Di tengah terjalnya lanskap padang rumput Mongolia yang membentang luas, bertahan hidup di bawah cuaca ekstrem adalah kenyataan sehari-hari bagi para penggembala nomaden. Ketika musim dingin menerjang dan suhu udara merosot hingga 40 derajat di bawah nol, kayu bakar menjadi barang langka yang amat sulit ditemukan di dataran tinggi tanpa pepohonan. Dalam kondisi yang serba terbatas ini, masyarakat lokal menggantungkan kelangsungan hidup mereka pada sumber daya yang mungkin terdengar mengejutkan masyarakat luar yaitu kotoran hewan ternak.
5 Alasan Kenapa Kotoran Ternak Sangat Berharga di Mongolia

- Masyarakat nomaden Mongolia mengandalkan kotoran ternak kering atau argal sebagai pengganti kayu bakar di stepa minim pohon, terutama untuk memasak dan menghangatkan ger.
- Argal kering menghasilkan panas stabil saat musim dingin ekstrem, mudah dibawa, tidak berbau menyengat, serta asapnya digunakan untuk mengusir serangga, mengurangi kelembapan, dan mengawetkan daging.
- Jenis kotoran dari domba, sapi, dan kuda memiliki fungsi pembakaran berbeda; argal juga bernilai ekonomi sebagai bahan bakar terjangkau, komoditas lokal, dan pupuk organik.
Bukan hanya sekadar limbah buangan, kotoran ternak yang dikeringkan atau dikenal secara lokal sebagai argal. Argal membantu menjaga peradaban tetap bertahan selama berabad-abad. Mulai dari menahan gempuran angin beku di dalam kemah ger, menyediakan bahan bakar yang stabil untuk memasak, hingga mendukung tradisi dan keberlanjutan ekosistem, elemen sederhana ini memegang peranan penting yang menjadikannya salah satu aset paling berharga di wilayah Mongolia. Yuk, simak alasan kenapa kotoran ternak menjadi sangat berharga di Mongolia!
1. Pengganti kayu bakar di padang rumput yang minim pohon

ilustrasi kehidupan di Mongolia (unsplash.com/Joshua Alan Davis) Kebiasaan hidup nomaden di Mongolia, pemerintah bersama dengan Bank Dunia menghadirkan sistem panel surya portable untuk mempermudah kehidupan mereka secara signifikan. Hal ini membantu untuk penerangan di dalam ger atau tenda tradisional, mengisi daya ponsel hingga menyalakan TV. Meskipun listrik tenaga surya telah berhasil memodernisasi cara hidup mereka dan mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, masyarakat nomaden tetap mempertahankan tradisi dasar mereka.
Dilansir laman Al Jazeera, untuk pemanas dan memasak di dalam tenda, mereka masih mengandalkan tungku tradisional yang membakar kotoran ternak kering dan kayu, karena teknologi surya ditujukan untuk kebutuhan listrik ringan, bukan sebagai sumber panas utama. Penggunaan kotoran hewan sebagai pengganti kayu bakar membuktikan bagaimana masyarakat nomaden Mongolia mampu beradaptasi dengan lingkungannya tanpa merusak alam sekitar. Selain itu, lingkungan alam sekitar mereka didominasi oleh padang rumput, sehingga sangat menyulitkan bagi mereka untuk memperoleh kayu bakar dalam jumlah besar.
2. Penyelamat nyawa saat musim dingin ekstrem

ilustrasi musim dingin di Mongolia (unsplash.com/Tengis Galamez) Ternak di Mongolia mengonsumsi ratusan jenis tanaman herbal liar, sehingga kotoran yang dihasilkan memiliki karakteristik unik. Kotoran yang telah dikeringkan selama bertahun-tahun menjadi bahan bakar yang mudah dibawa, dapat menghasilkan panas tinggi yang stabil, serta menyalakan api tungku untuk memasak dan menghangatkan ruangan dengan efektif.
Selain berfungsi sebagai bahan bakar utama, asap dari pembakaran argal dipercaya memiliki manfaat kesehatan dan kebersihan. Kandungan herbal dalam pakan ternak membuat asap pembakarannya efektif untuk mengusir serangga, mengurangi kelembapan, membunuh jamur di dalam ruangan, hingga mengawetkan daging mentah agar tidak cepat membusuk.
3. Bebas bau menyengat dan menghasilkan api yang efisien

ilustrasi kotoran hewan di Mongolia (unsplash.com/Büşra Salkım) Meskipun berasal dari limbah ternak, kotoran hewan kering (argal) yang diproses secara alami oleh matahari dan angin Mongolia sama sekali tidak memiliki bau kotoran yang menyengat. Argal yang telah benar-benar kering memiliki kadar air yang sangat rendah, sehingga ketika dibakar di dalam tungku tradisional, bahan bakar alami ini dapat menyala dengan stabil, efisien, serta mampu menghasilkan energi panas yang tahan lama tanpa mengganggu kenyamanan penghuni tenda.
Panas konsisten yang dihasilkan dari pembakaran argal digunakan untuk menghangatkan seluruh sudut tenda sekaligus memasak makanan harian keluarga. Tanpa ketergantungan pada kayu bakar yang langka, argal terbukti menjadi sumber panas yang handal dan ekonomis.
4. Memiliki kategori dan kegunaan berdasarkan jenis hewan

ilustrasi hewan ternak di Mongolia (unsplash.com/Tanner Yould) Domba merupakan hewan ternak yang paling banyak dan berharga bagi masyarakat nomaden Mongolia karena menyediakan pangan, pakaian, serta bahan pembuat tenda atau ger. Di tengah wilayah padang rumput yang minim kayu, kotoran hewan terutama domba digunakan sebagai bahan yang mudah terbakar dengan cepat untuk menghasilkan panas tinggi secara instan.
Selain itu, ada juga sapi yang memiliki kepingan besar yang terbakar secara melambat, sangat ideal untuk pemanasan jangka panjang selama musim dingin. Kotoran kuda yang memiliki serat halus yang sangat mudah tersulut api, sehingga dimanfaatkan sebagai pemantik api awal atau tinder. Meskipun saat ini kayu dan batu bara juga digunakan, kotoran hewan kering ini tetap jadi solusi bahan bakar paling praktis, melimpah, dan berkelanjutan di wilayah terpencil.
5. Bernilai ekonomi dan komoditas perdagangan tradisional

ilustrasi kotoran hewan ternak di Mongolia (commons.wikimedia.org/Marcin Konsek) Kotoran ini memiliki nilai ekonomi fungsional yang tinggi karena berfungsi sebagai bahan bakar rumah tangga yang sangat terjangkau . Dibandingkan bahan bakar komersial, argal begitu mudah didapatkan, diproses, serta dipindahkan saat bepergian. Penggunaannya yang efektif untuk memasak dan menjaga kehangatan tempat tinggal menjadikannya substitusi energi bernilai tinggi yang menekan pengeluaran di kawasan stepa.
Sebagai komoditas perdagangan tradisional, argal juga memiliki klasifikasi kualitas yang memberikan standar nilai jual yang jelas dalam sistem barter maupun transaksi lokal. Argal yang telah dikeringkan lebih dari tiga tahun juga memiliki potensi komoditas di bidang pertanian sebagai pupuk organik berkualitas tinggi.
Kotoran ternak sangat berharga bagi masyarakat Mongolia karena berfungsi sebagai sumber energi terjangkau dan ramah lingkungan di wilayah stepa. Hewan ternak Mongolia mengonsumsi ratusan jenis tanaman herbal alami, sehingga kotoran yang dikeringkan dapat menghasilkan pembakaran yang efisien, mudah dibawa, serta menjadi bahan bakar utama untuk memasak dan menghangatkan rumah. Pemanfaatan limbah ini mencerminkan kearifan lokal masyarakat nomaden yang mampu mengolah seluruh potensi ternak tanpa ada yang terbuang, sekaligus menjadi komoditas budaya yang unik dan bernilai ekologis tinggi.






















