjang mereka, mamalia ini akan berjalan dengan tepi kaki sehingga menghasilkan gerakan yang agak kaku dan aneh. Malahan, hewan ini tidak bisa berlari karena cara jalan unik mereka. Hal tersebut dilakukan karena tamandua utara harus menghindari luka dari telapak kaki dan cakar mereka jika harus bergerak seperti mamalia pada umumnya.
4. Sistem reproduksi

Musim kawin bagi tamandua utara dimulai saat musim gugur berlangsung di sekitar peta persebaran mereka. Tidak banyak hal yang diketahui tentang ritual perkawinan yang mungkin dilakukan tamandua utara. Yang jelas, bentuk komunikasi antara jantan dan betina dapat dilakukan dengan suara—meski sangat jarang—dan aroma khas dari kelenjar khusus yang ada di pangkal ekor mereka.
Dilansir Animal Diversity, setelah kawin, tamandua betina akan menjalani masa kehamilan sekitar 130—190 hari. Mayoritas kehamilan dari betina akan menghasilkan seekor anak saja. Namun, pada kasus yang sangat langka, dua ekor anak dapat terlahir pula. Induk tamandua utara akan selalu membawa anak mereka di perut atau punggung, tergantung pada posisi mereka saat memanjat. Anak hewan ini ikut dengan induk mereka setidaknya hingga berusia 1 tahun.
5. Status konservasi

Berdasarkan laporan IUCN Red List, saat ini tamandua utara masih masuk dalam kategori risiko rendah (Least Concern). Hanya saja, populasi hewan ini secara pasti belum diketahui, termasuk tren populasi mereka. Walau terlihat aman, sebenarnya tamandua utara memiliki beberapa masalah yang dapat mengganggu populasi mereka pada masa depan.
Animalia melansir kalau tamandua utara terus kehilangan habitat akibat aktivitas manusia yang membuka hutan. Selain itu, perburuan untuk daging dan rambut dari hewan ini masih dilakukan. Di beberapa tempat, tamandua utara diburu untuk dijadikan hewan peliharaan. Seiring dengan dekatnya habitat hewan ini dengan pemukiman, kasus tamandua utara yang tertabrak mobil juga terus meningkat tiap tahunnya.
Di alam liar, tamandua utara pun sebenarnya turut menjadi mangsa potensial bagi berbagai jenis predator. Beruntungnya, mereka memiliki mekanisme pertahanan sendiri. Cakar hewan ini dapat meninggalkan luka besar bagi predator yang coba mendekat. Kalau itu belum cukup, kelenjar khusus di area pangkal ekor mereka bisa melepaskan aroma menyengat yang tak kalah baunya dengan aroma sigung. Predator yang mencium aroma tersebut dipastikan lebih memilih menjauh.



















