Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Ada Sapi yang Memiliki Tanduk dan Ada yang Tidak?

Kenapa Ada Sapi yang Memiliki Tanduk dan Ada yang Tidak?
Potret sapi bertanduk dan tanpa tanduk (pexels.com/MELQUIZEDEQUE ALMEIDA)
Intinya Sih
  • Perbedaan sapi bertanduk dan tidak bertanduk terutama ditentukan oleh faktor genetik, di mana gen polled membuat sapi lahir tanpa tanduk secara alami.
  • Peternakan modern sering melakukan disbudding atau dehorning untuk alasan keamanan dan efisiensi, mencegah pertumbuhan tanduk sejak dini.
  • Kondisi lingkungan, nutrisi, dan manajemen pemeliharaan turut memengaruhi perkembangan tanduk serta kesehatan fisik sapi secara keseluruhan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Pernahkah kamu memperhatikan kawanan sapi dan menyadari bahwa penampilannya tak pernah benar-benar seragam? Ada yang tampil gagah dengan tanduk melengkung, ada pula yang kepalanya mulus tanpa tonjolan sedikit pun. Sepintas perbedaannya tampak sederhana, seperti variasi biasa di antara hewan ternak. Padahal di balik detail kecil itu, tersimpan penjelasan yang cukup menarik.

Lalu, apa sebenarnya yang menyebabkan sebagian sapi bertanduk dan yang lain tidak? Untuk memahami alasannya, simak penjelasan di bawah ini!

1. Semua berawal dari gen yang dibawa sejak lahir

Potret ibu dan anak sapi
Potret ibu dan anak sapi (pixabay.com/MemoryCatcher)

Penentu utama keberadaan tanduk terletak pada genetika. Dalam dunia peternakan dikenal istilah gen polled, yakni gen yang membuat sapi terlahir tidak bertanduk. Sifat ini dominan, sehingga cukup diwarisi dari salah satu induk untuk menghasilkan pedet berkepala polos. Sementara sifat bertanduk muncul ketika anak menerima gen tersebut dari kedua orang tuanya.

Itulah sebabnya satu kawanan dapat memperlihatkan kombinasi yang beragam. Dua induk yang sama-sama tidak bertanduk masih berpeluang melahirkan anak bertanduk apabila keduanya membawa gen tersembunyi.

Beberapa ras bahkan sudah identik dengan kepala mulus sejak lahir. Contohnya adalah Aberdeen Angus yang terkenal sebagai sapi polled. Ada juga tipe tertentu dari Hereford yang dikembangkan dalam versi tanpa tanduk. Dalam kasus ini, ketiadaan tanduk bukan kegagalan pertumbuhan, melainkan memang tidak ada cetak biru biologis untuk membentuknya.

2. Campur tangan manusia menyebabkan tanduk menghilang

Potret dehorning pada sapi
Potret dehorning pada sapi (flickr.com/U.S. Department of Agriculture, Public Domain Mark)

Selain faktor keturunan, praktik peternakan modern turut memengaruhi penampilan sapi. Di berbagai peternakan modern, terdapat prosedur bernama disbudding dan dehorning. Keduanya bertujuan mencegah atau menghilangkan tanduk demi keamanan serta efisiensi kandang. Praktik ini cukup lazim dalam sistem produksi skala besar.

Disbudding dilakukan kala pedet masih sangat muda, ketika bakal tanduk belum berkembang penuh. Pada tahap itu, jaringan pembentuk tanduk dihentikan pertumbuhannya, makanya kepala tetap polos saat dewasa. Adapun dehorning dilakukan pada sapi yang tanduknya sudah tumbuh dan perlu diangkat melalui prosedur khusus. Pelaksanaannya harus mengikuti standar kesejahteraan hewan supaya tidak menimbulkan dampak berlebihan.

Tanduk berpotensi memicu cedera ketika sapi berebut ruang atau pakan. Risiko terhadap pekerja kandang pun meningkat kalau hewan memiliki tanduk tajam. Dengan memilih sapi polled atau menerapkan tindakan sejak dini, tingkat kecelakaan dan kerusakan fasilitas mampu ditekan.

3. Efek lingkungan dan perilaku

Potret sapi sedang makan
Potret sapi sedang makan (pexels.com/Los Muertos Crew)

Walau gen menentukan dasar sifatnya, pertumbuhan tanduk tetap dipengaruhi oleh perawatan. Pembentukan jaringan tanduk memerlukan asupan mineral serta energi yang memadai. Kekurangan nutrisi khusus dapat menghambat ukuran maupun kualitas pertumbuhannya. Artinya, faktor pemeliharaan tetap memegang peranan penting.

Tekanan lingkungan ikut memberi dampak pada perkembangan fisik hewan ternak. Ruang yang terlalu padat atau persaingan ekstrem berpengaruh pada kesehatan secara menyeluruh. Tubuh akan memprioritaskan fungsi vital dibandingkan pembentukan struktur tambahan. Dampaknya bisa terlihat pada laju pertumbuhan yang kurang optimal.

Sebaliknya, sapi yang dipelihara dengan manajemen baik cenderung berkembang sesuai potensi genetiknya. Pakan seimbang dan ruang gerak memadai membantu proses pertumbuhan berlangsung stabil. Jika membawa sifat bertanduk, maka tanduk akan hadir sesuai karakter alaminya. Bila tidak, kepalanya tetap bersih sejak lahir.

Jadi, ada atau tidaknya tanduk pada sapi bukanlah hal yang terjadi acak. Semua berkaitan dengan gen bawaan, campur tangan manusia, dan kondisi lingkungan tempat sapi dibesarkan. Ketika tiga hal itu saling bertemu, di situlah kita melihat variasi alami yang selama ini mungkin luput dari perhatian.

Referensi :

Langova, L., Novotna, I., Nemcova, P., Machacek, M., Havlicek, Z., Zemanova, M., & Chrast, V. (2020). Impact of nutrients on the hoof health in cattle. Animals, 10(10), 1824.

Cozzi, G., Gottardo, F., Brscic, M., Contiero, B., Irrgang, N., Knierim, U., ... & Winckler, C. (2015). Dehorning of cattle in the EU Member States: A quantitative survey of the current practices. Livestock Science, 179, 4-11.

Phillips, A., Coventry, J., & Springs, A. (2004). Genetic effects on the mature weight of cattle. Northern Territory Government, Department of Primary Industry, Fisheries and Mines, https://industry. nt. gov. au/__data/assets/pdf_file/0013/233041/793. pdf (last access: 10 August 2024).

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Achmad Fatkhur Rozi
EditorAchmad Fatkhur Rozi
Follow Us

Latest in Science

See More