Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Analisis El Clasico pada Paruh Pertama LaLiga 2026/2027
potret Spotify Camp Nou Stadium, markas FC Barcelona (unsplash.com/Christian García)
  • Real Madrid mengalahkan Barcelona 2-1 di Camp Nou lewat dua gol Kylian Mbappe, memutus sembilan kemenangan beruntun tuan rumah dan memangkas selisih puncak klasemen menjadi tiga poin.
  • Barcelona menguasai bola 62 persen, tetapi Madrid lebih efektif dengan xG 1,95 berbanding 1,19; skema man-to-man Mourinho membatasi kreativitas lini tengah Blaugrana.
  • Krisis bek dan kesalahan transisi memperparah pertahanan Barcelona, sementara Mbappe mencapai 100 gol dalam 116 penampilan bersama Madrid serta delapan gol dari tujuh El Clasico.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Real Madrid memupus rekor sempurna FC Barcelona lewat kemenangan 2-1 di Camp Nou pada jornada ke-10 LaLiga Spanyol, Minggu (25/10/2026) malam. Kylian Mbappe menjadi aktor utama lewat dua gol pada menit ke-41 dan menit ke-87. Hasil ini menggagalkan ambisi Barcelona memecahkan rekor start terbaik LaLiga yang dipegang Real Madrid sejak 1968/1969.

Sebelum laga, skuad Hansi Flick mengantongi 9 kemenangan beruntun dengan keunggulan 6 poin di puncak klasemen. Taktik Jose Mourinho kemudian sukses meredam tuan rumah yang mendominasi jalannya pertandingan. Kemenangan ini memangkas jarak Los Blancos dengan Blaugrana menjadi tiga poin sekaligus membuka kembali peta persaingan gelar juara liga musim ini.

1. Meski FC Barcelona mendominasi laga, Real Madrid menang berkat efisiensi peluang

Gol pembuka laga lahir pada menit ke-41 lewat situasi yang tak terduga. Sapuan bola Gerard Martin yang mencoba menghalau umpan Yan Diomande malah membentur Kylian Mbappe dan mengecoh kiper, Joan Garcia. Keunggulan Real Madrid bertahan hingga turun minum, meski Barcelona punya peluang emas lewat sepakan jarak dekat Lamine Yamal yang melebar tipis di tiang dekat.

Barcelona tak butuh waktu lama untuk menyamakan kedudukan pada babak kedua. Raphinha menuntaskan umpan matang Pedri Gonzalez pada menit ke-61, sehingga skor berubah imbang 1-1. Momentum sempat berpihak kepada tuan rumah, bahkan kiper Real Madrid, Andriy Lunin, harus berjibaku menepis berbagai ancaman lini depan Blaugrana.

Namun, laga berubah arah 7 menit sebelum peluit tanda berakhirnya pertandingan dibunyikan. Eduardo Camavinga yang baru masuk menggantikan Bernardo Silva menerima umpan dari Arda Guler, lalu mengirim umpan silang ke kotak penalti. Mbappe yang lolos dari kawalan merangsek dan menjebloskan bola ke gawang untuk memastikan tiga poin bagi timnya.

Catatan statistik pertandingan menyajikan ironi tersendiri bagi Barcelona. Menurut Opta Analyst, tim besutan Hansi Flick unggul penguasaan bola 62 persen berbanding 38 persen, tetapi kalah expected goals (xG) dengan selisih 1,19 berbanding 1,95. Fakta ini membuktikan, Real Madrid tampil jauh lebih efisien dengan memanfaatkan tiap peluang yang mereka dapatkan sepanjang laga.

2. Real Madrid sukses mengunci serangan FC Barcelona berkat skema man-to-man marking

Perubahan skema permainan menjadi salah satu faktor penentu kemenangan Real Madrid. Jose Mourinho meninggalkan pakem 4-4-2 ketika menyerang, lalu beralih ke formasi bertahan 4-2-3-1 dengan penjagaan ketat 1 lawan 1. Jude Bellingham ditugaskan mengawal Rodri, Bernardo Silva menempel Pedri, sementara Aurelien Tchouameni meredam pergerakan Fermin Lopez sepanjang pertandingan.

Skema tersebut membuat lini tengah Barcelona kesulitan mengatur tempo permainan seperti biasanya. Dua bek tengah Real Madrid, Dean Huijsen dan Ibrahima Konate, dalam beberapa momen keluar jauh dari posisi asli demi mengejar lawan hingga area pertahanan Barcelona. Pendekatan agresif ini membutuhkan kepercayaan penuh dari seluruh starting XI dan malam itu seluruh pemain Real Madrid menjalankan instruksi sang pelatih dengan disiplin.

Ketajaman Kylian Mbappe tak bisa dikesampingkan dari kemenangan ini. Dilansir The Athletic, brace itu membuat golnya bersama Real Madrid genap 100 gol dalam 116 penampilan sejak bergabung pada 2024. Kapten Timnas Prancis ini kini mengoleksi 8 gol dari 7 laga El Clasico, terbanyak oleh pemain Real Madrid sejak 2013/2014, melampaui raihan Cristiano Ronaldo dan Karim Benzema yang masing-masing hanya 4 gol.

Kemenangan ini memperpanjang rekor tak terkalahkan Mourinho di El Clasico menjadi 6 pertandingan beruntun dengan perincian 4 kemenangan dan 2 keimbangan. Pelatih asal Portugal ini menyebut para pemainnya tampil luar biasa dan berani bermain dari lini belakang kendati menghadapi tekanan bertubi-tubi dari Barcelona. Ia menambahkan, timnya tampil tenang dan penuh perhitungan hingga peluit tanda berakhirnya pertandingan dibunyikan.

3. Lini pertahanan jadi problem serius yang harus segera diperbaiki FC Barcelona

Lini pertahanan masih menjadi masalah utama yang dihadapi FC Barcelona, salah satunya akibat krisis cedera para pemain bertahan. Hansi Flick kehilangan Eric Garcia, Andreas Christensen, dan Jules Kounde yang absen total, ditambah Xavi Espart yang ditarik keluar sekitar menit ke-30 karena cedera. Kondisi ini memaksa Alejandro Balde tampil menggantikan posisi yang bukan miliknya, sehingga lini belakang Blaugrana kehilangan kekokohan seperti biasanya.

Kegagalan Lamine Yamal tampil sesuai ekspektasi menjadi sorotan tajam usai laga. Sebelum kick-off, pemain 19 tahun ini melontarkan pernyataan percaya diri soal duel 1 lawan 1 melawan Marc Cucurella, tetapi sepanjang 90 menit gagal menciptakan peluang matang bagi rekan setimnya. Yamal melepaskan 5 tembakan dengan xG tertinggi di timnya sebesar 0,51, tetapi tak satu pun berbuah gol, termasuk kesempatan emas dari jarak dekat yang disia-siakan jelang turun minum.

Kesalahan di lini belakang pada momen-momen krusial juga tak bisa diabaikan. Kedua gol yang bersarang ke gawang Barcelona lahir dari situasi transisi, mulai dari kesalahan antisipasi bola sapuan hingga kebobolan saat tim tengah menekan pertahanan lawan. Flick mengakui timnya kerap mengulang kesalahan serupa, yakni terlalu dekat dengan tekanan lawan sebelum akhirnya kebobolan lewat serangan balik cepat.

Kekalahan ini memangkas keunggulan Barcelona di puncak klasemen dari 6 poin menjadi 3 poin atas Real Madrid yang kini menempati posisi ketiga. Raphinha yang mencetak gol penyama kedudukan harus menelan kenyataan pahit lainnya, sebab namanya tak masuk daftar 30 nominasi Ballon d'Or meski telah mengoleksi 13 gol di LaLiga musim ini. Barcelona kini harus segera bangkit menghadapi Deportivo Alaves pada 31 Oktober mendatang sebelum bertemu Atletico Madrid pada 8 November.

Kemenangan ini jadi modal berharga Real Madrid untuk terus memburu FC Barcelona di papan atas klasemen LaLiga 2026/2027. Sementara, bagi Barcelona, kekalahan perdana musim ini menjadi alarm agar segera membenahi lini pertahanan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article