Comscore Tracker

6 Hal Ini Menjelaskan Keinginan NASA Membangun Reaktor Nuklir di Bulan

Sumber energi misi antariksa yang aman, portable dan tangguh

Semua orang membicarakan Bulan, satelit alami Bumi. Tahun 2019 merupakan tahun ke-50 sejak keberhasilan misi Apollo 8 mencapai Bulan, dengan para awak berhasil mengambil foto Earthrise yang legendaris.

Bisakah kita kembali ke sana? Haruskah kita kembali? NASA tahu bahwa kita mungkin harus kembali, apabila nantinya kita hanya menggunakan Bulan sebagai batu loncatan untuk misi eksplorasi wilayah Tata Surya yang lebih jauh. Pertimbangan ini membuat NASA menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mencoba membuat reaktor nuklir yang dapat dioperasikan di sana.

Saat ini, NASA tengah mengembangkan Kilopower, sebuah reaktor fisi nuklir yang ringkas, portable dan sangat tangguh, yang dapat mendukung misi antariksa di pos-pos terdepan manusia di planet dan satelit alami Tata Surya, seperti di Mars atau di Titan, bulan terbesar Saturnus.

Dilansir dari situs techradar.com, 6 hal ini menjelaskan keinginan NASA untuk membangun reaktor nuklir di Bulan.

1. Apa itu reaktor fisi nuklir kilopower?

6 Hal Ini Menjelaskan Keinginan NASA Membangun Reaktor Nuklir di Bulannasa.gov

Kilopower adalah sebuah reaktor fisi nuklir yang dikembangkan oleh NASA bekerja sama dengan National Nuclear Security Administration (NNSA) Departemen Energi Amerika Serikat.

Kilopower bekerja dengan memecah atom di inti reaktor uranium-235 untuk menghasilkan energi sebagai panas yang diubah menjadi listrik oleh mesin Stirling berefisiensi tinggi. Dapat memompa 10 kilowatt daya listrik secara terus menerus selama setidaknya 10 tahun, dua kali lipat jangka pemakaian yang menurut NASA diperlukan untuk menjalankan pos-pos terdepan misi penjelajahan antariksa di Bulan atau Mars.

“Energi yang aman, efisien dan berlimpah akan menjadi kunci bagi eksplorasi oleh manusia dan robot di masa depan,” kata Jim Reuter, seorang mitra NASA untuk Direktorat Misi Teknologi Antariksa (STMD) di Washington. “Saya berharap proyek Kilopower menjadi bagian terpenting dari arsitektur sumber daya lunar dan Mars seiring kemajuan teknologi.”

Teknologi ini berhasil didemonstrasikan antara bulan November 2017 hingga Maret 2018 sebagai bagian dari Kilopower Reactor Using Stirling Technology (KRUSTY) NASA.

2. Bagaimana kilopower diuji?

6 Hal Ini Menjelaskan Keinginan NASA Membangun Reaktor Nuklir di Bulantechradar.com

Jika Anda membawa reaktor nuklir ke luar angkasa pada misi berawak ke Bulan, Mars dan seterusnya, maka keamanannya harus terjamin. Itulah yang dilakukan oleh uji coba terhadap KRUSTY.

“Kami membuang segala komponen yang tidak perlu pada reaktor ini, dalam hal skenario keamanan ketika dibawa terbang lintas, dan KRUSTY dinyatakan lulus uji,” kata David Poston, kepala designer reaktor di Laboratorium Nasional Los Alamos NNSA.

Percobaan termasuk pengurangan daya simulasi, malfungsi mesin dan pipa, dan operasional puncak reaktor selama 28 jam sebagai uji coba daya maksimal yang mensimulasikan misi antariksa. KRUSTY direncanakan untuk pertama kali digunakan pada tahun 2020.

3. Mengapa kita membutuhkan tenaga nuklir di Bulan?

6 Hal Ini Menjelaskan Keinginan NASA Membangun Reaktor Nuklir di Bulantechradar.com

Sebelum Anda mengatakan sesuatu seperti ‘kita tidak boleh mencemari ruang angkasa dengan limbah nuklir’, ketahuilah bahwa hampir setiap misi antariksa yang pernah Anda dengar telah menggunakan generator termoelektrik radioisotop, yang mengandung Plutonium-238 sebagai sumber listrik. Hal yang sama juga berlaku mulai dari misi Apollo dan Voyager hingga New Horizons dan Cassini.

Lagipula, malam hari di Bulan berlangsung sangat panjang. Jika menatap Bulan, Anda akan mendapati bahwa Bulan selalu menunjukkan sisi yang sama. Satu kali orbit penuh mengelilingi Bumi memakan waktu 27 hari, yang juga merupakan waktu satu kali rotasi, atau satu hari Bulan. Hasilnya adalah bahwa lamanya malam hari di tempat-tempat tertentu di Bulan berlangsung selama dua minggu.

“Kilopower memberi kami kemampuan untuk melakukan misi dengan daya yang lebih besar, dan untuk menjelajahi kawah-kawah bulan yang gelap,” kata Marc Gibson, seorang insinyur Kilopower di Pusat Penelitian Glenn di Cleveland.

“Ketika kita mengirim para astronot untuk tinggal lama di Bulan dan ke planet-planet lain, maka akan sangat membutuhkan kelas daya baru yang lebih tangguh daripada sebelumnya.”

Baca Juga: Butuh 12 Minggu Satelit NASA Sampai ke Matahari

4. Tidak bisakah kita menggunakan tenaga surya di Bulan?

6 Hal Ini Menjelaskan Keinginan NASA Membangun Reaktor Nuklir di Bulantechradar.com

Meskipun malam di Bulan dapat berlangsung selama dua minggu, ada sebuah teori dalam skala masif yang dianggap sangat efisien untuk membuat tenaga surya. Perusahaan Jepang Shimizu memiliki konsep untuk membangun sabuk  panel surya masif, berukuran beberapa kilometer yang ditempatkan di sepanjang 11.000 kilometer mengelilingi khatulistiwa Bulan.

Diperkirakan bahwa setengah dari ‘sabuk Matahari’ ini akan selalu menerima sinar Matahari. Dan mengingat bahwa Bulan tidak memiliki atmosfer, sehingga tidak pernah berawan, pembangkit listrik tenaga surya secara teoritis akan lima kali lebih efisien daripada tenaga surya di Bumi.

5. Apakah NASA akan kembali ke Bulan?

6 Hal Ini Menjelaskan Keinginan NASA Membangun Reaktor Nuklir di Bulannasa.gov

Hal ini adalah tentang komitmen, yang tentunya akan terus berubah tergantung kebijakan presiden AS. Administrasi Space Policy Directive 1 Presiden Trump mengusulkan misi robotik terlebih dahulu di permukaan Bulan sebelum pelaksanaan misi berawak, serta Lunar Orbital Platform-Gateway untuk membantu para astronot dalam misi melampaui bulan, baik ke Mars atau ke asteroid. NASA juga telah meminta perusahaan-perusahaan swasta untuk mengembangkan teknologi baru dengan tujuan mengirimkan muatan ke Bulan.

6. Apa yang dimaksud dengan Lunar Orbital Platform-Gateway?

6 Hal Ini Menjelaskan Keinginan NASA Membangun Reaktor Nuklir di Bulantechradar.com

Lunar Orbital Platform-Gateway (LOP-G) akan menjadi stasiun luar angkasa yang mengorbit Bulan. NASA melihatnya sebagai ‘titik loncatan’ untuk misi berawak ke Bulan dan Mars, meskipun beberapa orang menganggapnya sebagai pemborosan.

“LOP-G pada dasarnya adalah panggilan untuk membangun stasiun luar angkasa orbital lain, sebuah keterampilan yang telah saya bersama rekan-rekan lainnya tunjukkan di Stasiun Luar Angkasa Internasional,” kata Terry Virts, seorang mantan astronot NASA dan pilot pesawat ulang-alik.

“Gateway hanya akan memperlambat kita, menghabiskan waktu dan memboroskan dolar yang berharga dari tujuan kembali ke permukaan Bulan dan akhirnya terbang ke Mars.”

LOP-G ditargetkan untuk diluncurkan pada tahun 2022, dengan modul habitasi ditambahkan pada tahun 2023. Roket Space Launch System dan pesawat antariksa Orion NASA harus siap pada saat itu.

Baca Juga: Ratusan Planet Baru ditemukan NASA, Ternyata Ada yang Mirip Bumi

Ruang Angkasa Luas Photo Verified Writer Ruang Angkasa Luas

Informasi astronomi untuk menambah pengetahuan kita tentang Alam Semesta dan upaya eksplorasi ruang angkasa luas sebagai rumah kedua manusia di masa depan.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya