Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Sains di Balik Pekik 'Merdeka', Kenapa Bisa Memicu Semangat Pejuang?
Sang Saka Merah Putih berkibar (vecteezy.com/I Dewa Gede Agung Pranasiwi)
  • Karakter roughness pada teriakan membuat suara cepat menarik perhatian otak dan memicu respons kuat di area pemrosesan emosi, seperti amigdala.

  • Suara yang ditafsirkan mendesak dapat mengaktifkan sistem saraf simpatik, meningkatkan kesiagaan melalui perubahan detak jantung, pernapasan, dan peran adrenalin; responsnya bergantung konteks.

  • Pekik “Merdeka!” bersama menggabungkan emosi, makna perjuangan, dan aktivitas serempak, sehingga memperkuat rasa kebersamaan, identitas kelompok, serta intensitas suasana.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Setiap upacara kemerdekaan yang dilaksanakan tanggal 17 Agustus, ada satu momen yang hampir selalu berhasil membuat suasana upacara terasa lebih hidup, yaitu ketika pemimpin upacara meneriakkan “Merdeka!” dan disambut pekik serupa dari para peserta. Teriakan 'Merdeka!" seolah membawa energi tersendiri, membuat suasana yang sebelumnya khidmat berubah menjadi lebih bersemangat.

Menariknya, respons tersebut bukan hanya perihal rasa nasionalisme. Dari sisi sains, suara teriakan memang memiliki karakteristik tertentu yang membuatnya lebih cepat menarik perhatian otak dan meningkatkan kewaspadaan. Lantas, apa yang sebenarnya terjadi pada otak dan tubuh ketika mendengar atau meneriakkan pekik “Merdeka”? Mengapa sebuah teriakan bisa membuat suasana terasa lebih intens dan membangkitkan semangat?

1. Teriakan punya karakteristik suara yang mudah ditangkap otak

Teriakan manusia berbeda dari percakapan biasa. Salah satu karakteristik yang membuatnya menonjol adalah roughness, yakni perubahan intensitas suara yang sangat cepat sehingga menghasilkan kesan kasar, tajam, atau berisik. Penelitian yang melibatkan tim dari New York University menemukan bahwa suara dengan tingkat roughness tertentu dapat memicu respons yang lebih kuat pada area otak yang berkaitan dengan pemrosesan emosi, termasuk amigdala. Karakteristik tersebut juga membuat teriakan terasa lebih mendesak sehingga sulit diabaikan.  (Current Biology, 2015)

Menariknya, mekanisme serupa membantu menjelaskan mengapa suara seperti alarm atau sirene bisa langsung membuat kita menoleh dan meningkatkan kewaspadaan. Otak manusia memang dirancang untuk cepat menangkap suara yang dianggap penting atau mengindikasikan adanya situasi mendesak.

2. Saat tubuh masuk mode siaga, adrenalin bisa ikut berperan

Respons terhadap suara yang mengancam tidak berhenti di otak. Ketika seseorang menghadapi situasi yang dianggap penuh tekanan atau berbahaya, sistem saraf simpatik dapat mengaktifkan respons fight-or-flight.

Pada kondisi tersebut, tubuh bersiap menghadapi situasi dengan meningkatkan berbagai fungsi yang dibutuhkan untuk bertindak cepat. Detak jantung dan pernapasan dapat meningkat, aliran darah diarahkan lebih banyak ke otot, sementara hormon seperti epinefrin atau adrenalin berperan dalam menyediakan energi dan meningkatkan kesiagaan.

Namun, penting untuk dicatat bahwa tidak setiap teriakan otomatis menyebabkan lonjakan adrenalin. Respons tubuh sangat bergantung pada konteks, emosi, serta bagaimana otak menafsirkan suara tersebut. 

3. Teriakan tidak selalu berarti takut

ilustrasi berteriak (pexels.com/andreapiacquadio)

Selama ini, kita mungkin lebih sering menghubungkan teriakan dengan rasa takut atau kesakitan. Padahal, manusia berteriak untuk menyampaikan berbagai emosi yang intens. Teriakan manusia dapat berkaitan dengan berbagai keadaan emosional, termasuk rasa sakit, kemarahan, ketakutan, kesedihan, kegembiraan, dan gairah. Bahkan, otak dapat merespons teriakan yang menunjukkan emosi positif dengan cara yang berbeda dari teriakan yang menandakan bahaya

Artinya, suara teriakan tidak hanya berfungsi sebagai alarm. Teriakan juga menjadi cara manusia menyampaikan bahwa sedang terjadi sesuatu yang emosional dan penting.

Dalam konteks pekik “Merdeka!”, misalnya, suara tersebut dapat membawa berbagai emosi sekaligus. Ada suka cita, keberanian, kemarahan, semangat, hingga rasa lega. Makna sebuah teriakan akhirnya tidak hanya ditentukan oleh bunyinya, tetapi juga oleh situasi dan pesan yang ingin disampaikan.

4. Kenapa teriakan bersama bisa lebih menggugah semangat

Ada satu hal lain yang membuat pekik “Merdeka!” terasa lebih kuat: teriakan tersebut tidak dilakukan sendirian. Coba bayangkan seseorang meneriakkan sebuah kata sendirian di ruangan kosong. Efek emosionalnya tentu berbeda ketika ribuan orang meneriakkan kata yang sama secara bersamaan. Suara yang muncul secara kolektif dapat menciptakan pengalaman emosional yang jauh lebih kuat.

Dalam psikologi sosial, aktivitas yang dilakukan secara serempak dapat membantu membangun rasa kebersamaan dan identitas kelompok. Saat orang menyanyi, bertepuk tangan, bersorak, atau berteriak bersama, perhatian mereka tertuju pada aktivitas dan tujuan yang sama.

Hal ini membantu menjelaskan mengapa teriakan penyemangat juga sering ditemukan dalam olahraga, pertunjukan, hingga berbagai kegiatan kelompok. Bukan berarti suara tersebut secara otomatis menularkan adrenalin, tetapi pengalaman emosional bersama dapat meningkatkan rasa keterhubungan dan intensitas suasana.

5. Pekik “Merdeka” bukan sekadar suara keras

Jika dilihat dari sisi sains, kekuatan pekik “Merdeka!” tidak semata-mata terletak pada seberapa keras suara itu terdengar. Ada kombinasi antara karakteristik suara, respons tubuh, emosi, serta makna sosial yang membuatnya terasa begitu kuat.

Dalam konteks perjuangan, kata “Merdeka” membawa pesan yang jauh lebih besar daripada sekadar sebuah seruan. Ketika diteriakkan bersama, kata tersebut menjadi simbol tujuan yang sama dan identitas kelompok. Suasana yang intens kemudian dapat membuat pekik tersebut terasa semakin membangkitkan keberanian dan semangat.

Jadi, ketika mendengar atau meneriakkan “Merdeka!”, ada lebih dari sekadar suara yang bekerja. Otak memproses karakteristik bunyinya, tubuh dapat merespons situasi emosional dengan meningkatkan kesiagaan, sementara pikiran memberikan makna pada kata yang diteriakkan.

Mungkin itulah salah satu alasan mengapa sebuah pekik sederhana bisa memiliki energi yang begitu besar. Bukan hanya karena suaranya menggema, tetapi karena ada emosi dan makna bersama yang ikut menggema di baliknya. Jadi, saat pekik “Merdeka!” kembali terdengar dalam upacara kemerdekaan setiap 17 Agustus, kita sedang merasakan bagaimana suara, emosi, dan kebersamaan dapat menciptakan energi yang menguatkan satu sama lain.

Referensi

Arnal, L. H., Flinker, A., Kleinschmidt, A., Giraud, A.-L., & Poeppel, D. (2015). Human screams occupy a privileged niche in the communication soundscape. Current Biology, 25(15), 2051–2056.
EurekAlert. Diakses pada Agustus 2026. The Emerging Science of Human Screams
Harvard Health Publishing. Diakses pada Agustus 2026. Understanding the Stress Response
National Geographic. Diakses pada Agustus 2026. The Psychology of Screaming
The Guardian. Diakses pada Agustus 2026. Science of Screaming: Acoustics That Trigger Our Fear Centre Identified

Curated For You

Editorial Team

Related Article