Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Faktor Kekalahan Minnesota Timberwolves di NBA Playoff 2026

Faktor Kekalahan Minnesota Timberwolves di NBA Playoff 2026
ilustrasi basket NBA (unsplash.com/appshunter.io)
Share Article

Minnesota Timberwolves lagi-lagi harus gigit jari setelah impian mereka untuk merengkuh gelar juara musim ini resmi kandas. Mereka tidak kuasa melanjutkan perjalanan di ajang NBA Playoff 2026 meskipun telah menunjukkan perjuangan yang tak kenal lelah sepanjang musim.

Timberwolves kalah dari San Antonio Spurs dalam enam pertandingan seri playoff yang berjalan dengan sangat sengit dan menegangkan. Hasil pahit ini memaksa skuad Minnesota untuk mengemasi barang lebih awal dan harus kembali melakukan evaluasi besar-besaran untuk menatap musim depan.

1. Minnesota Timberwolves gugur di hadapan pendukung sendiri

Minnesota Timberwolves punya kesempatan memperpanjang nyawa pada putaran kedua alias Semifinal Wilayah Barat NBA Playoff 2026 melawan San Antonio Spurs. Mereka sempat tertinggal 1-3, tetapi masih mungkin membalikkan keadaan saat itu. Sayangnya, Timberwolves gagal memaksimalkan kesempatan.

Tim asal Minneapolis, Minnesota, Amerika Serikat tersebut bahkan harus gugur di hadapan pendukung sendiri. Bermain di Target Center pada 16 Mei 2026 waktu setempat, Timberwolves kalah telak 109-139 pada pertandingan keenam. Mereka pun keluar dari kompetisi dengan kedudukan 1-4 dari Spurs yang akhirnya menantang Oklahoma City Thunder pada Final Wilayah Barat.

2. Lumpuh total soal rebounding

Rebound kerap menjadi penentu. Bahkan, ada ungkapan yang hidup lama di dunia basket tentang itu. Siapa yang menguasai rebound akan menguasai pertandingan. San Antonio Spurs membuktikannya pada putaran kedua NBA Playoff 2026 melawan Minnesota Timberwolves.

Timberwolves lumpuh total soal rebounding di pertandingan terakhir yang menentukan. Spurs saat itu benar-benar mengungguli mereka dalam perebutan bola pantul dengan perbandingan 60-29. Barisan frontcourt Timberwolves tidak memberikan perlawanan fisik, yang memungkinkan Spurs untuk membatasi mereka hanya pada satu serangan. Sebaliknya, Spurs sendiri bisa menciptakan second chance dari serangan mereka yang gagal dengan mudah.

Meski begitu, Timberwolves bukan tidak mampu merebut bola pantul. Di pertandingan pertama, mereka sempat unggul soal rebound. Namun, kondisi berubah mulai di pertandingan kedua. Viktor Wembanyama, andalan Spurs, makin menyulitkan mereka untuk meraih kesempatan kedua.

Di pertandingan keempat, Timberwolves sekali bangkit. Mereka bertarung secara intens untuk mendapatkan rebound. Rudy Gobert gemilang dengan meraih 13 rebound. Dia memenangkan perebutan bola pantul dan membawa Timberwolves menang 114-109 untuk menyamakan kedudukan menjadi 2-2.

Hanya saja, Wembanyama dkk terlalu kuat di area cat. Mereka tidak membiarkan Timberwolves melawan seperti di pertandingan keempat dan kedua. Dengan menguasai rebound, Spurs unggul di sisa seri.

3. Dominasi Viktor Wembanyama, terutama di area cat

Victor Wembanyama dengan tinggi 2,24 meter benar-benar menjadi jangkar pertahanan San Antonio Spurs sepanjang seri. Dia mengubah offensive psychology Minnesota Timberwolves dengan signifikan. Intimidasinya di area cat menyebabkan mereka berulang kali membuat keputusan buruk. Timberwolves terpaksa melakukan penetrasi ke dalam dan mencoba melepaskan tembakan dengan persentase rendah melewati Wembanyama.

Wembanyama juga mampu menghentikan seniornya di Timnas Prancis, Rudy Gobert. Pemain bertahan terbaik Timberwolves itu dibungkam di expertise of area-nya. Bahkan, dia harus menyelesaikan pertandingan keenam tanpa mencetak poin sama sekali dengan hanya tiga rebound.

4. Eksekusi permainan yang buruk

Anthony Edwards, bintang utama Minnesota Timberwolves, menyebut tim kembali kepada kebiasaan individualistis yang buruk. Mereka tidak berpegang teguh pada gameplan yang sudah dirancang pelatih. Edwards sendiri harus menghadapi penjagaan ganda sehingga tidak selalu bisa mengeksekusi permainan dengan baik.

Saat dia mencoba menemukan rekan setim yang terbuka, Timberwolves malah tidak mampu mencetak poin. Edwards, misalnya, mencetak 9 dari 26 tembakan di pertandingan terakhir, sementara rekan setimnya, Julius Randle, menghilang seutuhnya. Dia hanya mencetak 3 poin dengan 1 dari 8 tembakan. Rudy Gobert, seperti disinggung sebelumnya, malah tidak mencetak poin sama sekali.

Di sisi lain, San Antonio Spurs mampu melancarkan permainan yang padu. Di pertandingan keenam, saat menang begitu telak, mereka mencetak 55,7 persen field goal dan mengukir rekor tim dengan 18 tripoin di playoff. Eksekusi pertahanan Timberwolves yang lambat membuat Spurs dengan mudah memanipulasi pertahanan lewat pick-and-roll untuk menemukan peluang menembak yang terbuka lebar.

5. Minnesota Timberwolves dirasa perlu berbenah

Setelah tersingkir dari playoff, tujuan utama Minnesota Timberwolves pada jeda musim mungkin meningkatkan line-up di sekitar Anthony Edwards secara agresif daripada terus mengandalkan formula yang sama. President of Basketball Operations Tim Connelly, seperti dilaporkan Yahoo! Sports, secara eksplisit menyatakan, manajemen berencana untuk melakukan itu agar terhindar dari nasib yang sama, yang membuat mereka berkali-kali tersingkir di playoff sebelum waktunya.

Manajemen akan menghadapi beberapa tantangan dan mesti jeli menimbang keputusan penting demi masa depan yang hendak diraih. Misalnya, dalam menentukan nasib Julius Randle. Masa depannya tengah menjadi tanda tanya terbesar Timberwolves, terutama setelah mengakhiri seri melawan San Antonio Spurs dengan sangat buruk.

Randle mencatatkan rating minus 93. Gaya bermainnya memperlambat tempo dan menghalangi area di bawah ring untuk Anthony Edwards. Spekulasi kepergiannya meningkat karena Timberwolves mencoba untuk menukarnya pada musim panas untuk menemukan pemain yang lebih klinis dan lebih eksplosif.

Timberwolves juga memasuki musim panas dengan masalah di posisi guard. Donte DiVincenzo mengalami cedera Achilles di playoff. Dia akan absen tanpa batas waktu musim depan, sehingga tim mesti mencari penggantinya. Prioritas utama manajemen untuk menyelesaikan itu adalah dengan merekrut backcourt yang mampu menembak dari luar garis tripoin.

Masalahnya, Minnesota Timberwolves tidak punya ruang yang cukup leluasa untuk mengeksplorasi pasar. Mereka mesti menyelesaikan urusan Randle terlebih dahulu agar punya salary cap dan luxury tax yang oke dalam merekrut pemain. Mungkinkah mereka melakukannya pada jeda musim nanti?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Atqo Sy
EditorAtqo Sy

Related Articles

See More

Bandung Tuntas, Campus League Basket 2026 Jakarta Siap Bergulir

23 Mei 2026, 20:27 WIBSport