Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Tak Hanya Manusia, Studi Ungkap Kera Juga Bisa Berimajinasi

Tak Hanya Manusia, Studi Ungkap Kera Juga Bisa Berimajinasi
Bonobo (commons.wikimedia.org/Wcalvin)
Intinya Sih
  • Seekor bonobo bernama Kanzi menunjukkan kemampuan memahami bahasa manusia dan menjadi subjek utama penelitian tentang imajinasi pada primata nonmanusia.
  • Eksperimen “pesta teh” membuktikan Kanzi mampu membayangkan cairan imajiner, menandai bukti eksperimental pertama bahwa kera dapat berimajinasi seperti manusia.
  • Hasil uji lanjutan memperlihatkan Kanzi bisa membedakan antara objek nyata dan khayalan, mengisyaratkan akar imajinasi telah ada jauh sebelum manusia modern muncul.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Seekor bonobo bernama Kanzi berusia 44 tahun menunjukkan pemahaman luar biasa terhadap kata-kata manusia. Kemampuan ini teerlihat setelah bertahun-tahun dilatih menggunakan bahasa isyarat dan papan tombol khusus.

Kemampuan bahasa ini membuatnya menjadi pusat berbagai penelitian tentang bahasa pada primata nonmanusia. Bagi Christopher Krupenye, ilmuwan kognitif dari Johns Hopkins University, ada pertanyaan yang lebih mendalam, apakah Kanzi juga memiliki imajinasi?

Tak lama sebelum kematiannya pada Maret 2025, Krupenye dan timnya menguji hal tersebut lewat eksperimen sederhana yang menyerupai pesta teh anak-anak. Mereka berpura-pura menuangkan cairan dari teko kosong ke dua gelas kosong, lalu “mengembalikan” cairan imajiner itu ke dalam teko dari salah satu gelas.

Ketika Kanzi diminta menunjuk gelas yang masih berisi cairan, para peneliti ingin mengetahui apakah ia mampu membayangkan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah ada.

1. Imajinasi tidak hanya milik manusia

Dalam lebih dari dua pertiga percobaan, Kanzi secara konsisten menunjuk gelas yang secara “imajiner” masih berisi jus, meskipun cairan itu tidak pernah benar-benar ada. Hasil ini menjadi bukti eksperimental pertama bahwa primata selain manusia mampu membayangkan objek khayalan. Temuan tersebut dipublikasikan pada 5 Februari 2026 di jurnal Science.

“Ini salah satu penemuan paling luar biasa yang pernah saya buat,” ujar Christopher Krupenye.

Lebih jauh lagi, penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan berimajinasi kemungkinan tidak muncul secara eksklusif pada Homo sapiens, melainkan sudah ada jutaan tahun lalu dalam sejarah evolusi primata. Menurut Rachna Reddy dari University of Utah, fakta bahwa kapasitas ini dapat diuji secara eksperimental dan terkontrol sangatlah menggembirakan.

Hal itu mengisyaratkan bahwa fondasi kemampuan kognitif kompleks mungkin telah ada bahkan sebelum garis evolusi manusia berpisah dari simpanse dan bonobo.

2. Kanzi bisa membayangkan jus imajiner

Bonobo (commons.wikimedia.org/DBeaune)
Bonobo (commons.wikimedia.org/DBeaune)

Baik kera yang hidup di penangkaran maupun di alam liar sebenarnya sudah lama menunjukkan tanda-tanda bermain dengan “realitas alternatif”. Para ilmuwan secara anekdot melaporkan bahwa kera kadang berpura-pura menggendong kayu seolah itu bayi, atau menirukan gerakan bermain dengan mainan.

Berbagai penelitian selama beberapa dekade juga menunjukkan bahwa kera mampu merencanakan masa depan dan mempertimbangkan keyakinan individu lain. Proses berpikir semacam ini menuntut kemampuan untuk memisahkan diri dari kondisi saat ini dan menerapkan informasi pada realitas yang disimulasikan dalam pikiran.

Namun, hingga kini belum pernah ada bukti eksperimental yang bisa direplikasi tentang kemampuan kera berinteraksi dengan objek khayalan. Di satu poin, Kanzi sempat menunjuk “jus” imajiner dalam percobaan tersebut.

3. Kanzi diuji menggunakan skenario berbeda

Pada kunjungan tahun 2025 ke Ape Initiative di Iowa, tempat Kanzi tinggal lebih dari satu dekade, tim yang dipimpin Amalia Bastos dan Christopher Krupenye menjalankan tiga eksperimen berbeda. Setelah uji “pesta teh” dengan teko dan gelas kosong, mereka mencoba skenario lain menggunakan anggur imajiner.

Dari hasil eksperimen ini, Kanzi berhasil melacak buah khayalan itu 31 dari 45 kali, mendekati performanya saat melacak jus imajiner, yakni 34 dari 50 kali.

Untuk memastikan bahwa Kanzi tidak sekadar menebak, para peneliti juga menguji kemampuannya membedakan realitas dan imajinasi. Dalam percobaan ini, satu gelas benar-benar diisi jus sementara gelas lain hanya “berpura-pura” berisi.

Kanzi secara tepat memilih gelas berisi jus asli sebanyak 14 dari 18 kali. Hal ini menunjukkan bahwa ia tidak hanya mampu membayangkan objek yang tidak ada, tetapi juga memahami perbedaan antara yang nyata dan yang imajiner.

Temuan ini membuka kemungkinan bahwa akar imajinasi telah tumbuh jauh sebelum manusia modern muncul. Melalui sosok Kanzi, para ilmuwan kini melihat bahwa kemampuan membayangkan dunia yang tak kasatmata mungkin merupakan warisan evolusi yang lebih tua dan lebih luas daripada yang pernah kita bayangkan.

Referensi

“Imagination Isn’t Just for Humans, This Famous Ape Shows.” Data set. AAAS Articles DO Group, February 5, 2026.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Achmad Fatkhur Rozi
EditorAchmad Fatkhur Rozi
Follow Us

Latest in Science

See More