Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Dari Gamer Jadi Penggerak Esports, Kisah Jatuh-Bangun Tokovalorant
Ability Harmonize untuk Combat Steam milik Miks. (dok. Riot Games/VALORANT)
  • Aldo Handrian memulai Tokovalorant saat masih SMA setelah mengalami kerugian besar di saham dan kripto, menjual perlengkapan gaming pribadinya untuk modal awal bisnis.
  • Tokovalorant berkembang dari jual beli akun di komunitas Facebook menjadi platform resmi yang menyediakan berbagai layanan bagi pemain Valorant di Indonesia.
  • Melalui CV. Game Digital Indonesia, Aldo memperluas ekosistem esports dengan membangun beberapa entitas digital baru dan berkomitmen menghadirkan inovasi berkelanjutan bagi industri game nasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Dunia esports Indonesia terus berkembang. Tidak hanya melahirkan pemain profesional, tetapi juga membuka peluang bagi orang-orang yang membangun ekosistem di belakangnya.

Salah satunya adalah Aldo Handrian, sosok muda di balik Tokovalorant, platform penyedia kebutuhan game Valorant yang kini memiliki banyak pengguna di Indonesia.

Perjalanan Aldo membangun Tokovalorant tidak dimulai dengan mudah. Ia merintis bisnis tersebut saat masih duduk di bangku SMA, tepat ketika pandemi membuat banyak hal berubah.

Sebelum terjun ke dunia bisnis game, Aldo sempat mencoba investasi saham dan aset kripto. Namun, keputusan tersebut justru membuatnya mengalami kerugian besar karena minimnya pengalaman dan pengetahuan finansial.

1. Sempat rugi sebelum bangkit

Dok Istimewa

Ia kehilangan modal yang dimiliki, termasuk dana yang berasal dari orang tuanya. Kondisi tersebut menjadi titik balik bagi Aldo untuk mencari jalan baru.

"Kegagalan di saham dan kripto saat itu menjadi titik balik saya. Rasa bersalah kepada orang tua memaksa saya untuk memutar otak dan mencari jalan keluar. Akhirnya, saya putuskan untuk melikuidasi atau menjual barang-barang pribadi saya seperti kursi gaming, keyboard, hingga headset sebagai modal awal merintis usaha," ujar Aldo menjelaskan awal mula perjalanannya.

Dari hasil menjual perlengkapan gaming, Aldo mulai membangun bisnis kecil dengan menjual akun game melalui komunitas Facebook.

2. Dari game menuju ekosistem Esports

Ability Waveform untuk smoke milik Miks. (dok. Riot Games/VALORANT)

Kesuksesan Tokovalorant membuat Aldo mulai mengembangkan bisnis digital lain melalui CV. Game Digital Indonesia.

Beberapa entitas yang dikembangkan antara lain Pointgo, Pointgamers, Nexura, Hidden Game, dan agensi publikasi Vixral.

Namun, bagi Aldo, perjalanan di industri game belum selesai.

Perkembangan esports yang cepat membuat pelaku industri harus terus beradaptasi dan menghadirkan inovasi baru.

"Dalam menjalankan roda bisnis ini, antusiasme, ketekunan, dan kemauan keras untuk terus belajar adalah kunci utama untuk mempertahankan relevansi. Visi jangka panjang kami adalah terus menghadirkan inovasi mutakhir, sekaligus memastikan Tokovalorant dan ekosistem bisnis kami mampu memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi industri game nasional," tutup Aldo.

Dari seorang pelajar yang mencoba bangkit di masa sulit, Aldo kini menjadi salah satu anak muda yang melihat esports bukan hanya sebagai permainan, tetapi juga sebagai industri yang memiliki masa depan besar.

Editorial Team

Related Article