Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Benarkah Air Kencing Bisa Menyelamatkan Nyawa Saat Darurat?

ilustrasi bioma gurun pasir (pexels.com/Oliver Wagenblatt)
ilustrasi bioma gurun pasir (pexels.com/Oliver Wagenblatt)
Intinya sih...
  • Air kencing adalah tempat pembuangan. Sekitar 60 persen berat badan manusia terdiri dari cairan, dan untuk menjaga keseimbangan zat di dalam tubuh, ginjal menyaring sekitar 180 liter cairan darah setiap hari.
  • Apakah air kencing bisa menghidrasi tubuh dalam kondisi darurat? Jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak. Tubuh akan terus kehilangan cairan melalui keringat sekitar 450 mililiter per hari dan uap air dari napas sekitar 300 mililiter per hari.
  • Apakah air kencing benar-benar steril? Urine yang baru terbentuk di ginjal memang umumnya steril, tetapi kondisi ini berubah saat cairan tersebut melewati kandung kemih
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Dalam situasi darurat ekstrem, seperti tersesat di alam liar tanpa akses air bersih, satu solusi yang cukup populer adalah dengan meminum air kencing untuk menyelamatkan hidup. Mitos ini kerap muncul dalam film bertema survival dan cerita populer, seolah-olah urine adalah sumber cairan terakhir saat tubuh terancam dehidrasi.

Namun, sains memiliki pandangan yang jauh lebih kompleks tentang apa sebenarnya isi air kencing dan bagaimana dampaknya bagi tubuh manusia dalam kondisi kritis. Berikut penjelasan sains.

1. Air kencing adalah tempat pembuangan

Air kencing bisa diibaratkan seperti tempat sampah tubuh. Sekitar 60 persen berat badan manusia terdiri dari cairan, dan untuk menjaga keseimbangan zat di dalam tubuh, ginjal menyaring sekitar 180 liter cairan darah setiap hari.

Namun, hampir 99 persen dari cairan itu diserap kembali ke aliran darah, sementara sisanya dibuang sebagai urine. Proses ini mirip seperti membersihkan garasi yang berantakan, semua dikeluarkan, lalu yang masih berguna diambil kembali dan sisanya dibuang.

Kandungan akhir urin bergantung pada kondisi hidrasi, aktivitas metabolisme, serta apa yang baru kamu konsumsi, termasuk obat dan suplemen. Meski sekitar 95 persen urin adalah air, cairan ini sudah membawa zat sisa yang sengaja dikeluarkan tubuh.

2. Apakah air kencing bisa menghidrasi tubuh dalam kondisi darurat?

ilustrasi pria meminum air putih
ilustrasi pria minum air putih (unsplash.com/Amanda Maria)

Jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak. Jika kamu sehat dan terhidrasi dengan baik, urine biasanya berwarna bening hingga kuning pucat, yang berarti kandungannya sebagian besar air, meski tetap mengandung urea, garam, dan sisa metabolisme lain.

Dalam kondisi ini, meminum urin pada “keluaran pertama” memang bisa memberikan sedikit efek hidrasi. Namun, situasinya berubah drastis dalam skenario bertahan hidup. Tubuh akan terus kehilangan cairan melalui keringat sekitar 450 mililiter per hari dan uap air dari napas sekitar 300 mililiter per hari, jumlah yang bisa meningkat tajam di lingkungan panas dan lembap.

Untuk mempertahankan cairan, ginjal akan memekatkan urin dengan menahan air dan membuang limbah dalam konsentrasi lebih tinggi. Artinya, urine yang diminum justru mengandung zat sisa yang semakin pekat, termasuk urea, yang memang ingin dikeluarkan tubuh.

Jika zat-zat ini kembali masuk dan menumpuk, terutama saat ginjal bekerja keras atau tidak optimal, dampaknya bisa bersifat toksik bagi sel, khususnya pada sistem saraf.

3. Apakah air kencing benar-benar steril?

Masalahnya bukan hanya soal racun. Urine yang baru terbentuk di ginjal memang umumnya steril, tetapi kondisi ini berubah saat cairan tersebut melewati kandung kemih dan uretra. Bagian saluran kemih ini dihuni bakteri “baik” yang normalnya tidak berbahaya selama berada di tempatnya. Ketika urine keluar, bakteri-bakteri ini bisa ikut terbawa.

Jika urine diminum, bakteri tersebut justru masuk kembali ke organ yang tidak semestinya, terutama saluran pencernaan. Dalam kondisi normal, asam lambung dapat membunuh sebagian besar bakteri. Namun dalam situasi darurat, saat tubuh mengalami dehidrasi, stres panas, atau kekurangan nutrisi, lapisan usus bisa melemah.

Akibatnya, bakteri lebih mudah menembus ke aliran darah dan memicu infeksi serius, sebuah risiko yang sangat berbahaya ketika kamu sedang bertahan hidup di alam liar.

Kesimpulannya, meminum air kencing bukanlah solusi aman untuk bertahan hidup. Meski tampak seperti cairan yang masih “bisa dimanfaatkan”, urine justru membawa limbah dan bakteri yang ingin dibuang tubuh. Dalam kondisi darurat, pilihan terbaik tetap mencari sumber air yang lebih aman atau mengolah air seadanya.

Referensi

Riebl, Shaun K., and Brenda M. Davy. “The Hydration Equation.” ACSMʼs Health & Fitness Journal 17, no. 6 (November 1, 2013): 21–28.

"If you get lost in the bush, can you really survive by drinking your own pee?". Diakses pada Januari 2026. The Conversation.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Achmad Fatkhur Rozi
EditorAchmad Fatkhur Rozi
Follow Us

Latest in Science

See More

4 Jenis Gempa Bumi yang Paling Sering Terjadi

28 Jan 2026, 09:59 WIBScience