Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

7 Fakta Long Wattled Umbrellabird, Burung Endemik Amerika Selatan

Burung payung bergelambir panjang jantan (Cephalopterus penduliger).
Burung payung bergelambir panjang jantan (Cephalopterus penduliger). (commons.wikimedia.org/Ryan F. Mandelbaum)
Intinya sih...
  • Burung jantan memiliki gelambir yang menggantung di tenggorokannya
  • Gelambir berfungsi untuk memikat betina dan sebagai alat komunikasi suara
  • Burung ini endemik Amerika Selatan, pemakan buah aktif di siang hari, dan hanya bertelur satu butir dalam satu musim kawin
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Dunia hewan selalu menyimpan rahasia yang gak pernah habis untuk dijelajahi, mulai dari makhluk terkecil di dasar samudra hingga penghuni hutan belantara yang eksotis. Di antara jutaan spesies tersebut, kelompok burung sering kali menjadi primadona karena keindahan warna dan keunikan perilakunya yang memukau. Namun, pernahkah kamu membayangkan seekor burung yang memiliki "payung" di atas kepala dan gelambir panjang yang menjuntai di dadanya seperti sebuah dasi alami?

Inilah Long-wattled Umbrellabird, alias Burung Payung Gelambir Panjang, yang merupakan salah satu mahakarya alam dari hutan tropis Amerika Selatan, dengan penampilannya yang sangat unik. Penasaran mengapa burung ini dianggap sebagai salah satu spesies paling unik sekaligus menawan di dunia? Mari kita selami lebih dalam deretan fakta uniknya dalam artikel berikut ini!

1. Burung jantan lebih besar dan memiliki gelambir yang menggantung di tenggorokannya

Burung payung bergelambir panjang jantan (Cephalopterus penduliger).
Burung payung bergelambir panjang jantan (Cephalopterus penduliger). (flickr.com/Charles Gates)

Long-wattled Umbrellabird, atau Burung Payung Bergelambir Panjang (Cephalopterus penduliger) adalah anggota keluarga Cotingidae yang unik dan memiliki banyak nama sebutan di daerah asalnya, seperti pájaro toro atau burung sapi. Burung jantan memiliki tubuh yang lebih besar dengan tinggi sekitar 40 cm, sedangkan betina sedikit lebih kecil. Ciri khas keduanya adalah ekor yang pendek dan jambul di atas kepala yang bisa ditegakkan seperti payung, meski jambul pada jantan cenderung lebih panjang dan terlihat lebih mencolok.

Keunikan utama burung jantan terletak pada gelambir besar yang menggantung di tenggorokannya, yang secara ilmiah disebut penduliger (artinya "menggantung" dalam bahasa Latin). Gelambir ini unik karena panjangnya dapat dikendalikan, di mana burung jantan akan menariknya saat terbang agar tidak mengganggu pergerakan. Sementara itu, burung betina dan burung muda biasanya tidak memiliki gelambir atau ukurannya sangat kecil, sehingga penampilan mereka tidak mencolok seperti burung jantan dewasa yang seluruh tubuhnya didominasi bulu hitam pekat.

2. Gelambir burung jantan berfungsi untuk memikat betina

Burung payung bergelambir panjang jantan (Cephalopterus penduliger).
Burung payung bergelambir panjang jantan (Cephalopterus penduliger). (flickr.com/ryanacandee)

Gelambir panjang pada burung jantan bukan sekadar hiasan unik, melainkan alat utama untuk memikat pasangan saat musim kawin. Di area khusus yang disebut lek, burung jantan akan memamerkan gelambir yang sehat dan panjang sebagai simbol ketampanan untuk menarik perhatian betina. Semakin menonjol gelambir yang dimiliki, semakin besar pula peluang jantan tersebut terpilih sebagai pasangan karena dianggap memiliki kualitas fisik yang unggul.

Selain sebagai daya tarik visual, gelambir ini berfungsi sebagai alat komunikasi suara dengan menjadi tabung pengeras suara alami. Saat jantan mengeluarkan suara yang rendah, gelambir tersebut membantu memperkuat getaran suara agar terdengar lebih jauh menembus lebatnya hutan tropis. Selama ritual ini, jantan juga akan mengembangkan bulu-bulu pada gelambirnya agar terlihat lebih besar dan mencolok, sebagai sinyal kuat untuk menunjukkan dominasi mereka di hadapan betina.

3. Burung endemik Amerika Selatan

Burung payung bergelambir panjang bertengger di dahan pohon.
Burung payung bergelambir panjang bertengger di dahan pohon. (inaturalist.org/Christoph Moning)

Burung Payung Bergelambir Panjang adalah penghuni asli hutan tropis Amerika Selatan yang tergolong cukup langka. Mereka biasanya menghuni area hutan awan dan hutan pegunungan yang memiliki tingkat kelembapan sangat tinggi. Burung endemik ini sangat menyukai lingkungan yang masih alami, rimbun, dan belum terjamah oleh aktivitas manusia agar bisa hidup dengan tenang.

Wilayah persebaran mereka sangat terbatas, yaitu hanya di lereng Pasifik wilayah barat daya Kolombia dan bagian barat Ekuador. Meskipun lebih sering menghuni hutan hujan yang tinggi di area pegunungan, terkadang mereka juga terlihat turun ke wilayah yang lebih rendah. Karena habitatnya yang spesifik dan terbatas, menjaga kelestarian hutan di wilayah tersebut sangat penting bagi keberlangsungan hidup mereka.

4. Pemakan buah yang aktif di siang hari

Burung payung bergelambir panjang bertengger di pohon palem.
Burung payung bergelambir panjang bertengger di pohon palem. (inaturalist.org/Christoph Moning)

Burung Payung Bergelambir Panjang adalah hewan penyendiri yang aktif mencari makan di siang hari dan beristirahat di malam hari. Karena ukuran tubuhnya yang besar, burung ini bukanlah penerbang yang hebat, mereka terbang dengan lambat dan terasa kaku di udara. Untuk berpindah tempat dengan lebih lincah, mereka lebih sering melompat di antara dahan pohon menggunakan jari-jari kakinya yang kuat.

Uniknya, saat tidur, Burung Payung Bergelambir Panjang akan menyembunyikan kepala dan kakinya di balik sayap serta jambulnya, sehingga mereka tampak seperti tumpukan bulu hitam yang tidak berbentuk. Burung endemik ini merupakan pemakan buah atau herbivora yang sangat menyukai buah-buahan berukuran besar, terutama dari jenis palem-paleman. Meski makanan utamanya adalah buah, mereka juga sesekali memakan serangga, amfibi, hingga reptil kecil seperti kadal untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya.

5. Hanya bertelur satu butir dalam satu musim kawin

Burung payung bergelambir panjang jantan (Cephalopterus penduliger).
Burung payung bergelambir panjang jantan (Cephalopterus penduliger). (flickr.com/ryanacandee)

Saat musim kawin tiba, burung jantan akan berkumpul dalam kelompok kecil hingga 15 ekor di sebuah area bernama lek untuk memamerkan diri di dahan-dahan pohon. Di sini, burung betina akan datang berkunjung dan memilih pasangan berdasarkan kegagahan serta perilaku berkuasanya. Meskipun terkadang terlihat di area yang terbuka, burung ini sebenarnya sangat bergantung pada hutan yang masih asli dan rimbun untuk mencari makan dan melakukan ritual kawin tersebut.

Setelah proses perkawinan, burung betina akan membangun sarang di pohon dengan ketinggian sekitar 4,5–5 meter dari tanah. Biasanya, mereka hanya bertelur satu butir dalam satu musim dan mengeraminya selama sekitar 28 hari sendirian tanpa bantuan jantan. Setelah menetas, induk betina akan bekerja keras mencari makan setiap jam untuk memberikan serangga atau buah-buahan demi membesarkan anaknya hingga mandiri.

6. Populasinya dikabarkan terus menurun

Burung payung bergelambir panjang bertengger di dahan pohon.
Burung payung bergelambir panjang bertengger di dahan pohon. (flickr.com/Gary Leavens)

Populasi Burung Payung Bergelambir Panjang saat ini terus menurun dan dikategorikan sebagai spesies yang Rentan oleh IUCN. Penyebab utamanya adalah hilangnya hutan tempat tinggal mereka akibat penebangan liar, serta perburuan dan penangkapan oleh manusia, terutama di dekat pemukiman. Lokasi kawin mereka yang mudah ditemukan membuat burung ini sangat rawan ditangkap.

Diperkirakan populasinya saat ini hanya tersisa sekitar 7.500–15.000 ekor dewasa, dengan penurunan jumlah yang mencapai 20-29% dalam beberapa dekade terakhir. Saat ini, upaya perlindungan telah dilakukan di beberapa kawasan lindung di Ekuador dan Kolombia. Langkah-langkah penting seperti reboisasi dan pengelolaan hutan yang lebih ketat sangat diperlukan agar habitat mereka tidak semakin terpecah-pecah, sehingga burung unik ini dapat terhindar dari ancaman kepunahan.

7. “Petani hutan” yang suka menyebar biji

Burung payung bergelambir panjang terbang.
Burung payung bergelambir panjang terbang. (flickr.com/ryanacandee)

Burung Payung Bergelambir Panjang dikenal sebagai "petani hutan" yang sangat efektif karena perannya sebagai penyebar biji. Karena menyukai buah-buahan berukuran besar dari keluarga palem-paleman, mereka memiliki paruh dan sistem pencernaan yang mampu membawa biji-biji besar tersebut jauh dari pohon induknya. Biji yang dimuntahkan atau dikeluarkan melalui kotoran biasanya masih dalam kondisi utuh dan siap tumbuh, sehingga burung ini membantu meregenerasi hutan dan menjaga keberagaman jenis pohon di area yang luas.

Selain sebagai penyebar biji, mereka juga berperan dalam menjaga keseimbangan rantai makanan. Dengan memangsa serangga, amfibi, dan reptil kecil, mereka membantu mengontrol populasi hewan-hewan tersebut agar tidak meledak. Sebaliknya, keberadaan mereka juga menjadi indikator kesehatan hutan, karena jika populasi burung ini menurun, itu tandanya ekosistem hutan tersebut sedang mengalami kerusakan serius atau kehilangan keanekaragaman hayatinya.

Long-wattled Umbrellabird atau Burung Payung Bergelambir Panjang adalah bukti nyata betapa ajaibnya evolusi di alam liar. Dari jambulnya yang ikonik, gelambir panjang yang berfungsi sebagai alat komunikasi, hingga perannya yang sangat vital sebagai penyebar biji di hutan tropis, burung ini merupakan komponen tak terpisahkan dari ekosistem pegunungan Andes. Sayangnya, statusnya yang kini terancam punah mengingatkan kita bahwa keajaiban alam ini bisa hilang selamanya jika habitat aslinya tidak segera dilindungi dari kerusakan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna
Follow Us

Latest in Science

See More

4 Rekor Gerhana Matahari Terpanjang dalam Sejarah, Seberapa Lama?

27 Jan 2026, 21:04 WIBScience