Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Kasus Kekerasan Seksual yang Catut Atlet Elite Sulit Terbukti?

Kenapa Kasus Kekerasan Seksual yang Catut Atlet Elite Sulit Terbukti?
ilustrasi stadion sepak bola (IDN Times/Mardya Shakti)
Intinya Sih
  • Kasus kekerasan seksual yang melibatkan atlet elite sering sulit dibuktikan karena minim bukti fisik, testimoni korban yang dianggap tidak konsisten, dan beban pembuktian berat di pihak penuntut.

  • Budaya victim blaming serta mitos soal consent membuat korban kerap disalahkan, sementara pelaku sering bebas karena argumen hubungan konsensual dan bias sosial terhadap perilaku seksual perempuan.

  • Ketimpangan relasi kuasa antara atlet terkenal dan korban biasa memperkuat privilese pelaku, didukung institusi olahraga, sumber daya besar, serta sikap permisif publik terhadap figur idola mereka.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Keputusan Villareal CF tetap menekan kontrak 1 tahun dengan Thomas Partey per Agustus 2025 jadi kontroversi. Ini mengingat Villareal dan publik tahu betul bahwa ia masih menjalani proses persidangan atas tuduhan pemerkosaan dan kekerasan seksual atas empat perempuan. Thomas Partey hanya satu dari sekian banyak atlet elite yang tersandung kasus pemerkosaan dan pelecehan seksual. Beberapa tahun sebelumnya, Mason Greenwood, Dani Alves, Conor McGregor, dan Benjamin Mendy pernah terseret kasus serupa.

Greenwood dan Mendy berhasil membersihkan nama mereka dari tuduhan. Dani Alves terbukti bersalah, tetapi berhasil memenangkan proses peninjauan ulang yang membuat vonisnya dianulir. Conor McGregor juga terbukti bersalah, tetapi tak dikenai sanksi kurungan—hanya perlu membayar ganti rugi kepada korban. Pada 2018, lima atlet yang tergabung dalam timnas junior hoki es Kanada dituduh melakukan kekerasan seksual terhadap seorang perempuan. Namun, setelah proses peradilan terbuka yang mencuri perhatian publik itu, mereka dinyatakan tak bersalah.

Fenomena tadi cukup jelas memperlihatkan pola terentu dalam kasus kekerasan seksual yang mencatut atlet elite, yakni kerap tak terbukti. Benarkah mereka hanya korban tuduhan asal atau ada faktor lain yang terlewat dari perhatian kita?

1. Kekerasan seksual adalah kejahatan yang sulit dibuktikan

Terlepas dari nyata atau tidaknya sebuah kasus kekerasan seksual, ia adalah jenis kejahatan yang paling sulit dibuktikan di persidangan. Terjadi di ruang privat dengan perbedaan persepsi soal persetujuan (consent), tuduhan kekerasan seksual umumnya hanya bertumpu kepada testimoni korban. Testimoni yang mengandalkan memori korban kekerasan seksual cukup rapuh, karena otak punya mekanisme tertentu saat menangani kejadian traumatis. Alhasil, testimoni korban bisa saja berubah-ubah atau dianggap tidak konsisten.

Belum lagi, korban sering kali menunda melakukan visum dan melaporkan kejadian kepada pihak berwajib karena malu. Akibatnya, tak ada bukti fisik yang bisa memberatkan tertuduh. Penundaan ini pula yang kerap membuat laporan mereka kerap dianggap angin lalu atau bahkan lebih jahatnya dianggap sebagai upaya mencari perhatian. Ditambah dalam hukum, penuntutlah yang harus punya cukup bukti untuk memastikan dirinya kredibel. Sementara, tertuduh tidak punya kewajiban melampirkan bukti. Tak pelak, pemerkosaan dan kekerasan seksual jadi kasus yang cukup sering memungkinkan tersangkanya bebas.

2. Budaya victim blaming dan mitos soal pemerkosaan

Jennifer Coate dari Victoria Law Reform Commission dalam wawancaranya dengan The Guardian menyatakan kalau sepanjang kariernya, kebanyakan kasus pemerkosaan yang ditindak serius adalah pemerkosaan yang korban dan pelakunya tak saling kenal. Pada awal kariernya sebagai pengacara pun, konsep consent belum banyak didiskusikan. Ia juga menambahkan korban justru sering dihakimi soal pakaian yang mereka pakai saat kejadian, bahkan waktu dan tempat perkara bisa memunculkan bias yang memengaruhi persidangan.

Kultur menyalahkan korban didukung pula oleh mitos-mitos seputar kekerasan seksual. Seperti ketiadaan penolakan dan perlawanan jelas dianggap sebagai bentuk persetujuan. Persepsi yang secara luas diterima bahwa pria tidak bisa menahan hawa nafsunya sebaik perempuan sehingga perempuan yang harus pintar-pintar menjaga diri. Misalnya dengan tidak pergi sendirian, mengenakan pakaian terbuka, atau menggoda. Bahkan, ada anggapan yang mengeklaim sejumlah orang tertentu tidak mungkin jadi korban kekerasan seksual seperti pekerja seks dan pasangan intim.

Kalau kita perhatikan kasus Mendy dan lima atlet hoki Kanada punya kecenderungan ini. Para tersangka kompak berargumen kalau hubungan seks yang mereka lakukan dengan korban masing-masing bersifat konsensual. Mengingat kurangnya bukti yang bisa memberatkan mereka selain testimoni korban seperti tanda-tanda kekerasan atau video footage hakim pun memvonis tersangka bebas.

3. Jangan lupakan faktor ketimpangan relasi kuasa

Jangan lupakan adanya ketimpangan relasi kuasa dalam kasus-kasus di atas. Ketika korban hanya masyarakat biasa, tersangka dan pelaku adalah atlet elite yang punya nama, jejaring, dan sumber daya. Pada 2022, Hockey Canada (Timnas Hoki Kanada) bahkan mengakui kalau mereka sempat membayar sejumlah uang kepada puluhan korban yang mengaku jadi korban pelecehan seksual atlet-atlet yang terafiliasi dengan mereka.

Dukungan dari institusi tempat mereka bekerja masih didukung sumber daya pribadi mereka sebagai atlet dengan bayaran tinggi dan sponsor. Dengan sumber daya itu, merekrut perwakilan hukum terbaik bukanlah masalah. Ketimpangan relasi kuasa lain yang juga datang dari penggemar. Meski sebagian peduli, mayoritas audiens olahraga yang merupakan pria itu cenderung tak ambil pusing. Selama para atlet bisa membuktikan performa terbaik mereka di lapangan, sebagian suporter memilih pura-pura lupa atau masa bodoh. Argumen “innocent until proven guilty” juga sering dilontarkan.

Sebenarnya, kecenderungan pria permisif terhadap kasus pemerkosaan yang melibatkan sesamanya sudah sering diteliti. Kevin Swartout lewat publikasinya dalam jurnal Psychology of Violence berjudul ‘The Company They Keep: How Peer Networks Influence Male Sexual Aggression’, tekanan dalam pergaulan yang menganut maskulinitas toksik bisa jadi faktor. Ini bisa memengaruhi cara pria melihat konsep consent dan perlakuan agresif terhadap perempuan. Kreager dan Staff dalam jurnal Social Psychology Quarterly menyoroti standar ganda dalam masyarakat soal aktivitas seksual. Ada kecenderungan pria dianggap normal bahkan diglorifikasi bila melakukan kontak fisik/seksual dengan lawan jenis. Sebaliknya, perempuan justru dianggap buruk dan dihakimi bila melakukan hal serupa.

Pada akhirnya memang hanya penuntut dan tertuduh yang tahu fakta sebenarnya. Namun, tak bisa dimungkiri hasil persidangan kasus kekerasan seksual yang mencatut para atlet elite tadi punya kaitan erat dengan privilese yang mereka miliki. Bagaimana menurutmu?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Gagah N. Putra
EditorGagah N. Putra
Follow Us

Latest in Sport

See More