Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Habis Hujan Jadi Ingin Makan Terus dan Cepat Lapar?

3 min read
Kenapa Habis Hujan Jadi Ingin Makan Terus dan Cepat Lapar?
ilustrasi lapar (pexels.com/Mikhail Nilov)
  • Udara dingin saat hujan dapat mendorong tubuh memakai energi untuk menjaga suhu, tetapi peningkatannya bergantung pada suhu, durasi paparan, pakaian, dan kondisi tubuh.

  • Langit mendung serta suasana bosan atau kurang bersemangat dapat meningkatkan keinginan makan melalui pengaruh cahaya, suasana hati, dan sistem penghargaan otak.

  • Lapar dipengaruhi hormon, waktu makan, tidur, aktivitas, kebiasaan, aroma makanan hangat, serta asosiasi hujan dengan camilan; keinginan makan tidak selalu menandakan kekurangan energi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Hujan membuat udara terasa lebih sejuk dan suasana sekitar berubah. Di tengah kondisi seperti ini, makanan hangat seperti mi kuah, bakso, atau gorengan sering terasa lebih menggoda. Bahkan, kamu bisa ingin makan lagi meski baru saja menuntaskan satu makanan.

Perubahan selera makan tersebut menarik untuk dibahas karena rasa lapar bukan sekadar tanda bahwa perut sedang kosong. Tubuh memiliki sistem biologis yang mengatur kebutuhan energi sekaligus merespons kondisi di sekitarnya. Lantas, apa sih yang sebenarnya terjadi di dalam tubuh ketika hujan turun dan rasa lapar mulai muncul?

  1. 1. Suhu dingin dapat meningkatkan kebutuhan energi tubuh

    ilustrasi hujan
    ilustrasi hujan (unsplash.com/Haim Charbit)

    Tubuh manusia mempertahankan suhu intinya melalui proses termoregulasi. Ketika suhu lingkungan turun, tubuh berusaha mengurangi kehilangan panas dengan menyempitkan pembuluh darah di dekat permukaan kulit. Jika suhu terlalu dingin, tubuh juga dapat meningkatkan produksi panas melalui termogenesis, termasuk aktivitas jaringan lemak cokelat dan menggigil. Proses tersebut membutuhkan energi sehingga pengeluaran energi dapat meningkat selama tubuh menghadapi kondisi dingin.

    Meski begitu, udara yang terasa sejuk setelah hujan tidak otomatis membuat tubuh membakar lebih banyak kalori, lho ya. Besarnya peningkatan pengeluaran energi bergantung pada suhu, durasi paparan, pakaian, dan juga kondisi tubuh. Respons lapar juga tidak muncul secara otomatis setiap kali pengeluaran energi meningkat.

  2. 2. Perubahan cahaya dapat memengaruhi suasana hati dan keinginan makan

    ilustrasi hujan
    ilustrasi hujan (unsplash.com/A A)

    Cahaya alami berperan dalam mengatur ritme sirkadian, yaitu sistem biologis yang membantu menyelaraskan waktu tidur, kewaspadaan, dan berbagai proses tubuh dengan siklus siang-malam. Paparan cahaya juga berkaitan dengan sistem neurotransmiter di otak, termasuk serotonin, yang terlibat dalam pengaturan suasana hati dan nafsu makan. Ketika langit mendung, intensitas cahaya yang diterima mata juga dapat berkurang. Meski demikian, perubahan cahaya matahari selama hujan singkat tidak serta-merta membuktikan bahwa kadar serotonin di otak kita langsung menurun begitu saja.

    Suasana hati juga sangat memengaruhi keinginan kita untuk makan melalui sistem penghargaan di otak. Ketika seseorang merasa bosan atau kurang bersemangat, makanan yang disukai dapat memberikan sensasi menyenangkan sehingga keinginan untuk mengonsumsinya meningkat. Makanan tinggi karbohidrat atau bahkan camilan tertentu akan terasa lebih menarik, meski begitu respons keinginan untuk makan lagi bisa berbeda pada setiap orang.

  3. 3. Sinyal lapar dari tubuh dan respons otak terhadap makanan ikut berperan

    ilustrasi lapar
    ilustrasi lapar (pexels.com/cottonbro studio)

    Rasa lapar diatur oleh komunikasi antara saluran pencernaan, jaringan tubuh, dan otak. Salah satu hormon yang terlibat adalah ghrelin, yang membantu meningkatkan dorongan untuk makan dan sering meningkat menjelang waktu makan. Setelah mengonsumsi makanan, sinyal dari saluran pencernaan beserta dengan hormon seperti kolesistokinin dan GLP-1 juga ikut berperan dalam mengatur rasa kenyang. Sistem ini tidak bekerja sendirian karena waktu makan, kualitas tidur, aktivitas, dan kebiasaan juga dapat memengaruhi kapan seseorang merasa lapar.

    Ketika hujan turun, aroma makanan hangat, kebiasaan menikmati camilan di rumah, atau lebih banyaknya waktu untuk bersantai dapat memicu keinginan makan terus-menerus. Otak mempelajari hubungan antara situasi tertentu dan pengalaman menyenangkan, sehingga suasana yang familier bisa membuat makanan terasa lebih menggoda. Keinginan tersebut tidak selalu berarti kalau tubuh kita sedang kekurangan energi atau membutuhkan kalori tambahan.

    Jadi, kalau setiap hujan turun kamu mendadak ingin makan terus, jangan buru-buru menganggap tubuh sedang membutuhkan energi ekstra. Bisa jadi rasa sejuk membuat makanan hangat terasa lebih menggoda, atau otakmu sudah telanjur mengaitkan suara hujan dengan kenikmatan menyantap sesuatu. Sebab, kadang yang bikin lapar bukan cuma perut yang kosong, melainkan juga suasana yang membuat kita ingin makan lagi.

    Referensi:

    "Why Rain Makes Us Hungry." Ecoware. Diakses pada Oktober 2026

    "Yes, Grey Skies & Rain Can Affect Your Mood & Habits." CBS Broadcasting. Diakses pada Oktober 2026

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More
Kenapa Habis Hujan Jadi Ingin Makan Terus dan Cepat Lapar?