Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Bagaimana Kerang Tahu Kapan Air Laut sedang Berbahaya?

ilustrasi kerang
ilustrasi kerang (unsplash.com/Viktoriia Nechepurenko)
Intinya sih...
  • Perubahan kimia air mengubah cara kerang membuka cangkang. Respons ini terjadi lebih cepat dibanding tanda yang bisa diamati manusia.
  • Zat beracun masuk melalui jalur yang sama dengan nutrisi. Kerang cenderung menutup cangkang lebih lama dari biasanya untuk membatasi paparan zat asing.
  • Kenaikan suhu air mengacaukan proses metabolisme. Kerang sering menutup cangkang lebih lama untuk menjaga kondisi internal agar tidak semakin tidak stabil.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kerang merupakan bagian dari filum moluska, kelompok hewan bertubuh lunak yang hidup di lingkungan perairan. Dalam klasifikasi biologi, kerang termasuk ke dalam kelas Bivalvia, yaitu moluska bercangkang dua yang hidup dengan cara menyaring air laut untuk bernapas dan memperoleh makanan.

Meski tampak pasif, kerang memiliki kemampuan mendeteksi perubahan lingkungan yang jauh lebih peka dibandingkan manusia. Perubahan kecil pada kualitas air laut dapat langsung memengaruhi perilaku kerang. Yuk, simak bagaimana mekanisme kerang tahu kapan air laut sedang berbahaya!

1. Perubahan kimia air mengubah cara kerang membuka cangkang

ilustrasi kerang
ilustrasi kerang (commons.wikimedia.org/Engbretson Eric)

Kerang tidak menunggu air laut berubah warna atau berbau untuk bereaksi. Saat kadar oksigen menurun atau keseimbangan asam-basa air bergeser sedikit saja, jaringan lunak di dalam cangkang langsung terpapar perubahan tersebut. Air yang masuk selama proses filtrasi membawa informasi kimia yang tidak terlihat, tetapi cukup untuk memengaruhi kerja sel-sel tubuh kerang. Respons ini terjadi lebih cepat dibanding tanda yang bisa diamati manusia.

Dampaknya terlihat dari cara kerang membuka cangkang lebih sempit atau menutupnya lebih sering. Pola ini mengurangi volume air yang masuk ke dalam tubuh. Bukan karena air sudah pasti beracun, melainkan karena kondisi tersebut tidak lagi ideal bagi kestabilan internal tubuh kerang. Dengan membatasi kontak, kerang memberi waktu bagi tubuhnya untuk menyesuaikan diri.

2. Zat beracun masuk melalui jalur yang sama dengan nutrisi

ilustrasi kerang raksasa
ilustrasi kerang raksasa (commons.wikimedia.org/Diego Delso)

Kerang tidak memiliki mekanisme khusus untuk memisahkan partikel makanan dan zat berbahaya. Semua partikel yang tersuspensi (partikel padat halus yang tidak larut melayang-layang atau tersebar di dalam medium cair (air) atau gas, bukan terlarut) di air laut masuk melalui jalur filtrasi yang sama. Logam berat dan senyawa toksik dapat menempel pada partikel organik, lalu bersentuhan langsung dengan jaringan lunak kerang. Gangguan kecil pada keseimbangan ion di dalam sel sudah cukup untuk memicu perubahan fisiologis.

Akibatnya, kerang cenderung menutup cangkang lebih lama dari biasanya. Aktivitas makan kerang dikorbankan demi membatasi paparan zat asing. Dalam kondisi tertentu, kerang mampu bertahan tanpa makan selama periode tertentu selama tubuhnya tidak terus-menerus terpapar racun. Strategi ini tampak sederhana, tetapi efektif untuk perairan dengan kualitas air yang buruk.

3. Kenaikan suhu air mengacaukan proses metabolisme

ilustrasi kerang
ilustrasi kerang (commons.wikimedia.org/Olivier Dugornay )

Suhu air laut berperan besar dalam mengatur kecepatan reaksi kimia di dalam tubuh kerang. Ketika suhu meningkat terlalu cepat, metabolisme kerang ikut terdorong bekerja lebih keras. Kondisi ini membuat kebutuhan oksigen meningkat, sementara ketersediaan oksigen di air hangat justru sering menurun. Ketidakseimbangan ini dapat memicu stres.

Dalam situasi seperti itu, kerang sering menutup cangkang lebih lama. Tujuannya menjaga kondisi internal agar tidak semakin tidak stabil. Penutupan ini membantu menekan laju metabolisme dan mengurangi kebutuhan oksigen. Dari luar kerang memang terlihat pasif, tetapi sebenarnya tubuh kerang sedang berusaha mempertahankan keseimbangannya.

4. Arus dan getaran air memberi petunjuk tentang ancaman sekitar

ilustrasi kerang
ilustrasi kerang (commons.wikimedia.org/Ryan Hagerty/USFWS)

Selain membaca kandungan kimia air, kerang juga merespons perubahan fisik di lingkungannya. Arus yang berubah tiba-tiba dapat membawa sedimen kasar atau partikel yang berpotensi merusak jaringan penyaring pada kerang . Getaran tertentu juga bisa menandakan adanya aktivitas di sekitar, baik dari predator maupun gangguan lainnya. Sinyal ini ditangkap oleh jaringan sensorik di sekitar cangkang.

Respons yang muncul umumnya berupa penyempitan bukaan cangkang atau penutupan sementara. Filtrasi dihentikan agar partikel kasar tidak masuk ke dalam tubuh. Tindakan ini merupakan keputusan untuk melindungi organ vital. Kerang memanfaatkan perubahan fisik air sebagai peringatan dini sebelum ancaman benar-benar berdampak.

5. Paparan berlapis memicu respons bertahan yang lebih ekstrem

ilustrasi kerang
ilustrasi kerang (commons.wikimedia.org/Megan Bradley/USFWS)

Di alam, kondisi berbahaya jarang muncul sebagai satu faktor tunggal semata. Kenaikan suhu, penurunan kualitas air, serta perubahan arus sering terjadi dalam waktu berdekatan. Kerang membaca akumulasi perubahan ini sebagai sinyal bahwa lingkungan tidak lagi aman. Tubuhnya tidak hanya merespons satu rangsangan, tetapi juga gabungan dari semuanya.

Dalam kondisi seperti ini, penutupan cangkang berlangsung lebih lama dan terjadi secara konsisten. Kerang tidak bisa mengonsumsi makanan sepenuhnya, sementara tubuh mereka akan mengandalkan cadangan energi yang telah tersimpan. Kerang memilih bertahan sambil menunggu kondisi perairan membaik.

Kemampuan kerang tahu kapan air laut sedang berbahaya terbentuk dari sistem sensorik sederhana yang bekerja terus-menerus melalui kontak langsung dengan lingkungannya. Melalui penutupan cangkang, perlambatan filtrasi, dan penyesuaian aktivitas tubuh, kerang dapat mengurangi risiko kerusakan akibat perubahan kualitas perairan. Respons ini membuat kerang sering digunakan sebagai salah satu indikator perubahan kondisi lingkungan laut.

Referensi

"Understanding Ocean Acidification" NOAA Fisheries. Diakses pada Februari 2026

"High levels of toxins in clams follows rapid warmup in Gulf of Alaska waters" Alaska Beacon. Diakses pada Februari 2026

"Clams" Oregon Department of Fish & Wildlife. Diakses pada Februari 2026

"Warmer Waters Linked to Higher Levels of Shellfish Toxin" Live Scince. Diakses pada Februari 2026

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo
Follow Us

Latest in Science

See More

Proses Domestikasi Hewan Peliharaan, Hewan Liar jadi Sahabat Manusia

18 Feb 2026, 07:20 WIBScience