Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Fakta Masjid Shah Jahan, Saksi Sejarah Islam Pertama di Inggris

5 Fakta Masjid Shah Jahan, Saksi Sejarah Islam Pertama di Inggris
Masjid Shah Jahan, yang terletak di Woking, Inggris. (commons.wikimedia.org/RHaworth)
Intinya Sih
  • Masjid Shah Jahan di Woking, Inggris, berdiri sejak 1889 sebagai masjid pertama di negara itu dan menjadi pusat penting perkembangan Islam serta literatur berbahasa Inggris pada abad ke-20.
  • Pendirinya, Dr. Gottlieb Wilhelm Leitner, seorang ilmuwan Yahudi-Hungaria, membangun masjid ini untuk menjembatani pemahaman budaya Timur dan Barat melalui pendidikan dan studi keislaman.
  • Masjid ini diselamatkan oleh Khwaja Kamal-ud-Din yang mendirikan Misi Muslim Woking, sementara arsitekturnya bergaya Indo-Saracen didanai oleh Shah Jahan Begum dari Bhopal sebagai simbol persaudaraan lintas
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Inggris bukan hanya tentang gedung-gedung bergaya Victoria atau menara jam Big Ben yang ikonik. Di balik pesona sejarahnya yang klasik, tersimpan keragaman budaya yang kaya, salah satunya ditandai dengan keberadaan bangunan-bangunan bersejarah yang unik dan menawan. Dari sekian banyak destinasi yang sering dikunjungi, Masjid Shah Jahan di Woking, Surrey, menjadi salah satu bukti nyata bahwa keberagaman telah lama bersemi di tanah Britania.

Lantas, bagaimana masjid yang megah ini bisa berdiri kokoh di tengah kedamaian pedesaan Inggris? Mari kita telusuri lebih dalam kisah di balik keindahan dan sejarah panjang masjid ini dalam artikel berikut!

1. Masjid tertua di Inggris

Masjid Shah Jahan, yang terletak di Woking, Inggris.
Masjid Shah Jahan, yang terletak di Woking, Inggris. (commons.wikimedia.org/RHaworth)

Masjid Shah Jahan resmi dibuka pada tahun 1889 dan segera menjadi tempat ibadah formal bagi umat Islam di Inggris, termasuk bagi tokoh seperti sekretaris Ratu Victoria, Abdul Karim, dan pangeran dari Afghanistan, Nasrullah Khan. Namun, setelah kematian pendirinya pada tahun 1899, masjid ini sempat terbengkalai dan hampir ditutup. Keadaan berubah saat gerakan Ahmadiyah Lahore mengambil alih pengelolaan pada tahun 1913, yang kemudian menghidupkan kembali masjid tersebut sebagai pusat kegiatan keagamaan yang aktif dan berpengaruh.

Memasuki tahun 1935, masjid ini secara resmi kembali ke pangkuan komunitas Sunni. Selama dekade-dekade berikutnya hingga tahun 1960-an, masjid ini menjadi pusat utama Islam di Inggris, tempat lahirnya literatur Islam berbahasa Inggris, serta titik kumpul bagi banyak tokoh dunia seperti Muhammad Ali Jinnah dan Raja Faisal. Meski sempat mengalami kerusakan akibat banjir besar pada tahun 2016, warisan sejarahnya sebagai tempat bernaungnya komunitas Muslim tetap terjaga hingga saat ini.

2. Didirikan oleh seorang ilmuwan Yahudi-Hungaria

Gottlieb Wilhelm Leitner (1840–1899).
Gottlieb Wilhelm Leitner (1840–1899). (en.wikipedia.org/Unknown - User:rayray)

Dr. Gottlieb Wilhelm Leitner adalah sosok luar biasa di balik berdirinya masjid ini. Lahir dari keluarga Yahudi di Hungaria, ia memiliki bakat bahasa yang fenomenal sejak muda. Pada usia 15 tahun, ia sudah menguasai delapan bahasa dan sempat mendalami pendidikan di madrasah-madrasah Istanbul. Kecerdasannya membawanya meniti karier cemerlang di Inggris dan India, di mana ia menjadi profesor bahasa Arab dan hukum Islam pada usia yang sangat muda, yakni 21 tahun. Dedikasinya pada ilmu pengetahuan membuatnya menjadi pionir dalam menjembatani pemahaman budaya antara Timur dan Barat.

Keinginan Leitner untuk membangun pusat studi budaya membawanya ke kota Woking, Inggris. Ia pun berhasil membangun Masjid Shah Jahan pada tahun 1889 sebagai masjid pertama yang dibangun khusus untuk ibadah di Inggris. Meski ia sendiri tidak secara jelas tercatat memeluk Islam, ia tetaplah seorang pendukung setia yang mendedikasikan hidupnya untuk menghormati budaya Islam hingga ia wafat pada tahun 1899.

3. Diselamatkan oleh seorang pengacara asal India

Khwaja Kamal-ud-Din, seorang cendekiawan dan ahli hukum Muslim terkemuka.
Khwaja Kamal-ud-Din, seorang cendekiawan dan ahli hukum Muslim terkemuka. (commons.wikimedia.org/AAIIL)

Setelah sempat terbengkalai selama lebih dari satu dekade, Masjid Shah Jahan diselamatkan oleh seorang pengacara asal India bernama Khwaja Kamal-ud-Din. Beliau memenangkan sengketa hukum melawan ahli waris Leitner yang berniat menjual lahan tersebut, dengan argumen kuat bahwa masjid adalah tanah suci yang setara kedudukannya dengan gereja. Berbekal semangat yang tinggi, Khwaja Kamal-ud-Din mendirikan Misi Muslim Woking untuk memperkenalkan Islam di Inggris. Meskipun banyak orang di India meragukan keputusannya meninggalkan karier hukum yang sukses, ia justru berhasil membangun komunitas yang solid dan inspiratif di Inggris.

Gerakan ini mendapatkan kredibilitas besar setelah menarik minat banyak tokoh terkemuka, termasuk Lord Headley, seorang bangsawan dan insinyur yang menjadi pendukung setia Islam. Melalui majalah Islamic Review dan pertemuan rutin, misi ini berhasil menyebarkan pesan Islam ke berbagai lapisan masyarakat, dari bangsawan hingga kelas pekerja. Mereka juga aktif mengampanyekan kesetaraan dan persaudaraan Islam yang melampaui perbedaan kelas sosial di Inggris saat itu. Keberhasilan misi ini bahkan memicu tuntutan bagi pemerintah untuk lebih mengakui keberadaan komunitas Muslim di pusat kota besar seperti London.

4. Arsitektur Indo-Saracen

Masjid Shah Jahan, yang terletak di Woking, Inggris.
Masjid Shah, yang juga dikenal sebagai Masjid Imam, yang terletak di Isfahan, Iran. (commons.wikimedia.org/Colin Smith)

Masjid Shah Jahan yang dibangun pada tahun 1889 di Woking, Inggris, didukung penuh oleh dana dari Nawab Shah Jahan Begum dari Bhopal, India, dengan tujuan utama menyediakan tempat ibadah bagi para mahasiswa di Institut Oriental. Arsitek William Isaac Chambers merancang bangunan ini dengan gaya Mughal yang elegan—lengkap dengan kubah, menara, dan halaman—menggunakan perpaduan batu Bath dan Bargate. Bahkan, untuk memastikan arah kiblat yang akurat, seorang kapten kapal didatangkan khusus untuk menentukan titik hadap yang tepat ke arah Mekah.

Institut Oriental itu sendiri didirikan oleh Leitner pada tahun 1881, dua tahun sebelum pembangunan masjid, di lokasi bekas bangunan Royal Dramatic College. Lembaga ini bertujuan untuk mempromosikan sastra dan budaya Timur, serta memiliki hubungan akademik yang erat dengan Universitas Punjab di Lahore, Pakistan, dalam memberikan gelar kepada para mahasiswanya. Berkat desainnya yang megah dan bermartabat, masjid ini tetap menjadi salah satu contoh arsitektur bersejarah yang sangat dihargai di Inggris hingga hari ini.

5. Nama dari Sang Ratu Bhopal

Sultan Shah Jahan, Begum dari Bhopal (1838-1901).
Sultan Shah Jahan, Begum dari Bhopal (1838-1901). (commons.wikimedia.org/Bourne & Shepherd)

Nama Masjid Shah Jahan diambil untuk menghormati Shah Jahan Begum, seorang penguasa wanita (Nawab) dari negara bagian Bhopal, India, yang menjadi donatur utama dalam pembangunan masjid tersebut. Beliau merupakan sosok yang sangat berpengaruh dan menjadi bagian dari sejarah panjang empat penguasa wanita hebat, atau yang dikenal dengan sebutan "Begum," yang memimpin Bhopal secara berturut-turut antara tahun 1819–1926.

Sumbangan dana yang besar dari beliau menjadi kunci berdirinya masjid ini di Inggris. Dengan memberikan nama sang Ratu Bhopal pada bangunan tersebut, masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menjadi monumen yang mengabadikan dukungan luar biasa dari seorang pemimpin wanita berwibawa bagi perkembangan komunitas Muslim di tanah Britania pada abad ke-19.

Masjid Shah Jahan lahir sebagai simbol abadi dari jembatan budaya dan keberagaman di tanah Inggris. Hingga hari ini, bangunan bersejarah ini tetap berdiri tegak sebagai pengingat bahwa dialog antarbudaya selalu memiliki tempat istimewa dalam sejarah bangsa.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna
Follow Us

Latest in Science

See More