Apakah Kita Sedang Menuju Kepunahan Massal? Begini Kata Ilmuwan!

- Zaman Holosen dimulai sekitar 11.700 tahun yang lalu, bertepatan dengan berakhirnya zaman es terakhir. Manusia meninggalkan gaya hidup berburu dan mulai hidup menetap serta bertani.
- Kepunahan massal saat ini terjadi karena aktivitas manusia yang tidak berkelanjutan, seperti deforestasi, perburuan yang tidak berkelanjutan, polusi, dan perubahan iklim.
- Organisasi pecinta alam seperti Extinction Rebellion terbentuk karena dampak dari kepunahan massal dan banyak orang yang ingin mendorong perubahan untuk kebaikan Bumi.
Dalam sejarah Bumi, kita diajarkan kalau dinosaurus itu punah sejak jutaan tahun yang lalu. Mereka terbunuh oleh dampak asteroid yang dahsyat. Dalam sekejap, Bumi berubah untuk selamanya. Seluruh hutan hangus terbakar. Tsunami besar menghancurkan pesisir pantai dan sekitarnya. Alhasil, lebih dari 80 persen dari seluruh kehidupan di Bumi musnah. Inilah peristiwa kepunahan massal yang paling terkenal dan pernah dihadapi Bumi, tetapi tentu saja bukan satu-satunya.
Selama jutaan tahun, Bumi telah mengalami sekiranya lima kepunahan massal, yang masing-masing bertepatan dengan perubahan drastis pada lingkungan Bumi. Definisi dari peristiwa kepunahan massal sendiri, seperti yang dikutip National Geographic, jika setidaknya 75 persen spesies Bumi punah dalam waktu yang relatif singkat. Namun, penyebab pasti dari peristiwa-peristiwa kepunahan massal di masa lalu ini masih belum diketahui sepenuhnya.
Para ilmuwan bahkan tidak yakin berapa banyak kepunahan massal yang telah terjadi sebelumnya. Namun, beberapa berpendapat bahwa telah terjadi enam peristiwa kepunahan massal di masa lalu di Bumi. Nah, yang lebih mengkhawatirkan lagi, saat ini planet kita sedang menuju ke peristiwa kepunahan ketujuh.
Peristiwa ini dikenal sebagai Kepunahan Holosen. Banyak peneliti yakin akan konsekuensi buruk dari kepunahan ini. Sebuah studi dalam jurnal PNAS, berjudul "Mutilation of the Tree of Life via Mass Extinction of Animal Genera" (2023), yang ditulis Gerardo Ceballos dan Paul R. Ehrlich, menggambarkan kepunahan massal sebagai hilangnya pohon kehidupan, di mana seluruh cabang dan fungsi pepohonan hilang. Namun, penyebabnya bukanlah asteroid besar. Kali ini penyebabnya adalah kita. Yap, manusia. Benarkah Bumi akan di-reset seperti awal?
1. Apa itu Zaman Holosen?

Sejarah planet Bumi terbagi menjadi beberapa bagian. Kisah-kisah yang membentang miliaran tahun ini tertulis di bebatuan, atau dikenal sebagai zaman. Nah, saat ini zamannya dikenal sebagai Holosen. Zaman Holosen dimulai sekitar 11.700 tahun yang lalu, bertepatan dengan berakhirnya zaman es terakhir. Zaman ini juga bertepatan dengan munculnya umat manusia.
Saat zaman es berakhir dan Bumi mulai mencair, kehidupan nenek moyang kita di masa lalu pun ikut berubah. Sekitar satu milenium memasuki Holosen, manusia meninggalkan gaya hidup berburunya, tak lagi hidup nomaden dan memilih hidup menetap, serta mengumpulkan makanan dengan cara bertani. Desa-desa terbentuk dan banyak penduduk yang mulai bertani. Zaman ini adalah awal dari Periode Neolitikum, atau Zaman Batu "Baru", dan menjadi dasar bagi semua peradaban manusia yang akan datang (era modern).
Bahkan pada awal Holosen, banyak hewan yang mulai mengalami kepunahan. Di antara yang pertama kali punah adalah megafauna, seperti mammoth berbulu dan harimau bertaring tajam. Meskipun begitu, perubahan iklim kemungkinan besar berperan dalam hal ini. Nah, manusialah yang menjadi penyebab utamanya. Sebuah studi tahun 2023 yang diterbitkan di Nature Communications, berjudul "Worldwide Late Pleistocene and Early Holocene Population Declines in Extant Megafauna are Associated with Homo Sapiens Expansion Rather than Climate Change," yang ditulis Juraj Bergma, dkk, menimbang bukti-bukti tersebut dan menemukan bahwa kemungkinan besar nenek moyang kitalah yang menentukan nasib megafauna, khususnya lewat ekspansi manusia. Jauh sebelum bahasa tulis ditemukan, manusia sudah mengubah ekosistem Bumi di seluruh dunia.
2. Seberapa jauh umat manusia saat ini menuju kepunahan massal?

Rupanya kepunahan skala kecil terjadi sepanjang waktu, bahkan di antara banyaknya bencana yang terjadi di seluruh dunia. Kepunahan sendiri hanyalah bagian dari evolusi kehidupan di Bumi, karena organisme terus berubah dan beradaptasi dari waktu ke waktu. Terkadang yang lama harus mati agar yang baru bisa muncul. Biasanya, setiap abad, satu dari setiap 10.000 spesies di Bumi punah dan tidak akan pernah kembali.
Namun, selama peristiwa kepunahan massal, jumlah kepunahan ini meroket. Sejumlah besar tumbuhan dan hewan punah dengan kecepatan yang dramatis. Bahkan ada satu kepunahan di masa lalu yang diperkirakan berlangsung sekitar 60.000 tahun. Jadi, jika Kepunahan Holosen terjadi pada 11.700 tahun yang lalu, kemungkinan itu baru sebagian kecil dari keseluruhan proses kepunahan massal.
Sebuah studi yang diterbitkan di Science, berjudul "The Biodiversity of Species and Their Rates of Extinction, Distribution, and Protection" (2014), yang ditulis oleh S. L. Pimm, dkk, memperkirakan bahwa tingkat kepunahan saat ini (era modern) sekitar 1.000 kali lipat dari tingkat latar belakang normal. Perkiraan lain bahkan lebih parah, dengan beberapa ilmuwan memperkirakan mungkin mencapai 10.000 kali lipat dari tingkat latar belakang. Jika kamu merasa semua ini mencemaskan, kamu tidak sendirian. Para ilmuwan dan masyarakat yang peduli terus menyerukan agar kita tidak memperburuk keadaan dengan merusak lingkungan. Jadi setidaknya masih belum terlambat.
3. Punahnya burung dodo akibat ulah manusia

Bukan rahasia lagi kalau manusia menjadi faktor kepunahan hewan di masa lalu, dan salah satu contohnya yang paling terkenal adalah punahnya burung dodo. Burung yang tidak bisa terbang ini dulunya berkeliaran di pulau Mauritius, di Samudra Hindia. Namun, saat orang Eropa pertama kali tiba di sana, sekitar pergantian abad ke-17, burung-burung itu menjadi sasaran empuk bagi para pemburu. Mengingat burung dodo tidak memiliki predator alami, burung ini pun tidak mempunyai kemampuan untuk melarikan diri dari perburuan.
Dikutip Geographical, hanya 80 tahun setelah pelaut Belanda mencapai pulau Mauritius, burung-burung dodo punah. Selain menjadi korban perburuan berlebihan, habitat alami burung-burung ini juga rusak. Alhasil, burung dodo punah dari muka Bumi dalam waktu kurang dari satu abad. Kepunahan burung dodo pun harusnya menjadi tamparan keras bagi manusia dan menjadi peringatan keras tentang betapa mudahnya ekspansi manusia dapat menimbulkan kerugian besar pada habitat alami hewan.
Meskipun nasib menyedihkan burung dodo menjadi peringatan tentang betapa mudahnya suatu spesies dapat punah, ada pelajaran yang lebih penting yang dapat dipetik dari tragedi abad ke-17 ini. Pada saat itu, punahnya burung dodo hampir tidak diakui dalam sejarah. Seiring berjalannya waktu, burung dodo bahkan hampir dilupakan. Namun, sebelum abad ke-19, beberapa ilmuwan Eropa bahkan menganggap burung dodo sebagai makhluk mitos. Hal ini semestinya menyadarkan kita bahwa kerusakan yang terjadi di dunia akibat ulah manusia, sering kali diremehkan dan bahkan sulit untuk dijadikan pelajaran.
4. Kepunahan massal ketujuh

Kepunahan Holosen disebut juga kepunahan massal ketujuh. Kendati begitu, beberapa ilmuwan masih menganggapnya sebagai kepunahan massal keenam. Terlepas dari itu, banyak ilmuwan menganggapnya sebagai peristiwa yang sedang berlangsung saat ini.
Peristiwa kepunahan massal ini bisa memusnahkan spesies dengan sangat cepat. Semua jenis hewan, tumbuhan, jamur, dan bahkan mikroba dapat menjadi korban dari kepunahan massal ini. Seperti yang dijelaskan oleh seorang ahli geologi di UC Riverside, "Tidak ada yang kebal terhadap kepunahan. Kita dapat melihat dampak perubahan iklim pada ekosistem dan harus memperhatikan dampak yang merusak saat kita merencanakan masa depan." Dampaknya juga tidak hanya terbatas pada daratan. Sebab, sebuah studi di Science berjudul "Oceans on the Edge of Anoxia" (2016), yang ditulis Andrew J. Wats, mencatat beberapa kesamaan yang mengkhawatirkan antara kondisi lautan saat ini dan kondisi lautan selama kepunahan massal sebelumnya.
Jika kepunahan sebelumnya disebabkan oleh bencana alam, seperti letusan gunung berapi dan dampak asteroid, Kepunahan Holosen justru berbeda. Kali ini, dampaknya sepenuhnya disebabkan oleh aktivitas manusia dan cara yang tidak berkelanjutan dari sebagian besar aktivitas masyarakat modern. Seiring bertambahnya populasi manusia di Bumi, semakin mendesak bagi kita untuk mengatasi masalah-masalah ini, baik untuk diri kita sendiri maupun untuk dunia di sekitar kita. Beberapa ahli berpendapat bahwa Bumi sebenarnya bisa menampung miliaran orang lebih banyak ketimbang populasi saat ini, tetapi hanya jika kita punya kemauan untuk hidup lebih berkelanjutan, tidak serakah, dan mengeksploitasi alam.
5. Adanya efek bola salju jika terjadi kepunahan massal

Semua kehidupan di Bumi ini saling terkait. Dalam ekosistemnya masing-masing, setiap makhluk hidup punya perannya masing-masing. Makhluk hidup saling bergantung satu sama lain untuk bertahan hidup, bisa sebagai makanan, sebagai penolong, dan terkadang untuk mengendalikan spesies lain agar populasinya tidak meningkat. Artinya, satu spesies yang hilang berdampak pada spesies lain, yang kemudian memengaruhi spesies lain lagi, dan seterusnya. Semua itu akhirnya menjadi bola salju dan dapat menyebabkan kekacauan.
Beberapa spesies lebih rentan ketimbang yang lain. Sebuah studi yang diterbitkan di Science berjudul "Trophic Downgrading of Planet Earth" (2011), yang ditulis James A. Estes, dkk, menyoroti bahwa beberapa spesies yang paling berisiko adalah spesies puncak, atau yang berada di puncak rantai makanan. Spesies puncak memiliki umur yang lebih panjang, populasi yang lebih kecil, dan tingkat kelahiran yang lebih lambat. Akibatnya, ketika populasi mereka mulai menurun, dibutuhkan waktu yang jauh lebih lama untuk pulih. Nah, gajah adalah contoh dari spesies tersebut. Kotoran gajah menyuburkan tanah dan membawa benih tanaman ke mana-mana. Selain itu, gajah juga menggali lubang air yang dimanfaatkan oleh berbagai hewan.
Ada pula spesies yang jauh lebih rendah, akan tetapi punya peran vital dalam lingkungannya. Nah, yang paling terkenal di antaranya adalah lebah. Ada lebih dari 20.000 jenis lebah yang hidup di Bumi. Jika hilang satu lebah saja, bisa berdampak buruk pada ekosistem karena seluruh rantai makanan terganggu. Tanpa lebah untuk penyerbukan, spesies tumbuhan akan mati, memutus pasokan makanan yang bergantung pada beberapa hewan. Belum lagi hewan lain yang memakan lebah itu sendiri.
6. Kepunahan massal saat ini terjadi karena manusia

Sekali lagi, Kepunahan Holosen sepenuhnya disebabkan oleh dampak manusia terhadap planet Bumi. Beberapa hewan liar sudah terkena dampak parah akibat hal ini. Sekitar seperempat spesies burung, misalnya, mengalami kepunahan. Bukan karena satu penyebab besar, melainkan akibat dari gabungan beberapa penyebab kecil, yang semuanya terkait dengan aktivitas manusia yang tidak berkelanjutan.
Salah satu penyebab utamanya adalah perusakan habitat atau kerusakan ekologis, termasuk deforestasi. Menurut World Wildlife Fund, sekitar 40 persen dari seluruh lahan di Bumi saat ini digunakan untuk pertanian, dan ini juga merupakan pendorong utama di balik 90 persen deforestasi secara global. Pertanian juga menyumbang sekitar 70 persen penggunaan sumber air di dunia. Contoh terkenalnya adalah perkebunan kelapa sawit. Hal ini merusak lingkungan karena ekosistem dikorbankan untuk pertanian.
Kerusakan ini semakin diperparah oleh faktor-faktor lain seperti perburuan yang tidak berkelanjutan, polusi, dan perubahan iklim yang sedang berlangsung. Nah, yang terakhir ini sangat signifikan. Banyak spesies tanaman dan hewan hanya hidup di iklim yang sesuai. Saat dunia memanas, hal ini memengaruhi banyak spesies tanaman, dan tidak ada jaminan tanaman bisa bertahan hidup. Hal ini termasuk tanaman yang dibudidayakan. Para ahli memperkirakan bahwa kopi dan cokelat bisa punah pada pertengahan abad ke-21.
Beberapa kerusakan yang disebabkan oleh perubahan iklim mungkin sudah tidak bisa dipulihkan. Seperti yang dicatat dalam sebuah studi di jurnal Nature Ecology & Evolution, berjudul "Morphospace Expansion Paces Taxonomic Diversification After End Cretaceous Mass Extinction" (2019), yang ditulis Christopher M. Lowery dan Andrew J. Fraas, mengungkapkan bahwa beberapa ceruk ekologis yang hilang akibat perubahan iklim antropogenik (dampak akibat ulah manusia) tidak akan pernah pulih kembali. Wah, segitu dahsyatnya, ya!
7. Terjadinya bencana di abad ke-21 akibat keserakahan manusia

Pada abad ke-21, aktivitas manusia mempercepat terjadinya kepunahan Holosen. Sebab, lebih dari separuh emisi CO₂ antropogenik terjadi dalam tiga dekade terakhir. Nah, terlepas dari peringatan tersebut, emisi ini terus meningkat dari tahun ke tahun.
Banyak spesies yang terkena dampaknya. Salah satunya spesies yang tidak diperhatikan kebanyakan orang. Yap, serangga dan laba-laba, misalnya, yang mulai punah dengan cepat.
Selain perubahan iklim, masalah serius lainnya berkaitan dengan uang atau keuntungan. Sumber daya alam dieksploitasi untuk keuntungan ekonomi, karena perusahaan-perusahaan besar bersikeras untuk memperoleh keuntungan setiap tahunnya. Efeknya pun domino dan terkait dengan masalah lain yang saat ini terjadi di dunia, yaitu konsumsi berlebihan atau gaya hidup over consumption.
Sederhananya gini, sumber daya Bumi dikeruk dengan sangat cepat ketimbang kemampuan Bumi untuk memperbaruinya. Nah, ini sepenuhnya bukan salah masyarakat melainkan tanggung jawab orang-orang terkaya di dunia. Para miliarder ini menggunakan sumber daya alam secara tidak proporsional.
Beberapa ilmuwan dan ahli bahkan secara terang-terangan menyatakan bahwa masalah utamanya adalah kapitalisme. Sebab, keserakahan ini mendorong konsumsi berlebihan pada masyarakat. Inilah yang berdampak buruk pada keanekaragaman hayati Bumi. Mengutip sebuah artikel tahun 2020 yang diterbitkan di Nature Communications, berjudul "Scientists’ Warning on Affluence," yang ditulis Thomas Wiedman, dkk, mengungkapkan bahwa kapitalisme adalah penyebab langsung dari ketidaksetaraan, ketidakstabilan ekonomi, konsumsi sumber daya berlebih, dan rusaknya lingkungan.
8. Kontroversi terkait kepunahan Holosen

Ilmu pengetahuan didasarkan pada perbedaan pendapat dan perdebatan. Hal inilah yang menciptakan gagasan dan pemahaman agar bisa dikonfirmasi dan ditingkatkan lagi. Jadi, sudah tak asing lagi jika ada beberapa ilmuwan yang tidak setuju kalau kepunahan yang terjadi saat ini memenuhi syarat sebagai peristiwa kepunahan massal.
Ilmuwan yang menentang ini juga punya argumennya sendiri, nih. Meskipun tingkat kepunahan saat ini jauh di atas tingkat latar belakang, mungkin tidak berada pada tingkat yang sama dengan kepunahan massal sebelumnya. Masalah utamanya adalah ketidakpastian. Pasalnya, belum pernah ada peristiwa seperti ini sebelumnya.
Kendati begitu, para ilmuwan yang menentang Kepunahan Holosen justru tidak menutup mata kalau Bumi kita ini sedang menghadapi krisis keanekaragaman hayati. Menurut studi yang diterbitkan di Nature, berjudul "Ongoing Declines for the World’s Amphibians in the Face of Emerging Threats" (2023), yang ditulis Jennifer A. Luedtke, dkk, amfibi, seperti katak dan salamander, juga terancam punah, mengingat dua dari setiap lima spesiesnya saat ini berisiko.
Selain faktor-faktor yang secara langsung disebabkan oleh manusia, perubahan iklim juga memiliki efek samping, seperti penyakit yang dapat merusak spesies tumbuhan dan hewan. Amfibi sendiri mengalami pandemi akibat infeksi jamur. Tanaman, termasuk tanaman penghasil pangan, juga berisiko mengalami nasib serupa. Sebab, perubahan iklim membuat penyakit yang menyerang tanaman menyebar lebih mudah ke wilayah baru.
9. Munculnya banyak organisasi pecinta alam karena dampak dari kepunahan

Terlepas apa yang terjadi di dunia saat ini dapat dikategorikan sebagai kepunahan massal atau tidak, kamu pasti ngerasain kalau dampaknya berasa banget. Hilangnya keanekaragaman hayati yang terus terjadi membuat banyak orang melakukan demo hampir di seluruh dunia. Organisasi akar rumput seperti Extinction Rebellion terbentuk karena banyak orang yang secara aktif ingin bersuara dan ingin mendorong perubahan yang berarti untuk kebaikan Bumi. Dikenal sebagai XR, salah satu tujuan utama kelompok ini adalah menghentikan punahnya keanekaragaman hayati.
Namun, beberapa aksi demo Extinction Rebellion dinilai kontroversial, karena dianggap membuat kericuhan dan mengganggu pihak berwenang. Meskipun demikian, Extinction Rebellion sebenarnya mendapat dukungan dari berbagai tokoh terkemuka, seperti ilmuwan dan pejabat pemerintah tertentu. Seperti yang dilaporkan surat kabar Metro, hakim bahkan membebaskan para aktivis ini karena ditangkap dalam aksi demo.
Di organisasi ini dan organisasi lainnya, demo ini dimotivasi oleh para ahli yang berulang kali memperingatkan bahwa manusia harus bertindak secepat mungkin untuk mengatasi punahnya keanekaragaman hayati di dunia agar kepunahan spesies lebih lanjut tidak terus terjadi. Nah, biar efektif, aksi individu saja tidak cukup, nih. Pemerintahlah yang punya wewenang lebih untuk bertindak. Itulah kenapa organisasi seperti Extinction Rebellion melakukan protes. Sebab, tanpa tindakan nyata ini, aktivitas manusia terhadap alam bisa terus menimbulkan bencana hanya dalam beberapa dekade.
10. Disebut juga Zaman Antroposen

Pengaruh umat manusia terhadap Bumi memang tidak bisa disangkal, dengan lebih dari 8 miliar orang kini hidup di Bumi. Dampaknya begitu mendalam sehingga beberapa ahli ekologi mengusulkan nama baru untuk zaman sejarah Bumi ini—Antroposen, atau zaman manusia, sebagaimana yang dikutip The Natural History Museum. Istilah ini belum diterima secara universal dan masih belum resmi, tetapi sudah dipakai oleh banyak ilmuwan.
Para ilmuwan berpendapat bahwa zaman dalam sejarah planet ini didefinisikan sebagai zaman ketika aktivitas manusia mengubah lingkungan secara signifikan. Kamu bisa cari tahu sendiri, karena dampaknya terjadi di daratan, atmosfer, dan lautan Bumi. Antroposen sendiri dimulai sekitar pertengahan abad ke-20. Nah, tahun 1950 diusulkan sebagai awal resminya.
Meskipun namanya belum resmi, istilah ini sudah sangat kerasa di zaman ini. Frasa kepunahan Antroposen (defaunasi Antroposen) telah digunakan dalam laporan berita dan makalah ilmiah yang diterbitkan. Dalam catatan geologis Bumi, kepunahan massal sering menandai batas antara periode waktu utama. Jika kita tidak berhati-hati hari ini, maka tingkat kepunahan dan hilangnya keanekaragaman hayati saat ini bisa menjadi aspek penentu dari setiap diskusi tentang Antroposen. Kita perlu bertanya pada diri sendiri secara sadar, apakah ini warisan yang ingin kita tinggalkan dalam catatan planet kita. Sebenarnya kita masih dapat mengubahnya jika kita punya kemauan untuk melakukannya, nih.
11. Masa depan Bumi jika terjadi kepunahan massal

Peristiwa kepunahan massal di masa lalu Bumi, mungkin secara kontraintuitif, telah bertanggung jawab atas persentase yang sangat kecil dari total jumlah spesies yang punah. Namun jangan salah, dampaknya sangat besar. Tentu saja, setiap kali terjadi kepunahan, dunia kembali pulih, tetapi prosesnya lambat dan sulit. Dalam banyak hal, Bumi yang pulih akan menjadi planet yang berbeda dari planet sebelumnya.
Peristiwa kepunahan massal membutuhkan waktu yang lama, setidaknya dalam skala waktu manusia, tetapi proses pemulihannya membutuhkan waktu yang jauh lebih lama. Menurut sebuah studi di University College London, catatan fosil menunjukkan bahwa ekosistem Bumi membutuhkan waktu sekitar 2 juta tahun untuk pulih setelah peristiwa kepunahan massal. Namun, ini sangat bervariasi dari ekosistem ke ekosistem, dan beberapa ekosistem bahkan membutuhkan waktu yang lebih lama lagi. Setelah terjadinya kepunahan terbesar di Bumi, terumbu karang membutuhkan waktu 14 juta tahun untuk pulih sepenuhnya.
Kepunahan massal memang meninggalkan banyak ceruk ekologis yang tidak ditempati bagi organisme baru untuk menempatinya. Nah, dengan begitu banyaknya kekosongan, makhluk hidup bebas untuk mengembangkan spesialisasi baru atau bahkan mempelajari strategi bertahan hidup yang sepenuhnya baru. Sayangnya, evolusi bukanlah proses yang cepat.
Pertanyaannya, dapatkah dunia pulih dari Kepunahan Holosen? Ya, sangat mungkin. Tapi seperti apa Bumi di masa depan itu, tidak ada yang bisa menebaknya. Sementara itu, umat manusia yang tersisa mungkin akan mendapati dirinya hidup di planet yang sangat sepi.



















