Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenapa Apel Bisa Berubah Warna? Ini Reaksi Kimia di Baliknya
ilustrasi apel yang berubah warna (unsplash.com/ Andra Ion)
  • Perubahan warna cokelat pada apel terjadi karena paparan oksigen setelah kulitnya rusak, memicu reaksi kimia alami di daging buah.
  • Enzim polyphenol oxidase (PPO) bereaksi dengan polifenol dan oksigen, menghasilkan senyawa perantara yang memulai proses pencokelatan.
  • Hasil akhir reaksi tersebut membentuk pigmen melanin berwarna cokelat, menandakan proses alami bukan pembusukan pada apel segar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Banyak orang mendapati potongan apel yang semula berwarna cerah berubah menjadi cokelat hanya dalam hitungan menit setelah dikupas atau diiris. Fenomena tersebut dapat terjadi pada berbagai jenis apel, baik yang dikonsumsi langsung maupun yang digunakan sebagai bahan makanan.

Meski terlihat seperti tanda pembusukan, perubahan warna itu sebenarnya merupakan proses alami yang melibatkan udara serta zat tertentu di dalam daging buah. Lalu, kenapa apel bisa berubah warna begitu cepat setelah dipotong? Simak penjelasannya berikut ini.

1 Udara memulai reaksi kimia pada daging apel

ilustrasi apel yang berubah warna (unsplash.com/Markus Spiske)

Saat apel masih utuh, bagian dalam buah terlindungi oleh kulit sehingga berbagai zat yang tersimpan di dalam sel tetap berada pada tempatnya masing-masing. Kondisi tersebut membuat warna daging buah terlihat cerah karena belum terjadi reaksi yang memengaruhi tampilannya. Begitu apel dipotong, lapisan pelindung alami itu rusak sehingga bagian dalam buah langsung terpapar udara. Oksigen yang terkandung di udara menjadi salah satu penyebab utama perubahan warna pada apel.

Sebelum buah dipotong, oksigen tidak dapat menjangkau sebagian besar jaringan di dalam daging buah. Setelah permukaan apel terbuka, oksigen mulai masuk ke area yang sebelumnya tertutup dan memicu serangkaian reaksi kimia. Perubahan warna tidak terjadi karena apel langsung membusuk. Proses tersebut justru merupakan respons alami yang muncul ketika jaringan buah mengalami kerusakan akibat pemotongan, gigitan, atau tekanan tertentu. Semakin luas bagian daging buah yang terbuka, semakin banyak pula oksigen yang dapat berinteraksi dengan zat-zat alami di dalam apel.

2 Enzim PPO mengubah senyawa alami di dalam buah

ilustrasi apel yang berubah warna (unsplash.com/Louis Hansel)

Selain oksigen, terdapat komponen penting lain yang berperan dalam proses pencokelatan, yaitu enzim polyphenol oxidase atau PPO. Enzim merupakan protein yang membantu mempercepat reaksi kimia di dalam makhluk hidup tanpa ikut habis selama proses berlangsung. Hampir semua apel memiliki PPO sebagai bagian alami dari struktur buahnya. Saat apel masih utuh, PPO tersimpan terpisah dari sejumlah senyawa alami yang terdapat di dalam sel. Kerusakan jaringan akibat pemotongan membuat pemisah alami tersebut tidak lagi berfungsi sehingga PPO mulai bercampur dengan senyawa yang sebelumnya berada pada ruang berbeda. Pertemuan itu menjadi awal dari reaksi yang menyebabkan perubahan warna.

PPO kemudian memanfaatkan oksigen yang masuk dari udara untuk mengubah senyawa alami di dalam apel. Senyawa tersebut dikenal sebagai polifenol, yaitu kelompok zat yang banyak ditemukan pada tumbuhan dan berperan dalam perlindungan alami tanaman. Reaksi antara PPO, polifenol, dan oksigen menghasilkan zat baru yang menjadi tahap lanjutan menuju terbentuknya warna cokelat. Kecepatan proses ini dapat berbeda pada setiap varietas apel. Beberapa jenis apel mengandung PPO dalam jumlah lebih banyak sehingga perubahan warna berlangsung lebih cepat. Sebagian varietas lainnya memiliki kandungan enzim yang lebih rendah sehingga warna cerahnya dapat bertahan lebih lama setelah dipotong.

3 Pigmen cokelat terbentuk sebagai hasil akhir reaksi

ilustrasi apel yang berubah warna (unsplash.com/Louis Hansel)

Reaksi yang dipicu oleh PPO menghasilkan senyawa bernama o-quinone. Nama tersebut mungkin terdengar rumit, tetapi secara sederhana o-quinone dapat dipahami sebagai zat perantara yang muncul selama proses perubahan kimia berlangsung. Senyawa ini tidak bertahan lama karena sangat mudah bereaksi dengan zat lain yang terdapat di dalam buah. Setelah melalui beberapa tahapan lanjutan, o-quinone berubah menjadi pigmen berwarna cokelat yang disebut melanin. Melanin merupakan zat pewarna alami yang memberikan warna gelap pada berbagai organisme hidup. Pada apel, terbentuknya melanin membuat permukaan daging buah perlahan berubah dari putih kekuningan menjadi cokelat.

Perubahan warna tersebut sering disalahartikan sebagai tanda bahwa apel sudah tidak layak dimakan. Padahal, warna cokelat yang muncul sesaat setelah buah dipotong lebih berkaitan dengan reaksi kimia alami daripada proses pembusukan. Pembusukan biasanya melibatkan perubahan aroma, tekstur, serta pertumbuhan mikroorganisme yang membutuhkan waktu lebih lama. Fenomena serupa juga dapat ditemukan pada beberapa bahan pangan lain seperti pir, pisang, alpukat, dan terong. Kesamaan tersebut terjadi karena bahan-bahan tersebut memiliki enzim dan senyawa alami yang dapat bereaksi ketika terkena oksigen. Perbedaannya hanya terletak pada kecepatan reaksi serta tingkat perubahan warna yang terlihat pada permukaannya.

Warna cokelat yang muncul pada permukaan apel merupakan hasil dari reaksi alami yang berlangsung sesaat setelah daging buah bersentuhan dengan udara. Proses tersebut menjelaskan kenapa apel bisa berubah warna meskipun kondisinya masih segar dan belum mengalami pembusukan. Pemahaman mengenai mekanisme ini membantu membedakan perubahan warna alami dengan tanda-tanda kerusakan buah yang sebenarnya.

Referensi:

"Why Do Sliced Apples Turn Brown?" Britannica. Diakses pada Mei 2026

"Why do apple slices turn brown after being cut?" SCI AM. Diakses pada Mei 2026

"Why do apples turn brown so fast?" Science Focus. Diakses pada Mei 2026

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Topics

Editorial Team

Related Article