Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Alexander Sorloth dan Fenomena Parasosial dalam Olahraga
ilustrasi pertandingan sepak bola (Pexels.com/Vlad Vasnetsov)
  • Alexander Sorloth jadi sasaran hujatan usai laga Norwegia vs Inggris di Piala Dunia 2026, mencerminkan relasi parasosial negatif antara atlet dan penggemar yang sering berujung pada asumsi serta penilaian sepihak.
  • Fenomena agresi verbal dalam olahraga muncul sebagai bentuk pelampiasan frustrasi fans, di mana komunikasi menyerang harga diri atlet dianggap cara menyalurkan kekecewaan atas hasil pertandingan.
  • Konsep deindividuasi menjelaskan bagaimana massa kehilangan kesadaran individu saat menghujat di media sosial, merasa aman dalam anonimitas dan memperkuat perilaku mob mentality terhadap figur publik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Alexander Sorloth jadi bulan-bulanan penonton karena dianggap terlalu egois di lapangan. Ia dihujat dan disalahkan ketika memutuskan tidak mengoper bola ke rekan terdekatnya, Erling Haaland ketika Norwegia menghadapi Inggris pada babak 8 besar Piala Dunia 2026. Media sosialnya dibanjiri cemooh, bahkan ancaman pembunuhan.

Sorloth bukan yang pertama. Hampir 3 dekade lalu, David Beckham pernah dapat status national scapegoat gara-gara diganjar kartu merah pada laga krusial melawan Argentina pada babak 16 besar Piala Dunia 1998. Kartu itu ia dapat setelah marah ketika Diego Simeone, pemain lawan yang melanggarnya memintanya untuk segera bangun. Pertengkaran tak terelakkan dan wasit menghadiahi keduanya kartu. Inggris harus bermain dengan 10 pemain dan akhirnya kalah. Beckham dicecar penggemar dan media, bahkan pasangannya, Victoria Adams yang juga figur publik ikut terseret.

Mengapa penggemar bisa sebrutal ini? Konsep sosial apa yang bisa menjelaskan fenomena ini? Mari ulik lebih jauh.

1. Kasus Sorloth adalah cerminan relasi parasosial dalam olahraga

Relasi parasosial bisa dipakai menjelaskan fenomena yang menimpa Sorloth dan Beckham. Diperkenalkan pertama kali oleh Donald Horton dan R. Richard Wohl pada 1956 lewat jurnal Psychiatry dengan judul ‘Mass Communication and Para-Social Interaction: Observations on Intimacy at a Distance’, relasi parasosial merujuk pada sebuah relasi satu arah, tidak dialektikal, dan tidak ada imbal balik. Biasanya ini terjadi antara sesosok persona dengan audiens, seperti atlet, aktor, musisi, atau selebriti dengan penggemarnya. Relasi macam ini pertama kali muncul sejak televisi ditemukan dan tokoh-tokoh baru muncul, dipandang sebagai idola atau panutan. Sekarang, tak hanya televisi yang menciptakan persona-persona tadi, tetapi juga internet. Tak pelak, kini popularitas seseorang bisa dinilai dari jumlah pengikut mereka di media sosial.

Dalam skena olahraga, relasi parasosial yang terbentuk agak beda. Periset asal University of Tilburg, Mingyi Hou mengatakan perbedaan ini terbentuk karena industri olahraga secara terang-terangan dibangun melalui struktur kompetisi. Dalam industri hiburan biasa, kompetisi memang ada, tetapi tidak sejelas olahraga. Ketika ada fandom (basis penggemar), muncul pula kelompok saingannya, yakni antifandom. Keberedaan antifandom inilah yang menciptakan relasi parasosial negatif. Contoh paling nyata adalah penggemar Cristiano Ronaldo yang kerap (tidak selalu) mengidentifikasi sebagai pembenci rivalnya, Lionel Messi. Berlaku pula sebaliknya.

Khusus kasus Sorloth di Piala Dunia 2026, pola serupa Ronaldo vs Messi juga tampak. Coba perhatikan narasi yang beredar soal Alexander Sorloth. Pertama, ia dianggap egois karena tidak rela mengoper bola ke rekan setimnya, Erling Halaand. Padahal posisi rekannya itu lebih bebas dan strategis untuk membuat tembakan ke gawang. Narasi ini kemudian melebar dengan asumsi liar lain, yakni Sorloth iri akan kesuksesan Halaand, berharap dirinya yang kali ini dapat sorotan. Asumsi-asumsi tak berdasar ini dengan mudahnya disampaikan penonton seolah mereka tahu apa yang ada di benak Sorloth dan punya kontrol atas situasi di lapangan.

2. Agresi verbal cukup umum ditemukan di olahraga

Hou juga menyebut, relasi parasosial negatif ini kerap termanifestasi dalam bentuk agresi verbal, yaitu tipe komunikasi yang bertujuan menyerang harga diri seseorang. Kalau merujuk tulisan Rocca, & Vogl‐Bauer dalam jurnal Communication Research Reports yang meneliti tingkat agresi penggemar olahraga, agresi verbal berfungsi sebagai mekanisme bertahan ketika seseorang tidak bisa mengungkapkan opininya secara kompeten. Meski riset mereka gagal membuktikan bahwa fans olahraga punya kecenderungan melakukan agresi verbal, kasus Sorloth bisa dijelaskan memakai konsep agresi verbal tersebut. Ketika seseorang frutrasi, strategi komunikasi agresif pun jadi jalan ninja.

Kecenderungan ini bisa ditemukan dalam kasus Sorloth. Cuplikan video mungkin bisa jadi bensin kebencian dan pengingat pil pahit yang harus ditelan Norwegia dan pendukungnya. Tapi, realitasnya tidak ada yang bisa dilakukan untuk mengubah situasi. Norwegia tetap kalah dari Inggris dan gagal melaju ke semifinal Piala Dunia 2026. Untuk meluapkan rasa frustrasi tersebut, Sorloth pun jadi sasaran empuk untuk disalahkan dan dihujat. Begitu pula dengan David Beckham pada 1998. Bedanya, saat itu Beckham mungkin hanya mendengar hujatan dari televisi dan koran.

3. Bisa juga dijelaskan lewat konsep deindividuasi dan mob mentality

Konsep lain yang menarik dan berkaitan dengan kasus Sorloth adalah deindividuasi. Bila merujuk definisi yang dirilis EBSCO, deindividuasi adalah fenomena yang kerap terjadi pada seseorang setelah ia masuk dalam sebuah kelompok, kemudian kehilangan self-awareness atau kesadaran individu. Ketika seseorang masuk dalam tahap ini, mereka bisa melakukan apa saja yang dianggap normal dalam kelompok tersebut dan mengabaikan kompas moral individu mereka, istilahnya mob mentality. Dalam tahap ini, hal-hal yang melanggar norma, seperti menghujat, merusuh, dan lainnya bisa dilakukan tanpa rasa bersalah karena seseorang akan merasa terlindungi. Bagaimana tidak ada anggapan bahwa dalam gerombolan, seseorang akan lebih sulit diidentifikasi alias dapat status anonim.

Seperti para penghujat Sorloth yang melihat komentar jahat mereka di media sosial hanya satu dari ribuan komentar serupa. Apalagi, dalam konteks media sosial, tidak ada interaksi langsung. Mereka punya kebebasan untuk menyembunyikan apa saja yang mencerminkan identitas individu mereka, baik wajah, ekspresi, dan nama asli. Semua terasa mudah dan aman.

Alexander Sorloth tak akan jadi yang terakhir. Melihat polanya dan penggunaan media sosial yang tampaknya sulit dihindari, kasus-kasus macam ini akan terus berulang. Fatalnya, kita tak pernah tahu seberapa besar dampak kerusakan dari hujatan itu terhadap mental seseorang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article