Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Tradisi Minta Hujan di Indonesia, Mandikan Kucing Pakai Dawet

4 min read
5 Tradisi Minta Hujan di Indonesia, Mandikan Kucing Pakai Dawet
tradisi Ujungan (humas.jatengprov.go.id)
  • BMKG memprediksi kemarau 2026 lebih panas dan panjang, memicu kesulitan pasokan air serta mendorong sejumlah masyarakat menjalankan tradisi meminta hujan.

  • Di Jombang, warga memandikan kucing tiga warna dengan air dawet dan air kembang; di Lombok Timur, Ngalun Aiq Kokoq dijalankan untuk menjaga serta melimpahkan sumber air.

  • Tari Gundala-gundala Karo, Ujungan Banjarnegara, dan Gebug Ende Bali memakai pertunjukan atau pertarungan rotan sebagai ritual meminta hujan pada musim kemarau.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

BMKG memprediksi musim kemarau 2026 di Indonesia akan berlangsung lebih panas dan panjang. Pada tengah musim kemarau yang makin menyengat masyarakat nampak kesulitan, khususnya terkait pasokan air, baik untuk irigasi, mandi, atau sekadar minum. Nah, untuk meminta hujan turun, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia kerap melaksanakan berbagai tradisi unik.

Ngalon Air Kakok, tradisi Ngasuk, dan Tari Gundala-gundala adalah beberapa tradisi minta hujan di Indonesia. Tiap tradisi memiliki metode, waktu pelaksanaan, hingga sejarah berbeda. Yuk, kenalan dengan berbagai tradisi tersebut lewat artikel berikut!

  1. 1. Tradisi mandikan kucing pakai air dawet (Jombang)

    Salah satu tradisi yang sempat viral pada 2026 dilaksanakan di Dusun Banjarsari, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Pelaksanaannya dilakukan dengan cara memandikan kucing tiga warna atau belang telon menggunakan air dawet dan air kembang.

    Tradisi tersebut sempat dilaksanakan pada 4 Oktober 2026, tepatnya di tengah sawah pada siang hari. Berdasarkan penuturan masyarakat lokal, tradisi tersebut sudah dilakukan secara turun temurun.

    Pada 2026, musim hujan tak kunjung turun dan petani tidak bisa menanam padi akhirnya tradisi tersebut kembali dilakukan. Nah, air dawet jadi simbol penguraian masalah. Sementara itu, kucing tiga warna melambangkan perpaduan antara agama, adat, dan tradisi.

  2. 2. Tari Gundala-gundala (Karo)

    tradisi minta hujan di Indonesia
    formasi gerak Tari Gundala-Gundala (commons.wikimedia.org/Sokokuphoto)

    Tari tradisional Gundala-gundala adalah tradisi turun temurun di Tanah Karo, Sumatra Selatan yang bertujuan memanggil hujan. Laman KaroErjanjar menjelaskan bahwa Tari Gundala-gundala dilakukan oleh beberapa orang yang menggunakan pakaian unik, yaitu topeng kayu dan baju putih. Ada lima orang penari yang memiliki peran tersendiri yaitu sebagai Raja, Kembrahen, Putri Raja, Menantu, dan Burung Gurda-Gurdi.

    Tarian tersebut didasarkan pada legenda masyarakat lokal, yakni Legenda Gurda-Gurdi. Pada zaman dahulu dikisahkan ada seorang putri raja yang menikahi panglima kerajaan. Di satu kesempatan sang putri bertemu burung raksasa Gurda-Gurdi. Burung itu menyukainya tapi putri menolaknya karena ia sudah bersuami.

    Akhirnya, Gurda-Gurdi dikalahkan oleh pasukan kerajaan. Legenda tersebut kemudian diceritakan dalam bentuk tarian yang tujuannya meminta hujan pada musim kemarau.

  3. 3. Ngalun Aiq Kokoq (Lombok Timur)

    Di Desa Aik Dewa, Kecamatan Pringgasela, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, ada tradisi bernama Ngalun Aiq Kokoq. Tujuan utama dari tradisi tersebut sebenarnya untuk menjaga sumber air di desa.

    Namun, masyarakat juga percaya bahwa Ngalun Aiq Kokoq bisa membuat sumber air atau mata air makin berlimpah di musim kemarau. Bukan sekadar tradisi, Ngalun Aiq Kokoq bahkan dinobatkan sebagai warisan tak benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia sehingga harus terus dilestarikan.

  4. 4. Tradisi Ujungan (Banjarnegara)

    tradisi minta hujan di Indonesia
    tradisi Ujungan (humas.jatengprov.go.id)

    Berbeda dari tradisi lain, Ujungan yang dilaksanakan oleh masyarakat Desa Gumelem Wetan, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara berbentuk adu pukul atau perkelahian. Dua laki-laki yang dipersenjatai sebuah rotan akan saling memukul dengan rotan tersebut hingga salah satunya tumbang.

    Tradisi Ujungan sudah dilaksanakan selama puluhan tahun. Ujungan akan dilaksanakan setiap Jumat hingga hujan turun. Masyarakat juga percaya jika ada petarung yang mengeluarkan darah artinya hujan akan segera turun di desa.

  5. 5. Gebug Ende (Bali)

    tradisi minta hujan di Indonesia
    Gebug Ende (commons.wikimedia.org/Manik Agung)

    Tradisi Gebug Ende di Desa Seraya, Kabupaten Karangesem, Bali serupa dengan Ujungan, yaitu berupa pertarungan. Dilansir Disbudpar Karangasem, petarung Gebug Ende akan dipersenjatai dengan masing-masing satu tameng dan pemukul rotan sepanjang 1,5—2 meter.

    Gebug Ende dilaksanakan untuk meminta hujan pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Waktu pelaksanaannya pada musim kemarau, tepatnya pada Oktober hingga November. Berkat keunikannya, tradisi tersebut juga menjadi daya tarik bagi wisatawan, baik lokal atau mancanegara.

    Berbagai tradisi minta hujan di Indonesia menjadi bagian dari keanekaragaman budaya Tanah Air. Karena itu, perlu adanya pelestarian agar semua tradisinya tidak termakan oleh modernisasi dan akhirnya menghilang. Pelestarian sendiri baru bisa terwujud jika ada kerja sama yang kuat antara pemerintah dan masyarakat lokal.

    Referensi:

    "BMKG: Puncak Musim Kemarau Agustus 2026, Perkuat Kesiapan Hadapi Dampak El Nino". BMKG - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. Diakses Oktober 2026.
    "Tradisi Minta Hujan, Kearifan Lokal Masyarakat Nusantara yang Bertahan". Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. Diakses Oktober 2026.
    "Tari Gundala Gundala". Karo Erlajar. Diakses Oktober 2026.
    "Gebug Ende". Dispudpad Karangasem. Diakses Oktober 2026.

Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More