Apakah Jeremy Jacquet Solusi Krisis Pertahanan Liverpool?

- Jeremy Jacquet adalah bek tengah modern yang agresif dan memiliki kualitas build-up yang relevan dengan kebutuhan Liverpool.
- Jacquet akan diduetkan dengan Virgil van Dijk selama fase adaptasi, bukan solusi instan untuk krisis pertahanan Liverpool.
- Kegagalan merekrut Marc Guehi membuat Liverpool menggeser pendekatan rekrutmen menjadi lebih jangka panjang, termasuk dalam pembelian Jeremy Jacquet.
Liverpool resmi mendatangkan Jeremy Jacquet dari Stade Rennais dengan nilai transfer 55 juta pound sterling, atau setara Rp1,262 triliun, sebagai jawaban atas krisis lini pertahanan. Bek tengah berusia 20 tahun ini bakal bergabung pada musim panas 2026 dengan kontrak hingga 2031, disertai opsi perpanjangan 1 tahun. Perekrutan ini dilakukan di tengah situasi lini belakang The Reds yang rapuh akibat cedera, penurunan performa, serta ketidakpastian masa depan beberapa pemain kunci.
Langkah Liverpool menggaet Jacquet juga merupakan solusi usai gagal mendatangkan Marc Guehi yang memilih merapat ke Manchester City. Dengan banderol tinggi dan status Jacquet yang belum matang sepenuhnya, muncul pertanyaan apakah transfer ini merupakan bentuk panic buying atau justru bagian dari kalkulasi jangka panjang klub. Untuk menjawabnya, peran Jacquet perlu dibedah dari kontribusi, solusi struktural, dan simbol arah rekrutmen Liverpool ke depan.
1. Jeremy Jacques dinilai memilki atribut sebagai bek tengah modern
Jeremy Jacquet tampil sebagai prototipe bek modern yang mengedepankan agresivitas dan kontrol ruang dalam sistem pertahanan garis tinggi. Punya tinggi badan 188 sentimeter dan kecepatan yang mumpuni, Jacquet mampu menjaga ruang luas di belakang garis pertahanan tinggi yang menjadi kebutuhan utama dalam struktur permainan Liverpool di bawah Arne Slot. Menurut data The Standard pada 2025/2026 di Ligue 1 Prancis, Jacquet mencatatkan persentase kemenangan duel udara sebesar 75,51 persen, tertinggi di antara para bek liga, yang menunjukkan kombinasi timing, fisik, dan pembacaan situasi.
Gaya bertahan Jacquet cenderung proaktif dan agresif, di mana ia aktif melangkah keluar dari garis pertahanan untuk memotong jalur progresi lawan. Keberaniannya ini memberi keuntungan ketika serangan lawan bisa lebih dulu dipotong dan transisi cepat, tetapi juga membawa risiko ketika keputusan diambil terlambat atau tanpa cover yang memadai. Data BBC menunjukkan, Jacquet melakukan tiga kesalahan yang berujung pada tembakan lawan, angka yang menempatkannya di antara bek dengan eror terbanyak di Ligue 1, sekaligus mengarisbawahi agresivitasnya yang perlu diasah sesuai situasi laga.
Dalam fase penguasaan bola, Jacquet menawarkan kualitas build-up yang relevan dengan kebutuhan Liverpool. Ia mampu melepaskan umpan pemecah garis, melakukan switch play ke sisi sayap, serta membawa bola keluar dari tekanan di area half-space kanan. Kepercayaan diri ini berakar dari latar belakangnya sebagai mantan gelandang di level usia muda, yang membentuk pemahaman posisi dan ketenangan saat menguasai bola di area berisiko.
Kombinasi atribut tersebut menempatkan Jacquet bukan sebagai bek reaktif yang menunggu situasi, melainkan bek struktural yang aktif memengaruhi fase awal serangan. Ia tidak hanya berfungsi sebagai penghenti, tetapi juga sebagai penghubung antara lini belakang dan lini tengah. Dalam konteks ini, Jacquet lebih tepat diinterpretasikan sebagai elemen sistem, bukan sekadar pelapis pertahanan.
2. Jeremy Jacques bakal diduetkan dengan Virgil van Dijk selama fase awal adaptasi
Krisis pertahanan Liverpool pada 2025/2026 tidak bersifat tunggal, tetapi akumulasi dari berbagai faktor struktural. Per pekan ke-24 English Premier League (EPL), The Reds telah kebobolan 33 gol, sementara Virgil van Dijk telah berusia 34 tahun dan situasi kontrak Ibrahima Konate belum menemui kejelasan. Di sisi lain, Giovanni Leoni harus menepi akibat cedera anterior cruciate ligament (ACL), dan Joe Gomez masih bergulat dengan masalah kebugaran.
Dengan kondisi tersebut, Jeremy Jacquet tidak diproyeksikan sebagai solusi instan, melainkan bagian dari transisi bertahap. Fakta bahwa Liverpool bersedia menunggu hingga musim panas, kendati mengalami krisis personel, menunjukkan jika klub tidak melihat Jacquet sebagai opsi reaktif jangka pendek. Rennes juga menolak melepas sang pemain pada Januari 2026, sehingga Jacquet tetap menjadi starter reguler demi keberlanjutan menit bermain dan perkembangan performa.
Secara skematis, Jacquet berpotensi dipasangkan dengan Van Dijk dalam fase awal adaptasi, ketika pengalaman dan kontrol ruang bek senior dapat menutup risiko agresivitas Jacquet. Alternatif lain muncul dalam jangka menengah, ketika Jacquet diproyeksikan berduet dengan Leoni sebagai pilar baru lini belakang Liverpool. Dalam kedua skenario tersebut, Jacquet lebih mungkin mengisi peran bek tengah kanan yang agresif, sementara pasangannya berfungsi sebagai stabilisator.
Adaptasi dari Ligue 1 ke Premier League tetap menjadi tantangan tersendiri. Intensitas duel, tempo transisi, dan tekanan publik di Inggris berada pada level yang lebih tinggi, sebagaimana dialami Leny Yoro dan Abdukodir Khusanov dalam masa awal mereka. Namun, dominasi duel Jacquet di Prancis serta kemampuannya membaca ruang memberi dasar yang cukup kuat untuk proses adaptasi, meski inkonsistensi keputusan masih akan menjadi bagian dari pembelajaran.
3. Jeremy Jacquet hadir usai Liverpool gagal merekrut Marc Guehi, tetapi bukan bentuk panic buying
Kegagalan Liverpool merekrut Marc Guehi pada bursa transfer sebelumnya musim panas 2025 menjadi latar penting dalam membaca transfer Jeremy Jacquet. Guehi dipandang sebagai bek siap tempur dengan pengalaman Premier League, sementara Jacquet datang sebagai aset transformasi dengan potensi jangka panjang. Perbedaan profil ini menunjukkan, Liverpool bukan hanya mengganti target, melainkan juga menggeser pendekatan rekrutmen.
Liverpool menilai, Jacquet lebih cocok dalam model jangka panjang klub, meski harus membayar biaya yang tidak jauh berbeda. Pada usia 20 tahun, Jacquet telah mencatatkan 36 penampilan Ligue 1 dan tampil di berbagai level tim nasional junior Prancis, termasuk sebagai kapten. Perkembangan ini menjadi dasar keyakinan Liverpool bahwa investasi besar tersebut memiliki ruang pertumbuhan yang sebanding dengan risikonya.
Pola ini juga selaras dengan strategi akumulasi aset bek muda yang dilakukan Liverpool dalam 6 bulan terakhir. Selain Jacquet, klub telah merekrut Giovanni Leoni, Noah Adekoya, Mor Talla Ndiaye, dan Ifeanyi Ndukwe, yang menunjukkan pendekatan regenerasi ketimbang reaksi pasar jangka pendek. Dalam kerangka ini, Jacquet bukan pengecualian, melainkan bagian paling mahal dari strategi yang konsisten.
Harga 55 juta pound sterling memang menempatkan Jacquet sebagai salah satu bek muda termahal di Eropa. Tapi, Liverpool berada dalam kondisi finansial yang memungkinkan risiko tersebut. Dilansir The Athletic, dengan pendapatan klub mencapai 702 juta pound sterling (Rp16,116 triliun) dan rasio gaji terhadap pendapatan berada di angka 60 persen, transfer ini tetap berada dalam batas rasional. Oleh sebab itu, pembelian Jacquet lebih tepat dibaca sebagai risiko terukur, bukan respons emosional akibat kegagalan sebelumnya.
Jeremy Jacquet pada akhirnya merupakan taruhan besar yang mencerminkan arah baru Liverpool dalam membangun ulang lini pertahanan. Ia bukan solusi instan, tetapi representasi kalkulasi jangka panjang yang selaras dengan kebutuhan struktural dan filosofi rekrutmen klub.

















