Hasil analisis menunjukkan bahwa ukiran-ukiran ini sama sekali bukan dibuat secara acak. Simbol-simbol tersebut muncul dalam urutan yang disengaja dan berulang, dengan struktur yang bisa diukur. Menariknya, setiap jenis objek memiliki pola berbeda. Figurine, misalnya, menunjukkan tingkat “kepadatan informasi” sekitar 15 persen lebih tinggi dibandingkan alat, sementara alat memiliki kepadatan lebih tinggi dibandingkan artefak berbentuk tabung atau ornamen pribadi.
Pola-pola ini bahkan tetap konsisten selama sekitar 10.000 tahun yang menandakan bahwa simbol tersebut memiliki fungsi bersama yang stabil dalam masyarakat, bukan sekadar dekorasi. Meski begitu, para peneliti menegaskan bahwa sistem ini belum bisa dianggap sebagai tulisan, karena tidak merepresentasikan bahasa lisan seperti sistem penulisan yang baru muncul sekitar 5.000 tahun lalu.
Temuan ini menunjukkan bahwa simbol-simbol dari budaya Aurignacian kemungkinan merupakan bentuk komunikasi antarmanusia, meski makna pastinya telah hilang ditelan waktu. Meski tidak dapat sepenuhnya diuraikan, bukti ini mengindikasikan bahwa manusia sudah mampu menyimpan dan menyusun informasi secara terstruktur puluhan ribu tahun sebelum sistem tulisan pertama muncul.
Referensi
Bentz, Christian, and Ewa Dutkiewicz. “Humans 40,000 Y Ago Developed a System of Conventional Signs.” Proceedings of the National Academy of Sciences 123, no. 9 (February 23, 2026): e2520385123.