Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Bukan Sihir! 5 Tumbuhan Ini dapat 'Berbicara' untuk Melindungi Diri

Bukan Sihir! 5 Tumbuhan Ini dapat 'Berbicara' untuk Melindungi Diri
ilustrasi pohon akasia (wikimedia.org/B.navez)
Intinya Sih
  • Penelitian menunjukkan tumbuhan dapat 'berbicara' lewat sinyal kimia seperti gas dan senyawa organik untuk memperingatkan bahaya serta berkoordinasi dengan tanaman lain di sekitarnya.
  • Beberapa contoh komunikasi ini terlihat pada akasia, tembakau liar, tomat, ek, dan jagung yang mampu memanggil predator alami atau memperkuat pertahanan diri terhadap hama.
  • Fenomena komunikasi kimiawi antar tumbuhan membuktikan kecerdasan ekologis mereka dalam menjaga keseimbangan alam dan kelangsungan hidup berbagai spesies di ekosistem.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Tumbuhan selama ini sering dianggap sebagai makhluk hidup pasif yang hanya diam saat menghadapi ancaman dari predator atau lingkungan sekitar. Namun, beberapa penelitian mengungkap fakta mengejutkan bahwa tanaman memiliki mekanisme "bicara" yang sangat canggih melalui sinyal kimiawi. Mereka tidak menggunakan suara, melainkan melepaskan senyawa organik yang mudah menguap ke udara untuk mengirimkan pesan darurat. Pesan-pesan ini dapat diterima oleh tumbuhan tetangga atau bahkan hewan pemangsa yang bertindak sebagai "polisi" alami.

Fenomena unik ini membuktikan bahwa tumbuhan adalah organisme sosial yang sangat cerdas dalam bertahan hidup. Dengan cara ini, satu tanaman yang terluka dapat menyelamatkan seluruh populasi di sekitarnya dari kehancuran total. Mari kita telusuri lebih dalam siapa saja tumbuhan "si paling vokal" yang memiliki kemampuan luar biasa untuk berkomunikasi, berikut faktanya!

1. Pohon Akasia

Pohon Akasia
ilustrasi pohon akasia (wikimedia.org/Giles Laurent)

Pohon akasia merupakan salah satu contoh dalam hal komunikasi tanaman untuk pertahanan kelompok. Dilansir laman Food and Trees for Africa, saat seekor jerapah mulai mengunyah daunnya, pohon akasia tersebut akan segera melepaskan gas etilen sebagai sinyal bahaya ke atmosfer. Gas ini kemudian terbawa angin dan dideteksi oleh pohon-pohon akasia lain yang berada dalam radius tertentu di sekitarnya.

Begitu menerima sinyal etilen tersebut, pohon tetangga akan langsung memproduksi zat tanin dalam jumlah besar pada daun mereka. Zat tanin ini memberikan rasa yang sangat pahit dan dalam dosis tinggi bisa beracun bagi sistem pencernaan jerapah. Akibatnya, jerapah sering kali harus berpindah mencari pohon yang jauh untuk menghindari daun yang sudah berubah rasa menjadi tidak enak. Strategi ini dilakukan untuk memastikan bahwa hewan tidak akan menghabiskan seluruh populasi pohon di satu area yang sama.

2. Tanaman Tembakau Liar

Tembakau Liar
ilustrasi tanaman tembakau liar (wikimedia.org/C T Johansson)

Tanaman tembakau liar memiliki taktik bertahan hidup yang sangat spesifik dan melibatkan kerja sama dengan predator serangga lain. Melansir National Institute of Health, ketika daunnya digerogoti oleh ulat hornworm, tanaman ini tidak hanya diam, melainkan mengeluarkan senyawa kimia yang disebut dengan Volatile Organic Compounds (VOCs). Aroma kimiawi ini berfungsi seperti sirine darurat untuk memanggil bantuan dari serangga predator seperti kutu busuk besar.

Kutu ini akan datang mendekat ke arah aroma tersebut dan mulai menyerang serta memakan ulat-ulat yang sedang merusak tanaman tembakau. Selain memanggil bantuan, tanaman ini juga bisa mengubah waktu mekar bunganya dari malam ke siang hari untuk menghindari ngengat yang meletakkan telur ulat tersebut. Kemampuan untuk memanipulasi ekosistem di sekitarnya, menjadikan tembakau liar sebagai salah satu ahli strategi kimia terbaik di alam.

3. Tanaman Tomat

Tanaman Tomat
ilustrasi tanaman tomat (wikimedia.org/Frank Vincentz)

Tanaman tomat menggunakan jaringan komunikasi yang sangat tersembunyi tapi luar biasa efektif melalui sistem akar mereka. Dilansir laman University of Illinois, mereka bekerja sama dengan jamur mikoriza di dalam tanah untuk membentuk jaringan luas yang sering disebut sebagai Wood Wide Web. Melalui jaringan jamur ini, satu tanaman tomat yang terserang penyakit atau hama dapat mengirimkan sinyal peringatan listrik dan kimia kepada rekan-rekan mereka.

Tanaman tomat tetangga yang menerima "pesan teks" bawah tanah ini, akan segera memperkuat sistem imun dan memproduksi enzim pertahanan sebelum penyakit tersebut benar-benar sampai. Fakta uniknya, komunikasi bawah tanah ini terjadi jauh lebih cepat dan lebih aman dari gangguan angin dibandingkan sinyal kimia di udara. Jaringan ini memastikan bahwa seluruh kebun tomat dapat saling membantu dalam menghadapi wabah hama yang mengancam.

4. Pohon Ek

Pohon Ek
ilustrasi pohon ek (wikimedia.org/Phil Champion)

Pohon ek memiliki kemampuan luar biasa dalam mendeteksi jenis ancaman yang menyerang mereka melalui analisis kimiawi yang sangat detail. Dilansir laman Smithsonian Magazine, pohon besar ini mampu mengenali komponen air liur serangga yang memakan daun mereka, baik itu ulat, kumbang, maupun kutu daun. Setelah mendeteksi jenis air liurnya, pohon ek akan merespons dengan mengeluarkan aroma khusus yang bertindak sebagai sinyal peringatan bagi pohon ek lainnya.

Komunikasi ini memungkinkan pohon-pohon di sekitarnya untuk menyiapkan zat pertahanan kimiawi yang spesifik pula untuk mengusir jenis serangga tersebut. Selain itu, pohon ek juga dapat mengeluarkan senyawa yang membuat daunnya menjadi lebih sulit untuk dicerna oleh sistem pencernaan serangga. Dengan demikian, pohon ek tidak hanya mengandalkan kekokohan batangnya, tetapi juga kecerdasan komunikasinya dalam mempertahankan kelestarian hutan.

5. Tanaman Jagung

Tanaman Jagung
ilustrasi tanaman jagung (wikimedia.org/Tournasol7)

Jagung merupakan salah satu tanaman yang sangat vokal dan responsif terhadap serangan hama penggerek batang melalui pelepasan sinyal bau. Dilansir laman Agricultural Research Service, saat ulat mulai memakan bagian tubuhnya, jagung akan memproduksi dan melepaskan aroma khas "rumput segar" yang sangat tajam ke udara. Bau ini bukan sekadar aroma alami, melainkan sinyal undangan khusus yang ditujukan bagi tawon parasitoid tertentu.

Tawon tersebut akan datang mengikuti jejak bau dan segera menyuntikkan telur mereka ke dalam tubuh ulat yang sedang memakan jagung. Begitu telur menetas, larva tawon akan memakan ulat dari dalam dan akhirnya menghentikan kerusakan pada tanaman jagung tersebut. Menariknya, jenis bau yang dilepaskan jagung bisa sangat spesifik tergantung pada jenis ulat yang sedang menyerang bagian tubuhnya.

Kemampuan tumbuhan untuk "bicara" melalui sinyal kimiawi merupakan salah satu keajaiban biologi yang memastikan keseimbangan ekosistem tetap terjaga dengan baik. Manfaat dari komunikasi antar tanaman ini tidak hanya menguntungkan populasi mereka sendiri, tetapi juga mendukung keberlangsungan hidup berbagai spesies serangga yang menjadi predator alami hama. Fenomena ini memberikan pesan penting bagi kita bahwa setiap makhluk hidup, sekecil apa pun, memiliki cara unik untuk berinteraksi dan melindungi diri dari ancaman.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Hella Pristiwa
EditorHella Pristiwa
Follow Us

Latest in Science

See More