Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Fakta Blue Crowned Laughingthrush, Burung Langka dengan Mahkota Biru

burung blue-crowned laughingthrush
burung blue-crowned laughingthrush (ebird.org/Su Li)
Intinya sih...
  • Burung Blue-crowned laughingthrush punya ciri khas menawan dengan mahkota biru cerah dan tubuh abu-abu kecokelatan.
  • Habitat burung ini terbatas di hutan subtropis Cina selatan, terancam oleh deforestasi dan perluasan pertanian.
  • Blue-crowned laughingthrush masuk daftar Critically Endangered menurut IUCN, hanya tersisa sekitar 200–300 ekor di alam liar.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Blue-crowned laughingthrush (Garrulax courtoisi) adalah salah satu burung paling menawan dengan mahkota biru cerah yang menghiasi kepalanya. Burung ini jadi incaran pengamat burung dan pecinta satwa karena kombinasi warna yang kontras antara mahkota biru, wajah putih, dan tubuh abu-abu kecokelatan. Meski terlihat ceria dan mudah dikenali dari suara khasnya, populasi blue-crowned laughingthrush justru tergolong langka dan sangat terancam.

Selain keindahan visual, burung ini punya peran penting di ekosistem hutan subtropis Asia Timur, khususnya di Cina bagian selatan. Aktivitasnya membantu penyebaran biji dan menjaga keseimbangan serangga. Mengetahui fakta-fakta unik tentang blue-crowned laughingthrush gak cuma bikin takjub, tapi juga meningkatkan kepedulian terhadap pelestarian satwa langka. Yuk, simak fakta menarik seputar burung langka ini!

1. Punya ciri khas yang menawan

burung blue-crowned laughingthrush
burung blue-crowned laughingthrush (ebird.org/Su Li)

Blue-crowned laughingthrush punya tubuh berukuran sedang, panjangnya sekitar 25–28 cm dengan rentang sayap yang proporsional untuk mobilitas di hutan lebat. Mahkota biru cerah menjadi ciri khas paling mencolok, kontras dengan wajah putih bersih dan punggung abu-abu kecokelatan. Matanya yang gelap dan bulat memberi ekspresi cerdas, sedangkan paruhnya pendek dan kuat untuk mematuk buah dan serangga.

Selain warna, postur tubuh burung ini kompak dan agak gemuk, memudahkan adaptasi di semak dan pohon kecil. Bulu ekornya panjang dan runcing, membantu keseimbangan saat bergerak di cabang. Kombinasi ciri fisik ini membuat blue-crowned laughingthrush mudah dikenali bahkan dari jarak cukup jauh di habitat alaminya.

2. Habitat dan ancaman yang dihadapi

burung blue-crowned laughingthrush
burung blue-crowned laughingthrush (ebird.org/Chun Fai LO)

Blue-crowned laughingthrush hanya ditemukan di hutan subtropis pegunungan Cina bagian selatan, terutama provinsi Jiangxi dan Hunan. Habitat ini terdiri dari semak lebat, pohon berdaun lebar, dan lereng yang lembap. Kondisi lingkungan yang sejuk dan teduh memberi ruang ideal untuk bersarang, mencari makan, dan berinteraksi sosial dengan kelompok lain.

Sayangnya, deforestasi dan perluasan pertanian menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidupnya. Aktivitas manusia mengurangi area hidup sekaligus fragmentasi hutan, membuat populasi burung ini semakin terisolasi. Kehilangan habitat alami ini juga mempersulit migrasi lokal dan mengurangi ketersediaan makanan, sehingga populasi blue-crowned laughingthrush terus menurun.

3. Perilaku sosial dan ekologi

burung blue-crowned laughingthrush
burung blue-crowned laughingthrush (ebird.org/Chun Fai LO)

Burung ini dikenal sebagai spesies sosial yang hidup dalam kelompok kecil, biasanya 5–10 ekor. Suara khas laughing atau tawa panjang menjadi sarana komunikasi antara anggota kelompok, baik untuk memperingatkan bahaya maupun mengkoordinasi pencarian makanan. Aktivitas sosial ini juga meningkatkan peluang bertahan hidup di habitat hutan yang relatif sempit.

Selain interaksi sosial, blue-crowned laughingthrush aktif mencari buah, biji, dan serangga di lantai hutan maupun cabang pohon rendah. Peran ekologisnya penting karena membantu penyebaran biji tanaman dan mengontrol populasi serangga. Pola perilaku ini membuat burung berfungsi sebagai indikator kesehatan hutan subtropis di wilayah Cina selatan.

4. Pembiakan dan perilaku bersarang

burung blue-crowned laughingthrush
burung blue-crowned laughingthrush (ebird.org/Phillip Edwards)

Musim kawin blue-crowned laughingthrush biasanya berlangsung antara bulan April hingga Juli, saat sumber makanan melimpah. Burung jantan menarik perhatian betina melalui ritual suara khas dan menonjolkan mahkota biru. Sarang dibuat di semak tebal atau cabang rendah, terbuat dari ranting dan daun kering, biasanya tinggi dari tanah 1–2 meter.

Setiap betina biasanya menghasilkan 3–5 telur yang dierami bersama oleh pasangan jantan dan betina. Anak burung menetas setelah sekitar 14–16 hari dan tetap bersama orang tua hingga cukup mandiri. Proses ini sensitif terhadap gangguan manusia dan predator, sehingga keberhasilan reproduksi sangat bergantung pada kelestarian habitat.

5. Status konservasi yang kritis

burung blue-crowned laughingthrush
burung blue-crowned laughingthrush (ebird.org/Su Li)

Blue-crowned laughingthrush masuk daftar Critically Endangered menurut IUCN, alias sangat terancam punah. Populasinya diperkirakan hanya tersisa sekitar 200–300 ekor di alam liar, menjadikannya salah satu burung paling langka di dunia. Status ini memicu berbagai upaya konservasi, mulai dari pemantauan populasi, rehabilitasi habitat, hingga program penangkaran untuk pelepasliaran kembali.

Upaya konservasi terbukti penting, karena burung ini sulit bertahan tanpa perlindungan manusia mengingat habitatnya yang terbatas dan rentan. Dukungan terhadap pelestarian habitat dan pencegahan perburuan ilegal sangat menentukan kelangsungan hidup spesies ini. Melestarikan blue-crowned laughingthrush bukan sekadar menyelamatkan satu spesies, tapi juga menjaga keseimbangan ekosistem hutan subtropis di Asia Timur.

Blue crowned laughingthrush adalah simbol keindahan sekaligus kerentanan alam yang langka. Fakta-fakta uniknya mengingatkan kalau setiap spesies punya peran ekologi dan nilai budaya yang tak tergantikan. Dengan kepedulian terhadap konservasi, peluang bagi burung ini untuk tetap hidup bebas di hutan subtropis bisa terus meningkat. Melindungi spesies ini berarti menjaga keindahan alam yang bisa dinikmati generasi mendatang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna
Follow Us

Latest in Science

See More

5 Fakta Zlin, Kota Unik di Ceko yang Dibangun oleh Industri Sepatu

27 Jan 2026, 19:29 WIBScience