Comscore Tracker

5 Momen Empowering Atlet Perempuan di Olimpiade Tokyo 2020

Sumber inspirasi banget #IDNTimesSport #Tokyo2020

Berbicara soal Olimpiade, banyak yang gagal fokus membicarakan penampilan atlet ketimbang prestasinya. Bahkan, banyak atlet, utamanya perempuan, yang dilirik hanya karena parasnya yang menawan. Padahal mereka wajib dianggap serius sebagai atlet yang kompetitif, lho! 

Kabar baiknya, beberapa momen progresif berikut berhasil mengubah stigma yang melekat pada para atlet perempuan. Apa saja momen empowering tersebut? Yuk, kita simak bersama ulasannya! 

1. Tim handball pantai Norwegia rela didenda karena mengganti kostum mereka dengan pakaian yang lebih nyaman dan sopan

5 Momen Empowering Atlet Perempuan di Olimpiade Tokyo 2020potret skuad handball pantai Norwegia (instagram.com/norwaybeachhandballwomen)

Beberapa waktu lalu, muncul berita mengejutkan dari tim cabang olahraga handball pantai Norwegia yang didenda karena mengenakan pakaian yang tak sesuai ketentuan. Selama ini tim handball perempuan diwajibkan mengenakan bawahan berupa celana bikini.

Norwegia sempat mengajukan komplain tentang ketentuan tersebut karena merasa tak nyaman dengan peraturan yang diterapkan. Akan tetapi protes tersebut diabaikan oleh panitia penyelenggara.

Saat pertandingan, mereka nekat mengenakan celana olahraga yang lebih panjang dan lebiih nyaman menurut mereka. Alhasil, mereka dikenakan denda sebesar Rp25 juta.

Aksi mereka ini akhirnya malah mendapatkan dukungan dari banyak kalangan. Bahkan penyanyi P!NK sempat menawarkan diri untuk membayarkan denda tersebut. 

2. Tim pesenam Jerman juga memilih mengenakan full body unitard demi kenyamanan

5 Momen Empowering Atlet Perempuan di Olimpiade Tokyo 2020potret tim senam Jerman (instagram.com/_kim.bui_)

Hal serupa juga dilakukan oleh tim cabang olahraga senam perempuan Jerman. Mereka tampil di Olimpiade Tokyo 2020 dengan kostum yang berbeda dari tim-tim lain. Selama ini pesenam mengenakan leotard sepanjang atas paha. Namun, tim Jerman memilih versi full body unitard sepanjang mata kaki. 

Pesan mereka sama, yaitu memberikan kebebasan bagi perempuan untuk mengutamakan kenyamanan. Untuk keputusan ini, beruntung tim senam perempuan Jerman tidak mendapatkan backlash dari penyelenggara. Mereka justru dipuji karena berani melakukan revolusi kostum. 

Baca Juga: Cerita Seru Relawan Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020

3. Atlet angkat besi Hidilyn Diaz menjadi peraih medali emas pertama untuk Filipina di sepanjang keikusertaannya di Olimpiade 

5 Momen Empowering Atlet Perempuan di Olimpiade Tokyo 2020potret Hidilyn Diaz (instagram.com/hidilyndiaz)

Sepanjang keikutsertaan di Olimpiade sejak tahun 1924, Filipina belum pernah sekalipun meraih medali emas. Paceklik itu akhirnya dipatahkan oleh atlet angkat besi perempuan asal Filipina, Hidilyn Diaz. Saat tahu ia memecahkan rekor, Hidilyn langsung menitikkan air mata haru. 

4. Pesenam Amerika Serikat, Simone Biles memilih mundur di tengah pertandingan karena alasan kesehatan mental

5 Momen Empowering Atlet Perempuan di Olimpiade Tokyo 2020potret Simone Biles (instagram.com/simonebiles)

Simone Biles menjadi buah bibir setelah memilih untuk walk-out dari arena. Ia kembali ke arena, tetapi dipastikan tidak akan melanjutkan kompetisi. Simone kemudian menjelaskan bahwa di malam itu, ia merasa tidak dalam keadaan baik-baik saja. Ia memilih mengutamakan kesehatan mentalnya dan ternyata didukung penuh oleh rekan setim dan khalayak umum.

Ia bahkan dapat dukungan dari sejumlah public figure Amerika Serikat macam Michael Phelps hingga Michelle Obama. Michael Phelps menyatakan ia sangat mengerti tekanan yang dirasakan Simone sebagai atlet unggulan. 

5. Yusra Mardini, perwakilan Refugee Olympic Team mencuri perhatian lewat kisahnya saat harus kabur dari Suriah yang dilanda perang 

5 Momen Empowering Atlet Perempuan di Olimpiade Tokyo 2020Yusra Mardini (instagram.com/yusramardini)

Momen empowering lainnya di Olimpiade Tokyo 2020 adalah keikutsertaan Refugee Olympic Team. Mereka pertama kali ikut serta empat tahun lalu dan kembali di tahun ini. Salah satu atlet langganan tim tersebut adalah perempuan asal Suriah, Yusra Mardini.

Untuk bisa mendapat penghidupan dan akses yang lebih baik, Yusra dan kakaknya harus kabur dari Suriah dengan sebuah kapal sekoci yang kelebihan muatan. Guna menyelamatkan kapal dan penumpangnya, Yusra, kakak Yusra, dan beberapa orang lainnya berkorban dan harus berenang di sekitar sekoci selama berjam-jam sampai kapal tersebut stabil. Kini ia menjadi salah satu perenang unggulan di Olimpiade. Yusra jadi pengingat kalau usaha dan kerja keras memang tidak akan pernah mengkhianati hasil. 

Masih banyak lagi kisah yang menggugah dari ajang Olimpiade Tokyo 2020 ini. Selain menjadi kompetisi olahraga paling bergengsi, semoga ajang ini bisa terus menjadi corong persahabatan antar bangsa di dunia, ya!

Baca Juga: Lalu Zohri Jajal Starting Block Olimpiade Tokyo

Dwi Ayu Silawati Photo Verified Writer Dwi Ayu Silawati

Pembaca, netizen, penulis

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Kidung Swara Mardika

Berita Terkini Lainnya