Helenio Herrera boleh dibilang sebagai salah satu pelatih terbaik sepanjang masa. Soalnya, Herrera ini pria yang paling taktikal dalam permainan sepak bola.
Lahir di Argentina dari orangtua asal Spanyol, dia lantas menjadi warga negara Prancis yang kemudian dinaturalisasi oleh Italia. Saat masih melatih di La Liga Spanyol, Herrera berhasil memberi dua gelar juara kepada Atletico Madrid. Pindah ke Barcelona, dia lagi-lagi sukses memberi dua gelar juara La Liga.
Tapi, status legendarisnya tidak datang dari dua klub tadi. Adalah Inter Milan yang menjadikannya pelatih super. Tiba di Italia pada tahun 1960, dia menangani sebuah klub raksasa compang-camping yang belum pernah memenangkan satu pun gelar juara Serie A dalam enam tahun terakhir.
Dengan metode kepelatihannya yang menuntut fisik prima, taktik sempurna dan disiplin yang tinggi, Helenio Herrera akan mengubah Inter Milan dari raksasa yang compang-camping gelar, menjadi salah satu raksasa yang paling disegani di dunia.
Betapa tidak, klub yang dilatihnya menjadi sebuah klub yang brutal dalam arti sebenarnya. Dalam mengejar kemenangan, para pemain Inter Milan tak ragu untuk menerapkan permainan negatif yang keras cenderung kasar. Dengan kata lain, skema permainan yang defensif.
Pada era 1960-an itu, Inter Milan menguasai dunia sepak bola dengan tiga gelar juara Serie A, dua Piala Intercontinental dan dua Piala Eropa (sekarang Liga Champions). Timnya lantas dijuluki Grande Inter.
Gaya permainan yang diterapkan Helenio Herrera di Inter Milan lantas disebut sebagai Catenaccio. Dalam bahasa Indonesia, catenaccio artinya kunci atau sering disebut grendel. Timnas Italia pun dengan segera mengadopsi skema catenaccio hingga sukses memenangkan Piala Dunia 1982. Gaya bermain taktikal serta defensif itu lantas menjadi ciri khas klub-klub Serie A bahkan hingga saat ini.