Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Studi: Ular Berevolusi Jadi Kanibal Beberapa Kali dalam Satu Keturunan

Studi: Ular Berevolusi Jadi Kanibal Beberapa Kali dalam Satu Keturunan
ilustrasi ular sanca bulan (unsplash.com/Sam McCool)
Intinya Sih
  • Studi di jurnal Biological Reviews menemukan perilaku kanibalisme pada ular berevolusi secara independen setidaknya 11 kali dalam berbagai garis keturunan, berdasarkan analisis lebih dari 500 laporan kasus.
  • Peneliti menjelaskan bahwa kanibalisme dapat menjadi strategi bertahan hidup saat sumber makanan langka, memberi keuntungan ekologis dan energi bagi ular dalam kondisi lingkungan ekstrem.
  • Hasil penelitian mencatat 503 kasus dari 207 spesies di seluruh dunia, menunjukkan bahwa perilaku ini merupakan adaptasi evolusioner yang muncul berulang kali untuk menghadapi tekanan lingkungan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Perilaku kanibalisme mungkin terdengar ekstrem dan jarang terjadi di alam. Namun pada ular, kebiasaan memangsa sesamanya ternyata bukan fenomena yang sesekali muncul. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa perilaku ini telah muncul berulang kali sepanjang sejarah evolusi berbagai spesies ular.

Dalam sebuah studi yang diterbitkan pada 2 November 2025 di jurnal Biological Reviews, para peneliti meninjau sekitar 500 laporan kasus kanibalisme pada berbagai spesies ular. Hasilnya penelitian tersebut menemukan bahwa perilaku kanibal ternyata berevolusi secara independen setidaknya 11 kali dalam garis keturunan ular yang berbeda.

Para ilmuwan menduga bahwa tekanan lingkungan, seperti kelangkaan makanan atau kondisi habitat yang ekstrem, bisa menjadi pemicu utama munculnya strategi makan yang tidak biasa ini.

1. Kanibalisme bisa menjadi strategi bertahan hidup

Para peneliti menemukan bahwa perilaku kanibalisme pada ular muncul dalam berbagai konteks lingkungan, tetapi secara umum pola ini cenderung berulang karena memberikan keuntungan bagi kelangsungan hidup mereka. Ketika sumber makanan terbatas atau kesempatan berburu muncul secara tiba-tiba, ular bisa bersikap oportunistik dengan memangsa individu dari spesiesnya sendiri.

Menurut Bruna Falcão, penulis utama studi sekaligus mahasiswa biologi di University of São Paulo, pandangan manusia terhadap kanibalisme sangat berbeda dengan dunia hewan. Jika bagi manusia tindakan tersebut dianggap aneh dan menjijikkan, bagi ular justru bisa menjadi strategi yang menguntungkan.

Ia menjelaskan bahwa perilaku ini dapat meningkatkan “kebugaran ekologis” ular, karena memberi mereka peluang bertahan hidup dan mendapatkan energi dalam kondisi lingkungan yang tidak menentu.

2. Kanibalisme bisa memberi keuntungan evolusioner

ilustrasi ular derik (pixabay.com/Steve Adcock)
ilustrasi ular derik (pixabay.com/Steve Adcock)

Dalam dunia hewan, kanibalisme sebenarnya bukan perilaku yang jarang. Beberapa contoh paling terkenal terjadi pada laba-laba dan belalang sembah, di mana betina kadang memakan pasangannya setelah proses kawin. Menurut Xavier Glaudas, seorang ahli biologi dan penjelajah dari National Geographic yang tidak terlibat dalam penelitian ini, kanibalisme merupakan fenomena yang tersebar luas di berbagai kelompok hewan.

Pada masa lalu, ilmuwan sering menganggap perilaku ini sebagai sesuatu yang maladaptif, atau tidak memberikan manfaat bagi spesies secara keseluruhan. Namun semakin banyak penelitian terbaru menunjukkan bahwa kanibalisme bisa memiliki fungsi evolusioner tertentu. Perilaku ini misalnya bisa membantu mengontrol jumlah keturunan, muncul sebagai respons terhadap keterbatasan sumber daya. Hal ini berperan sebagai mekanisme pengendalian populasi, atau sekadar menjadi bentuk predasi oportunistik ketika mangsa lain sulit ditemukan.

3. Terjadi di banyak spesies

Studi tersebut juga menunjukkan bahwa kanibalisme pada ular tidak terbatas pada satu kelompok tertentu saja. Perilaku ini telah berevolusi secara independen di berbagai garis keturunan ular dan ditemukan di banyak wilayah dunia. Dengan menggabungkan berbagai laporan ilmiah dan observasi lapangan, para peneliti berupaya memahami pola kemunculan perilaku tersebut secara lebih luas.

Tim peneliti mengumpulkan total 503 laporan kasus kanibalisme yang melibatkan 207 spesies ular. Laporan tersebut mencakup berbagai kelompok ular di seluruh benua tempat ular hidup, baik yang diamati di alam liar maupun dalam kondisi penangkaran. Menurut Bruna Falcão, temuan ini cukup mengejutkan bagi para peneliti.

Ia mengatakan bahwa awalnya tidak ada yang menyangka ular bisa menunjukkan perilaku kanibalisme dalam jumlah kasus sebanyak itu. Namun semakin banyak literatur yang ditelusuri, semakin banyak pula contoh yang ditemukan.

Temuan ini menunjukkan bahwa kanibalisme pada ular kemungkinan merupakan strategi adaptif yang muncul berulang kali sepanjang evolusi mereka. Dengan memahami mengapa perilaku ini berkembang, para ilmuwan berharap dapat memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang cara hewan beradaptasi terhadap tekanan lingkungan dan keterbatasan sumber daya di alam.

Referensi

Falcão, Bruna B., Vinícius a. São Pedro, and Omar M. Entiauspe‐Neto. “Occurrence and Evolution of Cannibal Behaviour in Extant Snakes.” Biological Reviews/Biological Reviews of the Cambridge Philosophical Society 101, no. 2 (November 2, 2025): 644–64.

"Snakes keep evolving into cannibals — here's what scientists think is going on". Diakses pada Maret 2026. Live Science.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Achmad Fatkhur Rozi
EditorAchmad Fatkhur Rozi
Follow Us

Latest in Science

See More