Membedah Perubahan Ducati Desmosedici GP26

- Ducati mengoptimalkan air intake dan airbox untuk tambahan horsepower
- Peningkatan pada elemen sasis guna meminimalkan getaran motor
- Perbaikan ride height device sebelum dilarang penggunaannya di MotoGP 2027
Desmosedici GP26 menjadi andalan Ducati di MotoGP 2026. Sebanyak empat pembalap bakal menggunakan motor tersebut. Mereka adalah Marc Marquez, Francesco Bagnaia, Alex Marquez, dan Fabio Di Giannantonio.
Ducati membawa sejumlah peningkatan pada Desmosedici GP26. Itu dilakukan demi menjaga keunggulan mereka di kejuaraan. Davide Barana selaku direktur teknis Ducati Corse membeberkannya saat peluncuran livery dan skuad Ducati Lenovo Team pada 19 Januari 2025.
1. Ducati mengoptimalkan air intake dan airbox agar memberi tambahan horsepower pada mesin motor
Ducati menjadi satu-satunya pabrikan yang menduduki peringkat A dalam konsesi MotoGP pada titik pemeriksaan kedua periode 2025. Pabrikan yang berbasis di Borgo Panigale, Italia, itu meraup 768 poin di klasemen konstruktor. Itu setara dengan 94 persen dari total poin yang diperebutkan sepanjang musim lalu.
Ducati tak mendapat banyak keuntungan dari posisi mereka dalam konsesi. Mereka terkena engine freeze yang mengharuskan penggunaan desain mesin dari versi musim sebelumnya. Namun, itu bukan penghalang bagi Ducati untuk mencari solusi. Mesin tetap bisa mendapatkan sedikit tambahan horsepower dengan melakukan optimasi pada bagian air intake dan airbox.
Tak hanya itu, Ducati juga bekerja secara intensif untuk elemen sasis. Hal tersebut dilakukan guna meminimalisasi masalah getaran motor yang sempat muncul pada Desmosedici GP25. Ini untuk meningkatkan keunggulan Ducati terhadap pesaing mereka di kejuaraan.
"Memiliki dasar yang bagus tidaklah cukup. Itu karena pesaing kami sedang mendekat. Tujuan kami adalah meningkatkan performa motor untuk kembali memperlebar jarak," kata Davide Barana dilansir Speedweek.
2. Ducati juga melakukan peningkatan pada aspek aerodinamika guna meningkatkan performa motor
Aspek aerodinamika tak luput dari perhatian Ducati. Mereka melakukan peningkatan pada area tersebut sebagai respons terhadap langkah besar yang dilakukan Aprilia musim lalu. RS-GP 25 milik Aprilia terbukti memiliki performa oke berkat pengembangan aerodinamika. Itu membantu pabrikan tersebut bertengger di peringkat kedua dalam klasemen konstruktor.
Namun, pengembangan aerodinamika lebih lanjut bukan perkara mudah. Pabrikan perlu menemukan cara terbaik menyeimbangkan kelincahan dan performa motor. Ducati memilih fokus kepada performa, mengacu masukan yang sering disampaikan pembalap.
"Biasanya, pembalap selalu mengeluh mereka tidak memiliki cukup tenaga. Jika motornya terasa kurang lincah dan berat, maka mereka masih bisa tampil lebih cepat dengan itu. Pembalap menyukai hal-hal yang membuat mereka melaju lebih cepat di trek lurus. Kemudian, mereka bisa berkontribusi untuk hal lainnya," jelas Davide Barana dikutip Speedweek.
3. Ducati merevisi ride height device sebelum perangkat tersebut dilarang pada 2027
Ducati juga merevisi ride height device pada Desmosedici GP26. Mereka akan melakukan evolusi perangkat tersebut sebelum dilarang di MotoGP pada 2027. Walau begitu, Davide Barana tak mau menjelaskan secara perinci langkah revisi yang diambil Ducati.
"Prototipe pertama sistem ini yang kami bawa ke sirkuit balap hanya untuk permulaan. Hal ini akan diikuti dengan pengembangan lebih lanjut agar sistem ini dapat dipakai sepanjang musim. Tahun ini kami akan mengambil langkah lainnya, tetapi aku tak bisa memberitahunya secara perinci," ujar Davide Barana.
Peningkatan Ducati terhadap Desmosedici GP26 akan mendapatkan ujian sesungguhnya saat MotoGP 2026 bergulir. Sebelum itu, mereka masih punya kesempatan melakukan pengujian terhadap motor tersebut saat tes pramusim di Sepang, Malaysia, pada 3--5 Februari 2026 dan di Buriram, Thailand, pada 21--22 Februari 2026. Ducati bakal memanfaatkan itu untuk mendapat data penting terkait performa Desmosedici GP26.
Terlepas dari itu, usaha Ducati meningkatkan performa Desmosedici GP26 adalah sinyal kuat dari ambisi mereka di kejuaraan. Minimnya keuntungan yang didapat dari posisi konsesi tak menyurutkan langkah mencari cara menjaga dominasi. Akankah kedigdayaan Ducati kembali terjaga tahun ini? Mari kita lihat saja nanti!

















