Sadik Algadri bedah buku Membangun Otot di Negeri Kertas. (Dok. Istimewa)
Sadik menilai perhatian terhadap olahraga di Indonesia masih belum sebanding dengan potensinya sebagai bagian dari pembangunan bangsa.
Ia menyoroti persoalan anggaran dan menilai olahraga masih lebih sering ditempatkan sebagai hiburan dibandingkan instrumen pembangunan.
"Padahal, di negeri-negeri lain, itu adalah tuntunan. Bahkan, olahraga dapat mengangkat martabat bangsa dan membangun peradaban," kata Sadik.
Sadik juga membandingkan perkembangan olahraga Indonesia dengan sejumlah negara Asia Tenggara, seperti Thailand, Vietnam, dan Malaysia. Dia mempertanyakan kondisi Indonesia ketika negara-negara yang sebelumnya banyak belajar dari Indonesia justru mampu berkembang lebih jauh.
"Kalau semuanya mau disebutkan, saya pikir dari diskusi ini Anda bisa menyimpulkan sendiri bahwa memang ada hal-hal tertentu yang harus diperbaiki. Kenapa kita kalah dari negara-negara Asia lainnya?" ungkap Sadik.
Pada akhirnya, buku 'Membangun Otot di Negeri Kertas' tidak berhenti sebagai karya yang mengkritisi persoalan olahraga Indonesia. Dia ingin buku tersebut mendorong perubahan sekaligus membuka keberanian untuk mengakui berbagai persoalan yang masih terjadi.