Comscore Tracker

Segudang Prestasi Atlet Putri Indonesia di Olimpiade

Indonesia sering meraih prestasi lewat atlet putri

Jakarta, IDN Times - Olimpiade London 2012 merupakan pelaksanaan ajang multi-event olahraga terakbar perdana, yang seluruh cabangnya menggelar nomor pertandingan untuk putra dan putri.  Hal itu menunjukkan perkembangan positif terkait kesempatan yang diberikan kepada atlet putri untuk ikut bertanding.

Saat digelar pertama kali pada 1896 di Athena, Yunani, hajatan multievent olahraga terbesar dunia ini hanya diikuti atlet putra saja. Partisipasi pertama atlet putri baru dimulai pada Olimpiade edisi kedua di Paris, Prancis. Saat itu ada 22 atlet putri ikut, dari 997 atlet yang berpartisipasi di Olimpiade 1900.

Saat itu hanya dua cabang olahraga yang mempertandingkan kategori putri, yakni tenis dan golf. Kala itu tenis mempertandingkan nomor tunggal putri dan ganda campuran. Sementara golf mempertandingkan nomor perorangan.

Baca Juga: 2 Grup Neraka di Cabor Sepak Bola Panaskan Olimpiade Tokyo

1. Baru 2012 seluruh cabang olahraga Olimpiade menggelar pertandingan kategori putri

Segudang Prestasi Atlet Putri Indonesia di Olimpiadetwitter.com/sriwahy39512247/

Momentum itu jadi awal yang baik untuk atlet putri agar punya medium berprestasi di bidang olahraga. Sebab, hingga 2012, berbagai cabang terus menambahkan nomor pertandingan untuk putri, antara lain panahan, renang, anggar, atletik, dayung, bulu tangkis, judo, angkat besi, gulat, dan tinju.  Penambahan ini tak lain karena para atlet putri semakin kompetitif di level dunia dan jumlahnya terus bertambah. 

Seperti dilansir situs resmi IOC (Komite Olimpiade Internasional), penambahan jumlah atlet putri di seluruh dunia sangat signifikan.  Terdapat puluhan atlet putri yang tampil di Olimpiade 1900 hingga 1920. Jumlah atlet putri yang turut serta di Olimpiade mencapai ratusan di 1924 sampai 1968. 

Untuk pertama kalinya peserta atlet putri dalam Olimpiade mencapai angka 1.000, yakni pada edisi 1972 di Munich, dengan total 1.059 atlet putri yang berpartisipasi. Jumlah itu terus bertambah dan Olimpiade Rio 2016 diikuti lebih dari 5.000 atlet putri. 

2. Jumlah partisipasi atlet putri di terus meningkat setiap gelaran

Segudang Prestasi Atlet Putri Indonesia di Olimpiadeeurosport.com

Diperlukan satu abad dan 12 tahun bagi seluruh cabang menggelar nomor pertandingan kategori putri di Olimpiade. Bukan waktu yang sedikit bagi atlet-atlet putri membuktikan diri mampu diperhitungkan di kancah olahraga.

"Pertumbuhan jumlah atlet putri selama berpartisipasi di Olimpiade merupakan hal yang baik. Namun, langkah selanjutnya menjadikan wanita sebagai sosok yang memimpin dan mengambil kebijakan untuk menerapkan gerakan-gerakan di Olimpiade," kata Presiden IOC, Thomas Bach, dilansir situs resmi IOC. 

Berikut ini adalah jumlah atlet putri yang tampil dalam setiap pergelaran Olimpiade.

Paris 1900 - 22 orang
St Louis 1904 - 6 orang
London 1908 - 37 orang
Stockholm 1912 - 48 orang
Antwerp 1920 - 63 orang
Paris 1924 - 135 orang
Amsterdam 1928 - 277 orang
Los Angeles 1932 - 126 orang
Berlin 1936 - 331 orang
London 1948 - 390 orang
Helsinki 1952 - 519 orang
Melbourne 1956 - 375 orang
Roma 1960 - 611 orang
Tokyo 1964 - 678 orang
Meksiko City 1968 - 781 orang
Muenchen 1972 - 1.059 orang
Montreal 1976 - 1.260 orang
Moskow 1980 - 1.115 orang
Los Angeles 1984 - 1.566 orang
Seoul 1988 - 2.194 orang
Barcelona 1992 - 2.704 orang
Atlanta 1996 - 3.512 orang
Sydney 2000 - 4.069 orang
Athena 2004 - 4.329 orang
Beijing 2008 - 4.637 orang
London 2012 - 4.676 orang
Rio 2016 - 5.057 orang

3. Rebut medali perdana di panahan putri

Segudang Prestasi Atlet Putri Indonesia di Olimpiadeloop.co.id

Menilik lingkup yang lebih kecil, pembinaan olahraga tanah air selalu berpegang teguh pada Olympic Charter dan Los Angeles Declaration, yang mengharuskan pengembangan olahraga untuk atlet putri. 

Bahkan, dulu ada Program Indonesia Emas (Prima) yang khusus membina para atlet elite, baik putra dan putri tanpa pengecualian. Dalam Pelatnas pun demikian, sejak dulu selalu menerapkan program pembinaan merata bagi semua atlet.

Hal ini ternyata membuahkan hasil. Indonesia bisa merengkuh medali perdana Olimpiade berasal dari atlet putri. Trio pemanah putri, Lilies Handayani, Nurfitriyana Saiman, dan Kusumawardhani, menyumbangkan medali pertama buat Indonesia dengan membawa pulang perak di Olimpiade Seoul 1988 melalui nomor beregu putri. 

Pencapaian ini adalah kelanjutan dari catatan Indonesia di Olimpiade 35 tahun sebelumnya. Ya, kontingen Indonesia sudah mengirimkan atlet putrinya dalam Olimpiade sejak edisi 1952 di Helsinki. Perenang putri Indonesia, Martha Gultom dan Ria Tobing, menjadi dua atlet putri yang pertama kali tampil buat Indonesia di Olimpiade. Duo ini juga turun di Melbourne 1956. 

Selanjutnya, cabang olahraga anggar juga pernah mendelegasikan atlet putri pada Olimpiade 1960. Mereka adalah Sioe Gouw Pau dan Zuus Undapp yang tampil di nomor floret putri. 

4. Emas pertama diraih dari bulu tangkis tunggal putri

Segudang Prestasi Atlet Putri Indonesia di OlimpiadeGrafis Susy Susanti (IDN Times/Arief Rahmat)

Setelah era Trio Srikandi, Susy Susanti melanjutkan prestasi luar biasa atlet putri Indonesia di Olimpiade. Ya, Susy meraih emas Olimpiade perdana bagi Indonesia di Barcelona 1992 dari cabang olahraga bulu tangkis. 

Pencapaian Susy di nomor tunggal putri ini menjadi satu-satunya bagi Tim Merah-Putih di nomor tersebut. Soalnya, belum ada lagi pemain tunggal putri nasional yang bisa menyamai prestasi Susy hingga saat ini.

Catatan manis lain di bulu tangkis baru bisa diraih Minarti Timur (perak ganda campuran), hingga Liliyana Natsir yang mampu merebut emas saat berduet dengan Tontowi Ahmad di nomor ganda campuran di Olimpiade Rio 2016. Mia Audina (perak tunggal putri) sebetulnya juga bisa meraih perak di Olimpiade 2004, sayang saat itu dia sudah mengubah paspornya jadi Warga Negara Belanda.

5. Angkat besi putri gudang prestasi

Segudang Prestasi Atlet Putri Indonesia di Olimpiadeolympic.org

Raihan manis atlet putri untuk Indonesia juga diraih di cabang angkat besi. Saat pertama kali kategori putri digelar pada Olimpiade Sydney 2000, Indonesia langsung terjun di ajang tersebut dengan mengirimkan Lisa Rumbewas.

Hasilnya, dia mampu membawa pulang perak di kelas 48 kilogram putri. Perak
Lisa menjadi medali pertama Indonesia di angkat besi, yang sekaligus merupakan awal prestasi angkat besi putri di level internasional. 

Catatan yang sama berhasil dia ulangi saat tampil empat tahun kemudian di Yunani. Bedanya, perak yang dibawa pulang didapat saat menang di nomor 53 kilogram putri.

Angkat besi selalu jadi andalan bagi Indonesia meraih pundi-pundi medali di Olimpiade. Punya modal bagus dengan meraih perak di Asian Games 2014, lifter putri Sri Wahyuni sukses juga menggondol perak di Olimpiade Rio 2016. 

Sederet prestasi yang diraih itu sudah jadi bukti bahwa Indonesia tak membedakan peran atlet putra dan putri dalam mengejar prestasi demi mengharumkan nama bangsa.

Baca Juga: Keppres Pencalonan Indonesia Jadi Tuan Rumah Olimpiade Sudah Terbit

Topic:

  • Satria Permana

Berita Terkini Lainnya