Membangun Otot di Negeri Kertas, Catatan Sadik Buat Olahraga Indonesia

- Mantan pejudo nasional Sadik Algadri meluncurkan buku “Membangun Otot di Negeri Kertas” di GBK, lahir dari kegelisahannya terhadap kondisi olahraga Indonesia selama penulisan lima hingga enam bulan.
- Sadik menyoroti aturan yang dinilainya berpotensi memengaruhi olahraga dan prinsip Piagam Olimpiade, sambil mendorong pemangku jabatan berani mengevaluasi serta memperbaiki persoalan.
- Melalui Asian Games 2018, Sadik menekankan olahraga sebagai instrumen pembangunan bangsa; ia juga mengkritik anggaran dan perhatian Indonesia yang tertinggal dari beberapa negara Asia Tenggara.
Jakarta, IDN Times - Mantan pejudo nasional Indonesia, Sadik Algadri, membedah buku karyanya berjudul Membangun Otot di Negeri Kertas di Gedung Serbaguna, Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Sabtu (5/9/2026).
Kegiatan tersebut turut dihadiri akademisi Rocky Gerung, wartawan senior olahraga Asro Kamal Rokan, serta Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Prof. Yunyun Yudiana.
Dalam kegiatan tersebut, Sadik mengungkapkan buku Membangun Otot di Negeri Kertas lahir dari kegelisahannya terhadap kondisi olahraga Indonesia. Proses penulisannya berlangsung sekitar lima hingga enam bulan.
1. Sadik soroti aturan yang dinilai berpotensi memengaruhi olahraga

Sadik Algadri bedah buku Membangun Otot di Negeri Kertas. (Dok. Istimewa) Sadik mengatakan salah satu hal yang melatarbelakangi penulisan buku tersebut adalah munculnya sebuah peraturan sebelum Presiden Prabowo Subianto dilantik pada 20 Oktober. Menurutnya, aturan tersebut berpotensi membahayakan olahraga dan berkaitan dengan prinsip yang tercantum dalam Piagam Olimpiade.
Kegelisahan tersebut kemudian dibahas bersama sejumlah pihak. Sadik sempat berupaya menyampaikan gagasannya melalui siniar. Namun, ia akhirnya memilih buku sebagai medium untuk menyampaikan pandangannya.
"Kemudian saya mencoba membuat podcast. Namun, mungkin tidak ada yang mau menerima podcast yang terlalu kritis. Akhirnya, kami berpikir, 'Sudah, kita buat buku saja,'" ujar Sadik dalam keterangannya.
Sadik tidak secara spesifik menyebut aturan yang menjadi salah satu pemicu kegelisahannya. Dia memilih menyampaikan pesan yang lebih luas mengenai pentingnya keberanian melakukan evaluasi dan perbaikan terhadap olahraga Indonesia.
"Kalau soal aturan itu, saya tidak akan menyebutkannya secara spesifik. Yang jelas, para pemangku jabatan harus menyadari bahwa olahraga itu bukan sekadar olahraga," ujar Sadik.
2. Sadik singgung peran olahraga dalam pembangunan bangsa

Sadik Algadri bedah buku Membangun Otot di Negeri Kertas. (Dok. Istimewa) Salah satu pembahasan yang disoroti Sadik dalam bukunya adalah peran ajang olahraga besar dalam menunjukkan perkembangan sebuah negara.
Dia menjadikan Asian Games 2018 di Indonesia sebagai salah satu titik awal untuk membahas bagaimana olahraga dapat menjadi instrumen pembangunan bangsa.
Menurutnya, ajang olahraga internasional dapat menjadi momentum untuk menunjukkan kebangkitan, keterbukaan, dan perkembangan sebuah negara kepada dunia.
"Kenapa saya mengatakan demikian? Jepang menyelenggarakan Olimpiade 1964 untuk menunjukkan bahwa mereka, meskipun kalah dalam perang, sudah menjadi negara yang siap dan mampu bangkit kembali," kata Sadik.
3. Soroti anggaran olahraga Indonesia

Sadik Algadri bedah buku Membangun Otot di Negeri Kertas. (Dok. Istimewa) Sadik menilai perhatian terhadap olahraga di Indonesia masih belum sebanding dengan potensinya sebagai bagian dari pembangunan bangsa.
Ia menyoroti persoalan anggaran dan menilai olahraga masih lebih sering ditempatkan sebagai hiburan dibandingkan instrumen pembangunan.
"Padahal, di negeri-negeri lain, itu adalah tuntunan. Bahkan, olahraga dapat mengangkat martabat bangsa dan membangun peradaban," kata Sadik.
Sadik juga membandingkan perkembangan olahraga Indonesia dengan sejumlah negara Asia Tenggara, seperti Thailand, Vietnam, dan Malaysia. Dia mempertanyakan kondisi Indonesia ketika negara-negara yang sebelumnya banyak belajar dari Indonesia justru mampu berkembang lebih jauh.
"Kalau semuanya mau disebutkan, saya pikir dari diskusi ini Anda bisa menyimpulkan sendiri bahwa memang ada hal-hal tertentu yang harus diperbaiki. Kenapa kita kalah dari negara-negara Asia lainnya?" ungkap Sadik.
Pada akhirnya, buku 'Membangun Otot di Negeri Kertas' tidak berhenti sebagai karya yang mengkritisi persoalan olahraga Indonesia. Dia ingin buku tersebut mendorong perubahan sekaligus membuka keberanian untuk mengakui berbagai persoalan yang masih terjadi.



















