Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

11 Hewan Ini akan Punah jika Tak Diselamatkan Kebun Binatang

11 Hewan Ini akan Punah jika Tak Diselamatkan Kebun Binatang
burung beo Puerto Rico (commons.wikimedia.org/USDA Forest Service photo by Preston Keres)
Share Article

Kebun binatang acap kali menerima reputasi buruk. Sekilas, kebun binatang tampak kejam memperlakukan binatang-binatangnya, seperti yang mungkin kamu lihat diberita. Di kebun binatang ada beberapa hewan liar, yang seharusnya berada di tempat terbuka tanpa pagar.

Humane Society bahkan punya pendapat pedas tentang beberapa kebun binatang. Mereka berfokus pada kebun binatang yang tidak terakreditasi, dan bagaimana kebun binatang ini mengurung hewan liarnya. Jika dilihat dari sudut pandang tersebut, kebun binatang cukup mengerikan, dan hewan liar akan lebih baik tanpa kebun binatang, kan? Mungkin.

Namun, ada dua sisi dari pandangan ini. Di satu sisi, kebun binatang melakukan banyak upaya untuk konservasi spesies yang hampir punah. Pasalnya, banyak sekali hewan yang terancam punah. Kita bahkan tidak bisa melihat burung dodo di dunia nyata, karena sudah punah. Jadi, tanpa kebun binatang, lebih banyak hewan akan masuk dalam daftar kepunahan karena hilangnya habitat, perubahan iklim, dan faktor-faktor lainnya.

Memang benar ada kebun binatang yang buruk di luar sana, akan tetapi, kebun binatang yang berupaya melakukan konservasi pantas mendapat pujian atas upaya yang tak kenal lelah untuk menjaga kelangsungan hidup spesies. Berikut ini adalah beberapa spesies berharga yang bisa bertahan hingga saat ini karena intervensi dari kebun binatang.

1. Kuda Przewalski

Kuda Przewalski
Kuda Przewalski (commons.wikimedia.org/Александр Осипов)

Dahulu, kuda liar jauh lebih banyak daripada sekarang. Kuda ada di mana-mana, tetapi akibat domestikasi dan hilangnya habitat, jumlahnya terus berkurang. Hal ini paling terlihat di Mongolia, tempat kelahiran penguasa kuda terbesar dalam sejarah, yaitu pasukan Genghis Khan. Namun, jauh sebelum Mongol berkuasa, populasi kuda Przewalski berkeliaran bebas. Kuda Przewalski pertama kali didokumentasikan secara ilmiah pada tahun 1881, sebagaimana yang dikutip San Diego Zoo.

Pada tahun 1960-an, tidak ada yang bisa menyelamatkan populasi kuda liar tersebut. Nah, karena domestikasi, cuaca buruk, penyakit, dan serigala pemburu, jumlah kuda liar semakin berkurang. Saat itulah Kebun Binatang San Diego, bersama dengan yang lain, turun tangan untuk menyelamatkan kuda Przewalski. Meskipun tidak mencegah kepunahan di alam liar, upaya domestik untuk melestarikan spesies tersebut membuahkan hasil.

Pada tahun 1969, Kebun Binatang San Diego mencatat kelahiran kuda Przewalski pertama mereka, yang kemudian berkembang menjadi kawanan kuda Przewalski di Taman Safari San Diego. Saat ini, kebun binatang di seluruh dunia berupaya memperbanyak populasi kuda liar Przewalski agar berkelanjutan. Adapun, lebih dari 157 kuda Przewalski telah lahir di Kebun Binatang San Diego. Spesies ini juga diperkenalkan kembali ke Mongolia, China, dan Kazakhstan.

2. Kera tamarin singa emas

Kera tamarin singa emas di Kebun Binatang Kopenhagen, Denmark
Kera tamarin singa emas di Kebun Binatang Kopenhagen, Denmark (commons.wikimedia.org/Kera tamarin singa emas)

Di daerah-daerah yang mengalami deforestasi parah di Amerika Selatan, khususnya di Brasil, populasi tamarin singa emas terancam. Yap, dengan hancurnya habitat alaminya di hutan hujan Brasil, populasi kera tamarin singa emas berkurang hingga hanya 2 persen dari wilayah jelajahnya yang biasa, menurut Save the Golden Lion Tamarin, sebuah organisasi nirlaba yang mendukung keberadaan hewan liar tersebut.

Pada tahun 1960-an, diperkirakan hanya tersisa 200 kera tamarin singa emas liar. Selama dua dekade, populasi kera-kera kecil yang menggemaskan ini di kebun binatang meningkat menjadi 500, yang membuka jalan bagi 146 ekor untuk dilepasliarkan selama 15 tahun hingga memasuki tahun 2000-an. Jumlah itu kemudian meningkat menjadi ribuan, meskipun masalah yang dihadapi spesies ini masih berlanjut. Penggundulan hutan telah mengubah habitat alami mereka yang dulunya luas menjadi petak-petak hutan hujan yang tersebar dan terlalu kecil untuk mendukung populasi yang berkembang.

Namun, penggundulan hutan bukanlah satu-satunya masalah. Pada tahun 2018, wabah demam kuning menyebabkan populasi tamarin singa emas liar yang berjumlah 3.600 ekor berkurang menjadi hanya 2.500 ekor. Saat ini, tamarin telah divaksinasi terhadap demam kuning, dan upaya sedang dilakukan untuk menumbuhkan kembali hutan hujan.

3. Macan tutul Amur

Seekor macan tutul Amur sedang beristirahat di Kebun Binatang Helsinki.
Seekor macan tutul Amur sedang beristirahat di Kebun Binatang Helsinki. (commons.wikimedia.org/Uusijani)

Salah satu spesies yang paling terancam punah dalam daftar ini adalah macan tutul Amur. Populasi macan tutul Amur baru-baru ini menurun hingga hanya sekitar 30 macan tutul Amur di alam liar. Kepunahannya bahkan sudah di depan mata. Oleh sebab itu, upaya untuk menyelamatkan macan tutul Amur melibatkan banyak organisasi di seluruh dunia, dan menurut semua laporan, upaya tersebut berhasil.

Yap, dengan bulu yang sangat menarik bagi pemburu liar, macan tutul Amur menjadi target yang dicari. Namun, hal itu bukan satu-satunya ancaman yang dihadapi macan tutul. Hilangnya habitat, perkawinan sedarah akibat populasi yang menyusut, dan harus berbagi wilayah dengan harimau, menghambat pemulihan spesies kucing besar ini.

Ada begitu banyak kebun binatang dan lembaga pelestarian yang berupaya untuk membangun kembali populasi macan tutul Amur liar. Dan berkat Global Species Management Plan, negara-negara seperti China, Rusia, dan Amerika Serikat, berupaya untuk melindungi kucing besar yang hampir punah ini.

Kebun Binatang Memphis adalah salah satu kebun binatang yang memimpin upaya pelestarian macan tutul Amur, baik melalui penggalangan dana maupun dengan memelihara macan tutul Amur, yang diberi nama Sputnik. Menurut perkiraan kebun binatang tersebut, karena adanya upaya di berbagai kebun binatang di seluruh dunia, populasi liar macan tutul Amur telah meningkat selama dekade terakhir, sehingga diperkirakan ada 120 ekor di alam liar.

4. Burung elang peregrine

Seekor elang peregrine sedang terbang berburu di lepas tebing Cape Baily di Taman Nasional Kamay Botany Bay, New South Wales.
Seekor elang peregrine sedang terbang berburu di lepas tebing Cape Baily di Taman Nasional Kamay Botany Bay, New South Wales. (commons.wikimedia.org/Kytabu)

Burung elang peregrine adalah hewan tercepat di planet ini, lho. Kecepatannya mencapai 322 kilometer per jam saat menukik mengejar mangsa. Nah, dengan kemampuan seperti itu, tidak mungkin banget, kan, kalau spesies ini menghadapi ancaman serius terhadap kelangsungan hidupnya.

Di sisi lain, burung pemangsa ini ditemukan di setiap benua kecuali Antarktika. Jadi, gimana bisa predator ini terancam punah? Yap, apalagi kalau bukan karena ulah manusia. Terutama, manusia yang berada di Amerika Utara.

Meskipun burung elang peregrine tidak semuanya berisiko punah di seluruh dunia, risiko kepunahan lokalnya sangat tinggi dan hampir terjadi. Menurut The Nature Conservancy, semuanya dimulai dengan pestisida, khususnya DDT. Pestisida ini disemprotkan ke seluruh lahan pertanian di Amerika Utara dan diserap oleh mangsa elang peregrine, yang akhirnya masuk ke dalam tubuh elang itu sendiri. Akibatnya, telur elang mengalami degradasi dan anak elang tidak bisa menetas dengan selamat. Yap, satu pestisida hampir memusnahkan seluruh spesiesnya di satu benua.

Saat itulah kebun binatang turun tangan. Menurut Los Angeles Zoo, sejak program pengembangbiakan diperkenalkan pada tahun 1972, sekitar 6.000 elang peregrine telah dilepasliarkan ke alam liar Amerika Utara, menghilangkan kekhawatiran tentang kepunahan mereka dan menjadikan mereka salah satu kisah sukses konservasi kebun binatang yang paling gemilang.

5. Berang-berang laut

Berang-berang laut
Berang-berang laut (commons.wikimedia.org/Mike Baird)

Berang-berang laut dikategorikan sebagai spesies yang terancam punah, meskipun upaya pelestarian mereka menunjukkan keberhasilan yang luar biasa. Dan ini bukan hanya tentang melestarikan spesiesnya, tapi juga tentang peran penting yang berang-berang laut mainkan dalam lingkungan. Adapun, berang-berang laut menjaga hutan rumput laut tetap hidup dan sehat dengan memakan landak laut. Juga, membantu rumput laut tumbuh subur di muara dengan memakan kepiting. Jika berang-berang laut punah dari ekosistem, kita tidak hanya kehilangan wajah yang lucu dan menggemaskan itu, tapi ekosistem juga ikut terganggu.

Jarak jelajah berang-berang laut dulunya lebih jauh daripada sekarang. Dulu, berang-berang laut berkeliaran di sepanjang Pantai Barat Amerika Serikat, serta di Rusia dan Jepang. Namun, pada abad ke-18 dan ke-19, berang-berang laut diburu secara luas sehingga sempat dianggap punah pada tahun 1920-an. Tetapi, 50 ekor berang-berang laut muncul entah dari mana di dekat Big Sur, California. Ke-50 ekor tersebut menjadi titik awal gerakan konservasi berang-berang laut.

Salah satu upaya terkemuka di bidang ini berasal dari Monterey Bay Aquarium, yang menampung 5 induk berang-berang pengganti yang melatih anak-anak berang-berang laut yatim piatu sebelum mereka dapat dilepasliarkan. Konservasi ini sendiri telah melepaskan 37 ekor berang-berang laut, meskipun kuncinya adalah memperluas wilayah jelajah liar spesies ini, karena California tidak dapat menampung lebih banyak lagi. Jadi, ada sekitar 3.000 berang-berang laut liar California.

6. Burung kondor California

Seekor burung Condor California terbang di atas Suaka Margasatwa Nasional Bitter Creek, Kern County, California, AS.
Seekor burung Condor California terbang di atas Suaka Margasatwa Nasional Bitter Creek, Kern County, California, AS. (commons.wikimedia.org/Pacific Southwest Region U.S. Fish and Wildlife Service)

Burung kondor California adalah burung darat terbesar di Amerika Utara, dengan rentang sayap mencapai 2,9 meter. Namun, rentang sayap tersebut tidak selalu berkah. Yap, rentang sayapnya saat terbang membuat banyak burung ini mati akibat sengatan listrik. Ini hanyalah salah satu ancaman untuk burung kondor California. Sebab, burung ini juga menghadapi bahaya lain seperti keracunan timbal, tertabrak mobil, memakan sampah, dan banyak lagi. Seperti yang ditunjukkan oleh National Park Service, semua ancaman ini disebabkan oleh ulah manusia.

Banyak hewan dalam daftar ini dipilih berdasarkan Undang-Undang Spesies Terancam Punah tahun 1967, sebuah undang-undang yang dirancang untuk membantu mengembalikan banyak spesies ke alam liar. Kondor California adalah salah satu hewan pertama yang dilindungi berdasarkan undang-undang tersebut. Pada tahun 1987, burung-burung besar ini hanya berjumlah 22 ekor di alam liar, dan saat itulah kebun binatang turun tangan. 22 ekor yang selamat dikumpulkan, dan program konservasi diterapkan untuk mencegah mereka punah.

Kebun Binatang Santa Barbara adalah salah satu dari beberapa mitra yang terlibat dalam program konservasi selama beberapa dekade. Kebun binatang ini menyaksikan 22 burung kondor California terakhir, tapi sekarang jumlahnya lebih dari 200 ekor, seperti yang dikutip CNN. Burung kondor California mulai muncul kembali di hutan redwood California, tempat mereka sebelumnya punah. Jadi, meskipun hanya 93 dari 200 burung tersebut yang memiliki keturunan, upaya untuk membangun kembali populasinya masih berlanjut.

7. Musang berkaki hitam

musang berkaki hitam
musang berkaki hitam (commons.wikimedia.org/USFWS Mountain-Prairie)

Musang berkaki hitam, yang sama menggemaskannya dengan musang yang bisa dipelihara sebagai hewan peliharaan, dulunya berkeliaran di dataran Amerika. Musang ini memangsa populasi anjing padang rumput asli dan berkembang biak. Namun, setiap kali manusia ikut campur, keadaan justru memburuk.

Musang berkaki hitam hampir punah karena hilangnya habitat, penyebaran alami manusia, wabah penyakit, dan penurunan populasi anjing padang rumput. Namun, populasi kecil musang berkaki hitam akhirnya ditemukan pada tahun 1981, menurut Smithsonian's National Zoo and Conservation Biology Institute. Mengetahui hal tersebut, kebun binatang di seluruh Amerika segera menyusun rencana agar hewan ini tidak punah.

Pada tahun 1988, reintroduksi telah dimulai. Upaya untuk mengembangbiakkan populasi musang berkaki hitam berlangsung di Smithsonian Conservation Biology Institute (SCBI) di Front Royal, Virginia. Berkat fasilitas ini saja, 1.029 musang berkaki hitam telah dilepasliarkan kembali di seluruh Amerika Barat dan sekitarnya. Jadi, sekarang terdapat 28 lokasi pelepasan yang tersebar di Wyoming, Dakota Selatan, Montana, Arizona, Colorado, Utah, Kansas, New Mexico, Kanada, dan Meksiko. Adapun, sekitar 139 dari hewan yang dilepasliarkan itu berasal dari inseminasi buatan. Di luar SCBI, lebih dari 7.000 musang berkaki hitam lahir di enam kebun binatang, 2.600 di antaranya telah dilepasliarkan kembali ke habitat alami mereka.

Setiap tahunnya, sebanyak 220 musang berkaki hitam dilepasliarkan ke alam liar. Sayangnya, ancaman masih ada. Populasi liar musang berkaki hitam masih kesulitan untuk mempertahankan lebih dari beberapa ratus individu.

8. Serigala merah Amerika

serigala merah Amerika
serigala merah Amerika (commons.wikimedia.org/Red Wolf Recovery Program)

Serigala merah Amerika dinyatakan punah di alam liar pada tahun 1980, menurut Center for Biological Diversity. Ini adalah spesies lain yang dulunya memiliki wilayah jelajah yang sangat luas, membentang dari Teluk Meksiko hingga Pennsylvania dan ke dataran tengah Lembah Sungai Ohio. Serigala merah Amerika punah karena hilangnya habitat, perburuan ilegal, dan perkawinan silang dengan coyote.

Dimulai dengan populasi hanya 14 ekor serigala merah Amerika, Program Kelangsungan Hidup Spesies (Species Survival Program) mulai mengembangbiakkan populasi serigala liar. Agar rencana ini berhasil, dibutuhkan banyak fasilitas untuk mengembangbiakkan serigala dan mengembalikannya ke alam liar. Program Kelangsungan Hidup Spesies mencakup 44 fasilitas yang membantu kelangsungan hidup serigala merah, termasuk sejumlah besar kebun binatang dari Rhode Island hingga negara bagian Washington.

Red Wolf Recovery Program melaporkan bahwa banyak serigala merah telah dilepasliarkan, dengan populasinya berfluktuasi antara 7 ekor hingga 120 ekor. Namun di penangkaran, terdapat sekitar 243 serigala merah yang dipelihara untuk menjaga kelangsungan hidup spesies ini. Sekarang tinggal bagaimana membersihkan dan memperlancar habitat alami mereka agar dapat menopang kehidupan serigala merah Amerika dalam jangka panjang.

9. Oryx Arab

Oryx Arab (Oryx leucoryx) di Kawasan Konservasi Gurun Dubai, UEA
Oryx Arab (Oryx leucoryx) di Kawasan Konservasi Gurun Dubai, UEA (commons.wikimedia.org/Charles J. Sharp)

Hewan cantik nan menarik di pandang mata biasanya akan jadi sasaran manusia. Hewan-hewan ini diburu karena bulunya yang indah, atau tanduknya yang menawan. Hal ini pernah terjadi pada oryx Arab. Antelop ini memiliki tanduk spiral yang indah dan diyakini banyak orang punya kekuatan magis. Itu sebabnya, oryx Arab sudah diburu sejak lama, jauh sebelum zaman modern. Namun, karena terciptanya kendaraan bermotor dan senjata otomatis, pembantaian massal spesies ini meningkat. Akibatnya, oryx Arab punah di alam liar pada tahun 1972.

Berkat Phoenix Zoo, spesies ini mampu dikembangbiakkan kembali. Pada tahun 1962, sebuah tim pergi ke Gurun Arab dan menangkap dua oryx jantan dan satu oryx betina dengan tujuan melestarikan spesies ini di alam liar. Ketiga oryx tersebut, bersama dengan enam spesimen yang disumbangkan dari kebun binatang lain dan peliharaan pribadi, melakukan perjalanan panjang kembali ke Phoenix dan memulai program reintroduksi oryx Arab di alam liar.

Sepuluh tahun setelah kepunahan itu dan 20 tahun setelah program dimulai, oryx Arab diperkenalkan kembali ke alam liar berkat koalisi yang melibatkan enam pemerintah dunia, lima kebun binatang (termasuk Kebun Binatang Phoenix), dan banyak perkumpulan, program konservasi, dan organisasi nirlaba. Saat ini, terdapat 1.220 oryx Arab di alam liar, dengan 6.000—7.000 lainnya dalam penangkaran semi permanen, seperti yang dilansir Arab News.

10. Katak emas Panama

katak emas Panama
katak emas Panama (commons.wikimedia.org/brian.gratwicke)

Katak emas Panama dan berwarna cerah ini telah punah di alam liar. Tapi, fakta ini cukup tak masuk logika mengingat katak ini bertelur 200—600 butir sekaligus. Tak hanya itu, katak kecil ini sangat beracun. Jadi, mustahil banget sih, kalau spesies ini punah.

Namun, perlu kamu ketahui kalau amfibi ini mati dengan sangat cepat. Yap, sekitar 2.000 dari 6.000 spesies yang diketahui berisiko punah. Hal ini dikenal sebagai Krisis Amfibi Global, karena ancaman utama adalah hilangnya habitat.

Meskipun katak emas Panama belum terlihat di alam liar sejak tahun 2009, tapi dikutip The Guardian, Kebun Binatang Maryland adalah tempat pertama yang berhasil mengembangbiakkan katak tersebut di penangkaran. Hal ini memberikan harapan baru bagi spesies yang setiap harinya berada di ambang kepunahan itu. Meskipun begitu, upaya masih terus dilakukan.

11. Burung beo Puerto Rico

burung beo Puerto Rico
burung beo Puerto Rico (commons.wikimedia.org/USDA Forest Service photo by Preston Keres)

Pada tahun 1975, populasi liar burung beo Puerto Rico menyusut hingga hanya tersisa 13 ekor karena hilangnya habitat, diterjang badai dan predator. Dinas Perikanan dan Margasatwa AS dan Departemen Sumber Daya Alam dan Lingkungan Puerto Rico turun tangan pada tahun 70-an. Program penangkaran ini bekerja sama dengan kebun binatang dan para ilmuwan serta ahli biologinya.

Kebun Binatang Lincoln Park adalah salah satu organisasi terkemuka dalam memantau dan melindungi pertumbuhan burung beo Puerto Rico seiring dengan terus berkembangnya populasi liarnya. Kini, ada keyakinan bahwa pemulihannya akan berhasil. Menurut National Fish and Wildlife Foundation, populasi liar burung beo Puerto Rico telah bertambah menjadi 77 ekor pada tahun 2018, dengan 463 ekor lainnya di penangkaran, yang diharapkan dapat memastikan program pelepasan yang berkelanjutan dan jangka panjang.

Mendapat dukungan dari kebun binatang, yang memimpin upaya pelestarian, merupakan langkah penting dalam program pemulihan spesies yang terancam punah. Yap, seperti hewan-hewan terancam punah yang sudah kita bahas di poin-poin sebelumnya. Semoga tak ada lagi hewan-hewan punah di luar sana, agar anak cucuk kita kelak bisa menyaksikan keberadaannya, meskipun hanya di kebun binatang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More