Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
4 Poin Penting Surat Sakti UEFA, CONCACAF, dan AFC ke FIFA
Presiden Argentina, Javier Milei, memperhatikan Presiden FIFA, Gianni Infantino, berbicara dalam pertemuan perdana "Board of Peace" yang digelar oleh Presiden AS Donald Trump di US Institute of Peace, Washington DC, Kamis (19/2/2026). (Foto: AFP/Saul Loeb).
  • UEFA, CONCACAF, dan AFC mengirim surat terbuka yang mengkritik FIFA era Gianni Infantino atas rencana privatisasi sebagian aset komersial Piala Dunia.
  • Tiga konfederasi menilai proposal penjualan saham Piala Dunia diajukan terburu-buru tanpa konsultasi bermakna, sehingga membatasi pengawasan dan mencederai kepercayaan 211 asosiasi anggota.
  • Mereka menuntut investigasi independen pihak ketiga, pengamanan dokumen internal FIFA, serta menyoroti pertemuan tertutup pimpinan FIFA di Maroko yang dianggap minim keterbukaan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Presiden FIFA, Gianni Infantino, terus mendapat tekanan dari segala arah. UEFA, CONCACAF, dan AFC, menjadi oposisi yang paling vokal dalam menyikapi sikap kontroversial FIFA yang dianggap telah kehilangan marwahnya.

Mereka juga baru saja menelurkan surat terbuka yang isinya menguliti kebobrokan FIFA era Infantino, pada Senin (10/8/2026). Berikut adalah poin-poin krusial dari surat terbuka tiga konfederasi tersebut.

1. Sepak bola bukan aset pribadi untuk diperjualbelikan

Dalam suratnya, pada poin awal, ketiga konfederasi menegaskan kembali prinsip dasar sepak bola yang milik seluruh dunia. Olahraga ini bukan milik satu individu atau kelompok tertentu, melainkan milik para pemain, penggemar, klub, dan setiap asosiasi anggota yang menjaga masa depannya.

Mereka dengan tegas menolak gagasan FIFA yang mencoba memprivatisasi aset terbesarnya, yakni Piala Dunia. Mereka juga menepis tudingan FIFA kalau menolak rencana ini berpotensi mengurangi bantuan finansial untuk negara berkembang. Justru, konfederasi telah lama mendesak FIFA agar mendistribusikan cadangan kas raksasanya secara bertanggung jawab, tanpa harus menjual jiwa sepak bola ke pihak swasta.

"Ini bukan tentang uang, ini tentang sesuatu yang lebih mendasar: integritas permainan dan integritas mereka yang terpilih untuk memimpinnya," bunyi petikan surat tersebut.

2. FIFA gagal paham dan coba kelabui anggota

Surat tersebut juga merespons klaim FIFA baru-baru ini yang menyebut kontroversi privatisasi ini hanya sebatas kesalahan komunikasi. Ketiga konfederasi menganggap dalih FIFA merendahkan akal sehat, karena yang terjadi sebenarnya adalah kegagalan penilaian.

Mereka menyesalkan sikap petinggi FIFA yang enggan mengakui kalau ide menjual saham Piala Dunia adalah sebuah kesalahan. Tindakan tersebut dinilai mencederai kepercayaan terhadap 211 asosiasi sepak bola di bawah naungannya.

"Sebuah proposal yang diajukan dengan tenggat waktu sempit, tanpa konsultasi bermakna, sebelum anggota dapat meninjaunya secara layak, bukanlah hasil dari kekhilafan. Itu adalah produk desain yang sengaja dimaksudkan untuk membatasi pengawasan," bunyi petikan surat tersebut.

3. Tuntut investigasi pihak ketiga yang independen

Ketiga konfederasi ini juga merasa skeptis terkait janji FIFA yang akan menyerahkan laporan penuh skandal rencana penjualan sebagian hak komersil Piala Dunia kepada Dewan FIFA. Mereka menolak mentah-mentah ide tersebut karena menganggap FIFA tidak akan bisa bertindak objektif apabila memeriksa kesalahannya sendiri.

Sesuai dengan instruksi UEFA sebelumnya, mereka juga mewanti-wanti agar semua dokumen dan catatan komunikasi internal FIFA terkait privatisasi ini tidak dimusnahkan. Hal ini penting untuk mengamankan barang bukti jika investigasi resmi jadi dilakukan.

"Tata kelola yang baik di tengah kurangnya penilaian mendalam akan menuntut tinjauan semacam itu dilakukan oleh pihak ketiga, dengan status independen," bunyi petikan surat tersebut.

4. Soroti pertemuan tertutup di Maroko yang mencurigakan

Poin terakhir yang disoroti adalah adanya pertemuan pimpinan FIFA yang digelar secara eksklusif dan tertutup di Maroko. Mereka mengeklaim pertemuan itu tidak mengundang anggota Dewan FIFA atau asosiasi sepak bola, melainkan hanya dihadiri oleh segelintir pejabat senior FIFA.

"Itu bukanlah perilaku seorang penjaga permainan. Melainkan, seseorang yang merasa bahwa permainan ini harus bertanggung jawab kepadanya. Ada keheningan ketika seharusnya ada pertanggungjawaban, ada jarak ketika seharusnya ada keterbukaan. Itu bukanlah kualitas yang layak dimiliki oleh pemimpin sepak bola. Karena itulah kami mengambil sikap ini: bukan dengan mudah dan bukan sendirian, melainkan bersama-sama dan atas dasar tanggung jawab terhadap permainan yang kami layani," bunyi petikan surat tersebut.

Curated For You

Editorial Team

Related Article