Imam Yesuit Indonesia Christoforus Bayu Risanto jadi Nama Asteroid

- Christoforus Bayu Risanto, SJ, imam Yesuit Indonesia diabadikan sebagai nama asteroid oleh International Astronomical Union (IAU).
- Asteroid (752403) Bayurisanto berada di sabuk utama asteroid dan namanya tercatat permanen dalam katalog resmi benda langit yang diakui secara internasional.
- Berdasarkan rilis resmi WGSBN–IAU, penamaan ini sebagai bentuk penghargaan atas kiprah Christoforus Bayu Risanto di bidang ilmu atmosfer dan meteorologi serta kontribusinya dalam pengembangan dialog antara sains dan iman.
Nama Indonesia kembali tercatat di peta langit. Christoforus Bayu Risanto, SJ, imam Yesuit asal Indonesia yang berkarya di Observatorium Vatikan, resmi diabadikan sebagai nama sebuah asteroid oleh International Astronomical Union (IAU).
Penetapan tersebut diumumkan pada 14 Januari 2026 melalui buletin resmi Working Group for Small Body Nomenclature (WGSBN), menjadikan Asteroid (752403) Bayurisanto sebagai pengakuan ilmiah internasional atas kontribusinya di bidang sains.
Bentuk penghargaan
Berdasarkan rilis resmi WGSBN–IAU, asteroid tersebut sebelumnya tercatat dengan nomor sementara 2015 PZ114 sebelum akhirnya disetujui menggunakan nama Bayurisanto.
Dalam penjelasan singkatnya, WGSBN menyebut penamaan ini sebagai bentuk penghargaan atas kiprah Christoforus Bayu Risanto di bidang ilmu atmosfer dan meteorologi, serta kontribusinya dalam pengembangan dialog antara sains dan iman melalui pekerjaannya di Vatican Observatory.
Asteroid (752403) Bayurisanto berada di sabuk utama asteroid, yakni wilayah antara orbit Mars dan Jupiter, dan kini namanya tercatat permanen dalam katalog resmi benda langit yang diakui secara internasional.
Profil singkat

Christoforus Bayu Risanto, SJ, dikenal sebagai imam Yesuit asal Indonesia yang menekuni bidang meteorologi dan ilmu atmosfer. Ia merupakan anggota Serikat Yesus (SJ) dan saat ini berkarya sebagai peneliti di Vatican Observatory, salah satu lembaga astronomi tertua di dunia yang berada di bawah naungan Tahta Suci.
Latar belakang pendidikannya di bidang sains membawanya meneliti dinamika atmosfer planet dan fenomena cuaca, sekaligus aktif dalam upaya menjembatani dialog antara ilmu pengetahuan modern dan refleksi filosofis-teologis—sebuah tradisi panjang dalam ordo Yesuit.


















