Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ternyata tidak hanya membuat langit terlihat kelabu dan kualitas udara memburuk. Dalam kondisi tertentu, kepulan asap yang menyebar hingga ke atmosfer juga dapat memengaruhi pembentukan awan dan menghambat turunnya hujan. Situasi ini menjadi semakin rumit ketika wilayah yang dilanda kebakaran justru sedang membutuhkan hujan untuk meredakan kekeringan dan membantu memadamkan api.
Ketika kebakaran meluas, jutaan partikel kecil dari asap ikut terbawa angin dan menyebar ke berbagai lapisan atmosfer. Partikel-partikel tersebut dapat berinteraksi dengan uap air di udara dan mengubah proses pembentukan tetesan air di dalam awan. Akibatnya, awan yang terbentuk belum tentu mampu menghasilkan hujan seperti biasanya, meski udara mengandung cukup banyak kelembapan.
Pengaruh asap karhutla juga tidak berhenti pada proses pembentukan awan. Lapisan asap yang pekat dapat menghalangi sebagian sinar Matahari mencapai permukaan Bumi, sehingga mengubah pemanasan permukaan dan pergerakan udara yang berperan dalam pembentukan hujan. Kombinasi berbagai proses tersebut dalam kondisi tertentu bisa membuat hujan semakin sulit turun, meski dampaknya dapat berbeda bergantung pada kondisi atmosfer. Lantas, bagaimana asap karhutla bisa memengaruhi siklus hujan hingga memperburuk kondisi kekeringan?
