Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Fakta Unik Santa Marta, Kota Tertua di Kolombia!
Potret kota Santa Marta (unsplash.com/Yves Alarie)
  • Santa Marta didirikan Rodrigo de Bastidas pada 29 Juli 1525; pendirinya tewas akibat pemberontakan pada 1527, dan jenazahnya dipindahkan ke Katedral Santa Marta pada 1953.
  • Pada era kolonial, Santa Marta berulang kali diserang bajak laut Prancis, Inggris, dan Belanda, bahkan dibakar lebih dari 20 kali hingga 1692; kota ini juga menjadi tempat wafat Simón Bolívar.
  • Wilayah Santa Marta mencakup Ciudad Perdida, situs Tairona di Sierra Nevada, serta pegunungan setinggi 5.775 meter yang hanya sekitar 42 kilometer dari pantai Karibia dan berstatus Cagar Biosfer UNESCO.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ketika mendengar nama Santa Marta, bayangan yang muncul mungkin pantai Karibia, laut biru, dan suasana tropis khas Kolombia. Padahal, kota di pesisir utara negeri ini menyimpan sejarah panjang yang sudah berjalan sejak abad ke-16. Usianya yang panjang membuat Santa Marta punya cerita yang jauh lebih beragam daripada sekadar destinasi pantai.

Kota ini pernah berhadapan dengan serangan bajak laut, pintu menuju pegunungan spektakuler, serta jejak peradaban pribumi dari era kolonial. Menariknya lagi, tokoh besar Amerika Latin, Simón Bolívar, menghabiskan hari-hari terakhir hidupnya di Santa Marta. Nah, berikut lima fakta unik yang bikin kota ini layak dilirik lebih dekat!

1. Kota yang Lahir dari ekspedisi dan luka akibat pemberontakan

Potret Playa Grande, Santa Marta (unsplash.com/Giselle Cucunubá Manes)

Santa Marta bukanlah kota yang lahir dari mimpi indah, melainkan dari ekspedisi seorang penjelajah Spanyol bernama Rodrigo de Bastidas. Menurut catatan resmi Pemerintah Distrik Santa Marta, kota ini didirikan pada 29 Juli 1525 dan menjadi salah satu permukiman Spanyol tertua di wilayah yang kini menjadi Kolombia. Namun, kisah Bastidas sendiri berakhir tragis. Pada 1527, ia diserang dan ditikam oleh sejumlah orang dari rombongannya dalam sebuah upaya pemberontakan.

Mengalami luka parah, Bastidas lalu meninggalkan Santa Marta demi mencari pengobatan. Ia akhirnya meninggal di Santiago de Cuba pada tahun 1527. Jenazah Bastidas kemudian dimakamkan di Santo Domingo. Baru pada tahun 1953, jenazahnya dipindahkan ke Santa Marta dan ditempatkan di Katedral Santa Marta, sebagai penghormatan kepada tokoh yang dianggap sebagai pendiri kota tersebut.

2. Santa Marta pernah dibakar berkali-kali oleh bajak laut

Potret Santa Marta (pexels.com/NEHEMIAS GOMEZ FOTOGRAFIA)

Kehidupan Santa Marta pada masa kolonial ternyata jauh dari kata tenang. Catatan sejarah Pemerintah Distrik Santa Marta menyebut serangan bajak laut mulai mengguncang kota pada 1543, menyusul serangan dari kelompok Prancis, Inggris, serta Belanda berulang selama masa berikutnya. Aktivitas perdagangan pun ikut terpukul lantaran Cartagena perlahan mengambil posisi penting dalam jalur pelayaran Spanyol.

Yang bikin geleng-geleng kepala, kota ini disebut telah dibakar lebih dari 20 kali hingga tahun 1692. Serangkaian serangan tersebut mengakibatkan penduduk meninggalkan Santa Marta dan mencari tempat yang dianggap lebih aman, sementara pusat kota lama nyaris kehilangan jejak fisiknya. Dari sini terlihat betapa panjangnya jalan yang harus dilalui Santa Marta sebelum berkembang menjadi kota wisata yang ramai dikunjungi.

3. Kota “Dua Kali Suci” dan tempat peristirahatan terakhir sang Liberator

Potret Quinta de San Pedro Alejandrino (commons.wikimedia.org/No machine-readable author provided. Mijotoba assumed)

Santa Marta menyandang gelar unik, “La Ciudad Dos Veces Santa” atau “Kota Dua Kali Suci”. Julukan ini berkaitan dengan identitas religius dan sejarah Katolik kota tersebut. Selain itu, Santa Marta juga memiliki hubungan erat dengan sejarah kemerdekaan Amerika Selatan karena menjadi lokasi Simón Bolívar menghabiskan hari-hari terakhir hidupnya.

Bolívar wafat pada 17 Desember 1830 di Quinta de San Pedro Alejandrino, sebuah hacienda yang sekarang merupakan museum dan monumen bersejarah. Di tempat inilah sang Libertador mengembuskan napas terakhir setelah menghadapi berbagai persoalan politik dan perpecahan di wilayah yang ia perjuangkan agar merdeka. Tetapi, kisah Bolívar di Santa Marta tidak berhenti pada wafatnya. Kala jasadnya dipindahkan ke Venezuela pada 1842, sebuah urna yang berisi jantung dan beberapa organ dalam Bolívar sempat ditinggalkan di Katedral Santa Marta, menambah lapisan misteri pada bangunan suci itu.

4. Di wilayah Santa Marta ada Ciudad Perdida yang usianya jauh lebih tua

Potret Lost City (unsplash.com/Datingscout)

Beranjak ke kawasan pegunungan, Santa Marta memiliki peninggalan yang usianya bahkan melampaui kota kolonialnya. Teyuna, yang populer dengan nama Ciudad Perdida atau Lost City, merupakan kompleks arkeologi peninggalan masyarakat Tairona di Sierra Nevada de Santa Marta. Dilansir laman ICANH, lembaga antropologi dan sejarah Kolombia, situs ini berada dalam wilayah Distrik Santa Marta dan penelitian intensif terhadapnya dimulai pada 1976.

Ada cerita menarik perihal penemuan situsnya dalam penelitian modern. ICANH menjelaskan bahwa kabar mengenai kompleks besar di kawasan Alto Buritaca muncul seusai aktivitas para pemburu harta karun merusak sejumlah situs arkeologi di Sierra Nevada. Tim arkeolog lantas melakukan ekspedisi sekaligus mengembangkan penelitian, konservasi, serta restorasi Teyuna sejak 1976.

5. Ada gunung setinggi 5.775 meter tak jauh dari laut

Potret pegunungan Sierra Nevada de Santa Marta (commons.wikimedia.org/Nick29)

Santa Marta punya lanskap yang tergolong langka di dunia karena berada di tengah Laut Karibia dan Sierra Nevada de Santa Marta. UNESCO mencatat pegunungan ini mencapai ketinggian 5.775 meter dan cuma berjarak sekitar 42 kilometer dari garis pantai. Jarak yang singkat antara laut tropis dan puncak setinggi itu menciptakan perubahan ekosistem yang luar biasa dalam satu kawasan.

Sierra Nevada juga berstatus Cagar Biosfer UNESCO sejak 1979, dengan bentang alam yang mencakup pantai, terumbu karang, hutan, sampai wilayah pegunungan tinggi. Di kawasan ini hidup komunitas adat Arhuaco, Kogui, Kankuamo, dan Wiwa, yang masih mempertahankan hubungan kuat dengan wilayah leluhur mereka. UNESCO mencatat kawasan tersebut sebagai ruang penting bagi keberlangsungan tradisi, pengetahuan, dan kehidupan masyarakat adat.

Lima fakta di atas hanyalah secuil dari sekian banyak keunikan yang dimiliki Santa Marta. Dari kisah tragis sang pendiri yang tewas tertusuk belati hingga pegunungan tertinggi di dunia yang berada begitu dekat dengan laut, semuanya berpadu dalam harmoni yang begitu khas di pesisir Karibia Kolombia. Kalau kamu mencari destinasi yang kaya cerita, berani menantang, dan dipenuhi pesona yang tak lekang oleh zaman, Santa Marta layak masuk dalam daftar perjalananmu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article