Mengapa Burung Pelatuk Suka Mematuk Pohon Hingga Ribuan Kali?

- Burung pelatuk mematuk pohon hingga 12.000 kali sehari untuk mencari makanan seperti larva serangga, membuat sarang, dan menandai wilayahnya di musim kawin.
- Struktur tubuh pelatuk dirancang khusus: paruh kuat seperti pahat, kaki zygodactyl untuk memanjat, serta bulu ekor kaku sebagai penopang saat menempel di batang pohon.
- Tengkorak, lidah, dan paruh burung pelatuk berevolusi menjadi sistem peredam alami yang melindungi otaknya dari gegar akibat ribuan ketukan keras setiap hari.
Apa jadinya jika seekor burung berukuran kecil mematuk pohon hingga ribuan kali dalam sehari? Burung pelatuk ini lembur membuat lubang pada pohon-pohon besar dan berbatang keras, entah, apa yang mereka cari, tapi setiap hari ia melakukan itu tanpa mengalami cedera kepala atau paruhnya. Tentu perilaku ini membuat kita mengerutkan dahi penuh penasaran.
Layaknya tukang kayu profesional, burung pelatuk sanggup mematuk pohon mencapai 12.000 kali, sungguh angka yang fantastis untuk burung seukuran pelatuk! Burung ini tidak menggunakan alat pelindung khusus, namun tubuhnya memang didesain oleh alam untuk melakukan hal tersebut. Penasaran apa yang sebenarnya pelatuk cari hingga mematuk pohon ribuan kali dan mengapa mereka tidak gegar otak? Berikut penjelasan lengkapnya!
1. Karakteristik burung pelatuk

Burung pelatuk adalah kelompok burung yang beragam dan ditemukan di seluruh dunia, khususnya di iklim sedang yang kaya akan pepohonan. Ukuran burung pelatuk berkisar dari 3,5 inci hingga 2 kaki, dengan burung pelatuk jambul menjadi yang terbesar di Amerika Utara dengan panjang 16,5 inci. Sebagian besar spesies memiliki pola bulu domina hitam atau cokelat dan putih, dengan tambahan bercak merah atau kuning.
Pelatuk termasuk burung yang gemar memanjat. Untuk memudahkan memanjat pohon, mereka memiliki cakar yang melengkung tajam dan kaki zygodactyl yang kuat. Sebagian besar burung memiliki empat jari kaki, dengan satu jari kaki (hallux) mengarah ke belakang dan yang lainnya ke depan. Jenis kaki demikian sangat ideal untuk bertengger, tetapi pada burung pelatuk, jari kaki keempat mengarah ke belakang berama dengan hallux untuk menghasilkan kaki dengan dua jari kaki ke depan dan dua jari kaki ke belakang, yang lebih cocok untuk memanjat dan berpegangan pada pohon.
Beberapa spesies burung pelatuk telah kehilangan salah satu jari kaki belakang dan disebut sebagai burung pelatuk berjari tiga. Bulu ekornya berfungsi sebagai penopang bagi burung pelatuk saat memanjat, menghasilkan gerakan tersentak saat burung bergerak. Bulu ekor yang kaku ini sangat penting untuk aktivitas memanjat, dan selama proses pergantian bulu, dua bulu tengah dipertahankan hingga bulu ekor lainnya diganti, sedangkan pada burung lain bulu tengah adalah yang pertama kali rontok.
Burung pelatuk memiliki paruh yang kokoh dan seperti pahat digunakan untuk mengupas kulit kayu dan menggali kayu untuk mencari serangga atau larva sebagai makanan. Paruh ini juga digunakan untuk mengukir lubang tempat bertengger dan bersarang di pohon serta untuk memukul-mukul. Baik tengkorak maupun paruhnya dirancang untuk menyerap guncangan akibat pemukulan berulang pada kayu.
Pada bagian sayapnya didesain meruncing, dengan rasio aspek rendah. Konfigurasi sayap ini dirancang untuk lepas landas yang cepat dan manuver penerbangan menghindar yang gesit untuk menangkap mangsa, seperti serangga terbang, atau untuk melarikan diri dari predator.
2. Mengapa burung pelatuk gemar mematuk pohon?

Salah satu kebiasaan unik burung pelatuk adalah mematuk batang pohon. Suara ketukannya terdengar begitu menguat dan terus berlanjut tanpa henti. Bahkan dalam sehari burung pelatuk mampu mematuk pohon sebanyak 8.000 hingga 12.000 kali.
Alasan paling umum burung pelatuk menggunakan paruhnya untuk membuat lubang di pohon adalah karena mereka mencari makanan. Burung pelatuk memakan larva serangga yang ditemukan di bawah permukaan kulit pohon. Beberapa, seperti burung pelatuk perut kuning, mengebor pohon untuk memakan getah, serta serangga apa pun yang terperangkap dalam getah pohon.
Di musim semi, burung pelatuk membuat lebih banyak suara karena mereka menggunakan suara pengeboran untuk menarik pasangan dan menetapkan wilayahnya. Dalam hal ini, mereka memilih objek berdasarkan suara resonansi yang dihasilkannya.
Pada musim semi, burung pelatuk juga akan mengebor pohon yang mati atau sekarat untuk membuat sarang. Meskipun dalam kebanyakan kasus burung ini membuat lubang kecil saat mencari makan (baik dalam garis lurus atau tanpa pola yang jelas, tergantung pada spesiesnya), untuk bersarang lubangnya akan jauh lebih besar.
Perilaku ini bukan sekadar ketukan biasa. Di mana burung pelatuk adalah bagian terpenting dari ekosistem. Misalnya, di hutan, mereka membantu membasmi hama serangga pada pohon. Misalnya, burung pelatuk diketahui dapat menghilangkan hingga 85% larva kumbang abu zamrud (EAB) dari pohon abu yang terinfestasi.
Di daerah perkotaan, burung pelatuk membantu mengidentifikasi masalah pada pohon. Jika terdapat lubang-lubang sporadis yang disebabkan burung pelatuk di seluruh batang dan cabang, kemungkinan besar pohon tersebut terserang hama atau sedang sekarat.
3. Bagaimana pelatuk tau pohon mana yang harus dilubangi?

Jenis pohon yang paling umum dirusak oleh burung pelatuk adalah pohon pinus, cemara, birch, pohon buah-buahan, dan pohon sweet gum. Pohon dengan kayu yang lebih lunak adalah tempat makan favorit burung pelatuk, tetapi jika ada pohon yang mengandung serangga penggerek kayu atau kutu kulit kayu, mereka akan mengeborkan untuk mencari makanan yang lezat.
Pohon yang mati atau sekarat memiliki kayu yang lebih lunak dan oleh karena itu lebih disukai oleh burung pelatuk untuk bersarang. Melansir Organic Plant Carrel, para ilmuwan bahkan masih belum yakin bagaimana tepatnya burung pelatuk mengetahui pohon mana yang dipenuhi serangga yang mereka sukai untuk dimakan. Beberapa berpendapat bahwa burung pelatuk dapat mendengar pergerakan di dalam pohon.
Karena burung pelatuk tertarik pada bentuk larva serangga, mereka akan mencari lubang atau celah apa pun yang digunakan serangga untuk masuk ke dalam pohon. Dan akhirnya, mereka akan menggunakan keterampilan mengetuknya untuk menemukan bagian pohon yang berongga, tempat di mana larva kemungkinan besar bersarang di dalamnya.
4. Mengapa burung pelatuk tidak gegar otak padahal memastuk pohon ribuan kali sehari

Burung pelatuk mampu memukul hampir 17 hingga 20 ketukan per detik dan akan melakukan 10 hingga 30 ketukan sebelum beristirahat. Ketukan yang dilakukan hingga ribuan kali ini pelatuk pukulkan pada batang pohon yang sangat keras. Uniknya, burung pelatuk tidak cedera, gegar otak, atau mengalami masalah pada kepalanya sama sekali.
Setiap kali memukul, tengkoraknya yang kecil menyerap gaya maksimum 1.400 kali gaya gravitasi. Gaya benturan yang dihasilkan mirip dengan palu pneumatik mini, diketahui kepalanya bergerak dengan kecepatan 24 km/jam. Alasan mengapa pelatuk tidak mengalami gegar otak adalah karena tengkoraknya yang didesain seperti helm, di mana otak kecil burung pelatuk pas berada di dalam tengkorak dan tidak dapat bergeser di dalam lapisan cairan di sekitarnya.
Selain itu, tengkoraknya memiliki lapisan dalam yang berpori dan lapisan luar yang padat yang telah berevolusi untuk melindungi otak. Tengkorak ini lebih baik menyerap guncangan dan menyebarkan energi yang dihasilkan selama mematuk, mencegah transmisi langsung ke otak. Tengkorak burung pelatuk telah berevolusi menjadi helm yang pas dan permanen.
Tidak hanya desain tengkoraknya, lidah juga berperan penting mengapa burung pelatuk tidak gegar otak saat mematuk. Ibaratnya, lidah pelatuk berfungsi layaknya sabuk pengaman, di mana burung pelatuk mampu menarik lidah kecilnya ke dalam tengkorak, meskipun lidah mereka mungkin sepanjang sepertiga panjang tubuhnya. Lidah ini memiliki tujuan untuk melindungi otak dengan melilitnya hingga kembali ke antara kedua mata. Lidah mereka juga dapat mengencang, menciptakan semacam sabuk pengaman di sekitar jaringan saraf burung yang halus.
Lebih dari itu, bagian paruhnya juga berfungsi sebagai peredam kejutan. Burung pelatuk memiliki paruh yang tajam dan padat dengan sedikit tonjolan di bagian atas. Ini berfungsi sebagai pahat dan dapat menembus kayu keras. Paruh ini juga menyerap sebagian besar dampak dari pemukulan dengan mendistribusikan kembali kekuatannya ke seluruh tubuh burung, bukan ke kepalanya.
Sebagai penutup, burung pelatuk mematuk pohon ribuan kali demi mencari makanan berupa serangga atau larva yang tersimpan di balik permukaan kulit pohon. Diketahui, burung pelatuk tau mana pohon yang sekiranya menyimpan banyak serangga di dalamnya, seperti pohon buah-buahan, pohon pinus, dan cemara. Uniknya, burung ini tidak gegar otak berkat desain tengkorak, lidah, dan paruhnya yang berfungsi layaknya peredam kejutan.

















![[QUIZ] Pilih Karakter Upin & Ipin, Kamu Bisa Time Travel ke Masa Lalu atau Masa Depan?](https://image.idntimes.com/post/20250506/1000008112-a9936ff4ece60dc64a0fc7d3e0c841a5.png)